in

Menengok Kembali Candi Duduhan di Mijen, yang Diperkirakan Ada Sejak Abad ke-7 Sebelum Candi Prambanan

Tim gabungan dari Pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Balai Arkeolog Jogja saat tengah melakukan penggalian eskavasi terhadap temuan berup candi di Desa Duduhan, Kecamatan Mijen tahun 2018 lalu.

 

KOTA SEMARANG merupakan salah satu wilayah yang memiliki keterkaitan dengan penyebaran agama Hindu-Budha di Indonesia, khususnya di Pantai Utara Jawa Tengah. Untuk itu, ditemukan beberapa peninggalan situs bersejarah yang tersebar, seperti yang ditemukan oleh tim gabungan dari Pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Balai Arkeolog Jogja, Mahasiswa UGM, dan Tim Geologi ITB, yang melakukan penggalian (eskavasi) terhadap temuan berupa candi di Desa Duduhan, Kecamatan Mijen, Semarang, beberapa waktu lalu.

Saat ini penggalian situs memang dihentikan, dan situs yang ada ditimbun kembali sebagai prosedur penggalian situs budaya. Penimbunan dilakukan karena menunggu status situs itu sendiri.

Saat melakukan penggalian beberapa waktu lalu, Ketua Tim Penelitian dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Agustijanto Indrajaya mengatakan, bangunan yang sudah tergali berbentuk bujursangkar sepanjang 9,3 meter.

“Sampai saat ini sudah sampai fondasi candi dengan kedalaman 60 cm, dengan struktur batu bata berukuran 34x20x8 sentimeter,” terangnya.

Dikatakan juga, eskavasi ini ada kaitannya dengan riset perkembangan agama Hindu-Budha di wilayah pesisir, sebagai data awal jika di Semarang potensial adanya penyebaran penduduk agama tersebut.

“Sebelumnya sudah ada temuan di Gringsing Batang, penemuan berupa Tirtaan (pemandian) di pesisir, dengan¬†indikasi candi ada prasasti secara paleografi abad ke-7,” paparnya.

Hipotesa pun berkembang jika ada kaitannya dengan situs yang ada di Gringsing tersebut. Jika benar, dia menduga struktur Candi Duduhan usianya lebih tua dari Dinasti Sanjaya Mataram Kuno dengan peradaban Candi Prambanan di abad ke-8. Untuk menentukan usia dari candi tersebut, akan diteliti berupa arang fosil secara karbonet.

Saat penggalian dilakukan, banyak ditemukan selain tumpukan batu bata, ada juga bagian candi yang tak rata seperti tampilan setengah lingkaran, gerigi, batu kerucut yang menyerupai gugusan di komplek candi Gedongsongo.

“Ini bangunan candi yang komplet, sebagai potensi karena masih cukup besar luasan area dan belum terganggu aktivitas warga,” tambahnya.

Lokasi penggalian yang berada di area hutan warga dengan rindangnya pohon mahoni, durian, nangka dan semak masih belum ditemukan arca, yoni atau khas dari bangunan candi layaknya. Hanya saja informasi yang didapat dari warga, beberapa arca seperti Nandi (patung sapi) dan arca yoni sudah terpisah dan dimiliki warga.

“Ada penggalan Nandi di pertigaan jalan dekat sini, berupa bagian tubuh patung sapi setengah badan dengan kaki dan punuk yang masih ada,” katanya menyayangkan tak terurusnya arca penting tersebut.

Sementara pemilik lahan Rubinah mengatakan, jika bangunan tersebut sudah ada sejak masa orang tuanya muda. Bahkan menurutnya, dulu di sekitar lokasi ada beberapa arca mirip patung manusia gajah (Ganesha) dan patung sapi (Nandi) namun sudah hilang.

“Setau saya dicuri orang luar negeri dan sudah dikembalikan namun entah ke mana sekarang berada kabarnya ada di Museum Ranggawarsita, tinggal patung sapi yang tak utuh dan ditaruh di pertigaan jalan sebagai hiasan jalan kampung,” katanya.

Sementara, Johan Arif anggota Tim Penelitian Geolog ITB menambahkan, jika dilihat posisi struktur candi terletak di atas batuan gunung api, namun belum jelas dari gunung mana.

“Di sisi selatan kontur batuan gunung Breksivolkanik dengan struktur keras yang berusia 2 juta tahun, namun ini disisi utara jadi masuk kategori batuan Tufa (lunak), jika dilihat secara erupsi 1 juta tahun lalu dengan morfologi liat,” katanya.

Kini dia sedang meneliti adanya sawah di sekitar lokasi penemuan. Menurutnya keberadaan sawah kaitannya eksistensi warga dalam beraktifitas yang akhirnya akan membuat sebuah bangunan salah satunya candi tersebut.

“Sawah landai ini apakah ada oleh alam dari dulu atau dibuka dan dibuat oleh orang. Jadi kaitannya ini mungkin dulu hutan dan dibuka lahan persawahan, lantas mereka membangun candi sebagai pemujaan penganut Hindu atau Budha di pesisir Pantai Utara ini,” jelasnya kembali.

Johan juga tengah mengamati adanya sumber air, di mana adanya sumber air berkaitan dengan permukiman warga dulu.

“Adanya sendang sebagai identitas daerah permukiman saat itu,” tukasnya.

Secara struktur batu bata penyusunnya, dia melihat dibuat dengan tanah sekitar area lantaran kontur tanah yang lunak. Yang menjadi pertanyaannya adalah di dalam batu bata tersebut ada campuran bahan baku berupa gabah padi yang melekat lama yang bisa membentuk fosil.

“Pembuatan batu bata bersumber dari daerah sini sendiri. Dalam batu bata ada campuran gabah, dan perlu diteliti apakah dari gabah sekarang atau lama. Ini bisa menghitung umur candi juga,” pungkasnya.(HS)

Tiket Dijual Mulai Rp 25 Ribu, Ini Info Tiket MXGP Seri Semarang 2019

Karakteristik Limbah di Bantaran Banjirkanal Barat Masih Dicek DLH