Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Menengok Makam Mbah Syafii, Kerap jadi Jujukan Peziarah Luar Jawa

Salah seorang peziarah berdoa di makam Mbah Syafii, komplek Ponpes Salafi Dondong, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang.

 

MAKAM Mbah Syafii atau Kiai Syafii Pijoro Negoro bin Kiai Guru Muhammad Sulaiman Singonegoro, merupakan pendiri Ponpes Salafi Luhur Dondong, Wonosari, Ngaliyan Semarang. Yang mana Ponpes tersebut berdiri pada 1609, dan konon tertua di Jawa Tengah.
Menurut cerita dari keluarganya, Kiai Syafii adalah pejuang Kerajaan Mataram. Dia komandan pasukan Sultan Agung yang menyerang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia pada 1629. Dalam perjalanannya, Kiai Syafii singgah dan kemudian bermukim di tempat yang sekarang bernama Kampung Dondong di Ngaliyan. Dulu Kiai Syafii hanya mendirikan padepokan di kampung tersebut, namun semakin lama padepokan tersebut semakin berkembang hingga memiliki ratusan santri dari berbagai daerah.

Kini, meski masih berdiri santri di pondok pesantren tersebut memang tak lagi banyak. Namun kharisma Kiai Syafii hingga kini masih terjaga, sehingga di hari-hari tertentu banyak peziarah yang mendatangi makamnya. Tak hanya dari wilayah Jawa Tengah, para peziarah juga datng dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya Sumatra.

Saat halosemarang.id berkunjung ke makam Kiai Syafii, yang berada di sebelah Mushala Abu Darda’, suasananya memang terasa tenang. Meski saat itu masih ada proses pembangunan mushala dengan dibantu warga sekitar dan para donatur. Mushala Abu Darba’ sendiri, sejarahnya pernah dijadikan markas gerilyawan pasukan Pangeran Diponegoro masa perang kemerdekaan Indonesia.

Dalam tahap pembenaban mushala ini, makam pendiri pondok sekaligus pemuka agama yang babad alas daerah Mangkang itu pun juga ikut ada pembenahan.

Di sekitar makam, ada beberapa peziarah yang terlihat sedang berdoa dengan khusuk di makam Kiai Syafii. Makam tersebut memang dibuka untuk umum bagi warga yang ingin berziarah.

“Banyak yang datang ziarah ke makam, di antaranya beberapa kiai besar di Indonesia. Dulu katanya mereka pernah nyantri di sini,” terang Jadid, warga sekitar.

Peziarah dari luar kota, biasanya datang berombongan menggunakan mobil atau bus. Makam, katanya, akan ramai peziarah pada waktu-waktu tertentu, seperti 1 Muharram atau hari besar Islam lain.

“Adapun di antara kiai yang pernah menjadi santri yaitu Mbah Sholeh Darat. Beberapa alumnus lain di Pondok Dondong adalah Kiai Mas’ud, pengasuh pesantren Darul Amanah Sukorejo alumni sekitar tahun 1970-an. Ada juga Kiai Zamhari pengasuh pesantren Darunnajah Bogor,” terang Pengasuh Ponpes Luhur Dondong, Tubagus Mansur (Gus Toba).

Diceritakannya, sepeninggal Kiai Syafii yang wafat pada 1711 masehi, pengurus pesantren digantikan menantunya Kiai Abu Darda dari Jekulo Undaan Kudus. Abu Darda merupakan suami dari Nyai Rogoniah binti Kiai Syafi’i. Setelah Kiai Abu Darda wafat, pengasuh digantikan menantunya Kiai Abdullah Buiqin bin Umar dari penanggulan Santren Kendal. Abdullah Buiqin merupakan suami dari Nyai Natijah binti Kiai Abu Darda.

Sepeninggal Kiai Abdullah Buiqin yang wafat, Pesantren Dondong dipimpin Kiai Asy’ari bin Basuki yang merupakan suami Nyai Masruhah cucu dari Nyai Aisyah binti Kiai Abu Darda.

Kiai Asy’ari kemudian wafat dan digantikan oleh kiai Masqom bin Kiai Ahmad bin Kiai Abdullah Buiqin. Selanjutnya, Kiai Masqan wafat dan digantikan adiknya Kiai Akhfadzul Athfal. Paska itu pengasuh pesantren digantikan menantunya, yakni Kiai Ma’mun Abdul Aziz dari Ngebruk Mangkang. Kiai Ma’mun adalah suami dari Nyai Dalimatun binti Kiai Akhfadzul Athfal.

Daerah Kelurahan Wonosari belakangan kerap diterpa banjir bandang. Banjir ini diakibatkan daerah atas Kecamatan Ngaliyan banyak dibangun pabrik dan perumahan sehingga volume air di Kali Beringin menjadi sangat besar dan deras.

Puncaknya pada november 2010, banjir bandang terjadi sehingga beberapa bangunan inti pesantren roboh. Gus Toba menyebut ada tiga korban balita yang meninggal dunia akibat rumah mereka diterjang banjir.

”Sejak itu, pesantren mengalami kemunduran. Ada beberapa bangunan inti yang roboh karena banjir dan juga kamar-kamar santri terendam air. Akibatnya santri banyak yang boyongan. Kantor pesantren yang menyimpan banyak arsip juga tak luput dari tejangan banjir,” tuturnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang