in

Mendekati Ramadhan, Inflasi Pangan Makin Mengkhawatirkan

Anggota Komisi XI DPR RI Marinus Gea. (Foto : dpr.go.id)

 

HALO SEMARANG – Anggota Komisi XI DPR RI Marinus Gea mengungkapkan kekhawatirannya terhadap inflasi di sektor pangan, dan meminta pemerintah untuk waspada serta melakukan langkah-langkah yang diperlukan.

Kekhawatiran ini juga muncul, karena sesuai paparan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, per Januari-Februari 2024, inflasi di sektor pangan sudah mencapai 8,47 persen.

Dia mengatakan telah menerima informasi, bahwa saat ini Indonesia sedang mengimpor beras, untuk menjaga ketersediaan bahan pangan, terutama pada Ramadhan dan Lebaran.

Namun jika pada Februari sudah mencapai 8,47 persen, ada kemungkinan pada Maret dan April, inflasi bisa naik lagi.

“Walaupun memang ada informasi mengatakan bahwa kita sedang melakukan impor beras untuk menjaga ketersediaan bahan pangan di bulan puasa dan Lebaran.  Karena sangat khawatir sekali kalau di Februari sudah mencapai 8,47 persen, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi lebih naik lagi di bulan Maret, dan juga menuju April. Karena nanti Lebaran di bulan April dan bahkan  bisa sampai ke akhir April,” katanya di Batam, Kepri, belum lama ini.

Marinus Gea juga menilai, dengan adanya persiapan untuk menyediakan ketersediaan pangan jelang Ramadan dan Idul Fitri 2024, realita di lapangannya harga-harga komoditas pangan di pasaran terus melonjak.

Hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Pemerintah, di mana pasokan di lapangan dengan harga yang beredar di lapangan sangat jauh dari keterangan Pemerintah.

“Tadi saya sudah menyampaikan bahwa hari ini harga beras premium itu di Kepri sendiri itu Rp 17 ribu, di pulau Jawa Rp 20 ribu, dan bahkan juga sudah ada yang mulai melakukan kenaikan harga di luar harga pasar sampai ke Rp 30 ribu,” kata dia.

Menurut dia, akan terjadi inflasi yang lebih tinggi, oleh karena itu dia mendorong Bank Indonesia (BI), berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait.

“Ini termasuk instansi yang bertanggung jawab soal pasokan-pasokan, agar dapat bersinergi mengantisipasi persoalan kekurangan ketersediaan bahan pokok di bulan puasa dan Lebaran tadi,” kata dia.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyatakan, bahwa upaya Bank Indonesia dalam menekan inflasi di sektor pangan dengan memberikan bantuan Alsintan atau alat dan mesin pertanian dan sebagainya kepada pelaku usaha pertanian, sangatlah bersifat relatif untuk dinyatakan cukup membantu menekan atau tidak.

Hal ini karena untuk menilai upaya tersebut cukup atau tidak cukup, tergantung pada koordinasi yang komprehensif dari seluruh stakeholder terkait, karena Bank Indonesia hanyalah bagian kecil dari sektor terkait.

“BI hanya bagian kecil dari koordinasi dari seluruh sektor yang terlibat, sektor pemasoknya, sektor yang bertanggung jawab untuk itu, itu memiliki peran yang sangat strategis, sektor produksi inikan BI hanya memberikan stimulan,memberikan dorongan, memberikan semangat untuk bisa persoalan ini bisa teratasi, baik dari sisi produksi, maupun dari sisi pasokan,” ungkapnya.

Selain itu, dalam proses distribusi atau transportasinya juga BI terlibat dalam kelancaran proses tersebut, oleh karenanya segala upaya yang dilakukan sangatlah bersifat relatif, karena bisa dinyatakan cukup jika seluruh stakeholder sama-sama terlibat dan memiliki kontribusi penuh bersatu menangani, menyiasati, menyikapi juga mengantisipasi persoalan kenaikan harga pangan menjelang ramadan dan Idul Fitri 2024.

“Siapa yang akan terlibat tentunya bukan hanya instansi Pemerintah, termasuk juga kita dari DPR karena terdiri dari berbagai komisi yang menjadi mitra pemerintah, terus kita mendorong untuk melakukan pengawasan, memberikan perhatian khusus untuk penanganan persoalan yang mungkin akan terjadi, harapan kita bisa lebih meminimalisir,” kata dia. (HS-08)

Bersama InJourney Group, HIN Dukung Pengembangan Pariwisata Banyuwangi

Kapolsek Sidomukti Berikan Pelatihan dan Pembekalan Bintara Remaja Polres Salatiga