in

Menengok Eksotisme Kota Lama, Primadona Baru bagi Wisatawan yang Berkunjung ke Kota Semarang

Beberapa pengunjung berfoto di Taman Srigunting, kawasan Kota Lama Semarang menikmati suasana nyaman dan keindahan gedung tua, Gereja Blenduk (foto dokumen Instagram @travelingwithjuan).

 

KOTA LAMA Semarang makin hari makin jadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Setiap hari, khususnya hari libur jalan-jalan di Kota Lama dipenuhi wisatawan yang berswafoto atau sekadar jalan-jalan mengelilingi kawasan. Bangunan tua yang tertata rapi, serta eksotisme tanaman keras yang tumbuh menempel di gedung menjadi daya tarik wisatawan untuk jadi latar belakang foto.

Apalagi setelah ditata oleh Badan Pebgelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang dengan penambahan ornamen dan perbaikan jalan, kawasan ini menjadi lebih menarik untuk dikunjungi. Kawasan Kota Lama pun bisa dikatakan telah menjadi primadona baru tampat pariwisata di Kota Semarang.

Dengan bantuan anggaran revitalisasi kawasan dari pemerintah pusat, melalui Kementrian PUPR, Kota Lama seakan disulap jadi lebih cantik dibanding beberapa tahun silam.

Sejumlah gedung tua peninggalan masa kolonial, saat ini sudah tertata dan terawat dengan baik. Bahkan sebagian besar telah dimanfaatkan untuk menjalankan bisnis maupun perkantoran.

Roda perekonomian pun makin berkembang dengan berdirinya sejumlah cafe, galeri UMKM, maupun kantor BUMN. Apalagi setiap hari ratusan orang datang ke Kota Lama dengan tujuan berwisata.

Tak hanya itu, saat menyusuri jalan-jalan di kawasan Kota Lama, beberapa sudut kini banyak yang dipenuhi pengunjung. Di antara sudut-sudut Kota Lama Semarang yang ramai yaitu taman Srigunting dan taman Garuda. Dengan ditumbungi pohon rindang, dua ruang terbuka ini menjadi tempat pertemuan dan bersantai bagi pengunjung untuk melepas penat setelah berjalan mengelilingi kawasan di tengah cuaca panas.

Taman Srigunting sendiri terletak persis di sebelah Gereja Blenduk Kota Lama, yang menjadi ikon Kota Lama Semarang.

Banyak pengunjung yang hanya sekadar duduk-duduk atau ada yang berfoto dengan background gedung tua dan taman yang indah.

Taman Srigunting memang kerap dijadikan swafoto lantaran banyak spot foto yang instagramable.

Salah satu pengunjung, Indah Maharani (19) warga asal Gayamsari, Semarang mengatakan, dia sudah beberapa kali mengunjungi Kota Lama Semarang. Menurutnya, Taman Srigunting dan Taman Garuda menjadi tempat favoritnya untuk bersantai setelah berjalan-jalan menyusuri gang-gang di antara gedung tua.

“Sejak beberapa tahun terakhir Kota Lama Semarang memang menjadi idola wisatawan, karena keindahan gedung-gedung tuanya. Penataan yang dilakukan BPK2L dengan bantuan anggaran dari pemerintah pusat saya kira sangat berhasil mengubah kota tua yang dulu kumuh ini menjadi primadona baru untuk berwisata,” ujarnya saat ditemui, Kamis (10/7/2019).

Pengunjung lain, Rita, (18) warga Hasanudin menambahkan, gedung tua memang menjadi tempat favorit untuk latar belakang foto bagi wisatawan.

“Saya sendiri mengambil beberapa gambar untuk kolekai pribadi di media sosial,” terangnya sambil tersenyum.

Dia berharap, proses revitalisasi Kota Lama cepat selesai, sehingga keindahan kota tua ini bisa dinikmati masyarakat secara maksimal. Apalagi kini sudah banyak wisatawan dari luar daerah yang datang ke Kota Lama secara rombongan.

“Penyediaan kantong parkir sangat penting karena kini banyak wisatawan yang tiap akhir pekan memadati Kota Lama,” katanya.

Selain itu dirinya berharap agar Kota Lama juga bebas dari kendaraan. Sehingga pengunjung benar-benar bisa menikmati keindahan kota tua ini tanpa ada gangguan kemacetan lalu lintas dan kebisingan kendaraan bermotor.

“Ramai banget jalannya. Kadang pengunjung perlu hati-hati untuk nyebrang,” tukasnya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya saat mengunjungi Kawasan Kota Lama, Semarang, Sabtu (22/6/2019) lalu juga sempat berfoto dan membuat video vlog tentang tempat yang dikunjunginya tersebut. Menpar terlihat bersemangat saat berada di depan Gedung Marba, salah satu gedung peninggalan masa kolonial di Semarang. Bangunan eksotis yang megah ini, dibangun abad ke-19 dan telah berumur satu abad.

Dulunya, bangunan ini difungsikan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut/EMKL. Selain itu juga digunakan untuk toko yang modern, dan menjadi toko modern satu-satunya pada masa itu, yaitu De Zeikel.

Dari Gedung Marba, Menpar juga membuat vlog di depan gedung yang menjadi ikon Kota Lama Semarang, Gereja Blenduk.

Dalam kunjungannya, Menpar didampingi Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah, Sinoeng N Rachmadi dan Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari.

Menpar, Arief Yahya mengatakan, jika Kota Lama ingin menjadi destinasi wisata kelas dunia maka harus menggunakan standar kelas internasional dan meniru lokasi serupa yang telah berhasil mengelola kawasan heritage.
Dia menambahkan, jika Kota Lama berhasil mendapatkan sertifikasi world heritage Unesco maka dampaknya sangat penting.

Menurutnya Kota Lama memiliki peluang yang besar dalam mendapatkan status tersebut. Dia optimistis karena banyak pihak mendukung dalam pengembangan Kota Lama Semarang.

“Sertifikasi dari Unesco itu mengukuhkan Kota Lama menjadi salah satu destinasi wisata kelas dunia. Jadi kita nanti akan lebih gampang dalam melakukan promosi dan penjualan dalam meningkatkan kunjungan wisata di Kota Semarang,” imbuhnya.

Menurutnya pengelolaan Kota Lama dapat menjadi contoh dalam mengelola kawasan heritage di Indonesia. Sebab, ketua atau pengelolanya berasal dari kalangan pemerintah yang memiliki otoritas langsung.

“Pengelolaan Kota Lama ini jadi contoh kawasan heritage lainnya. Jika pengelola atau ketua memiliki otoritas seperti Kota Lama yang dikelola oleh Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu maka pengembangannya akan lebih cepat dan lebih mudah,” tandasnya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu yang juga ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang mengatakan, penerapan city walk atau area bebas kendaraan di Kota Lama, akan mulai dilaksanakan Pemkot Semarang pada tahun 2020.

Pasalnya, untuk menerapkan hal itu, pihaknya harus menyiapkan setidaknya 10 kendaraan elektrik (golf car) untuk akses berkeliling pengunjung. “Kami menggandeng CSR dari pihak swasta untuk menyiapkan fasikitas kendaraan bagi wisatawan berkeliling Kota Lama ini,” katanya.(HS)

Kalah Lawan Borneo FC, PSIS Tertahan di Peringkat Enam

Kurangi Debu, Ita Ingin Ada Penyiraman di Sekitar Sirkuit MXGP