Menara Sleko, Saksi Kejayaan Semarang Sebagai Kota Pelabuhan

Menara Sleko yang ada di kawasan Kota Lama, Semarang.

 

HALO SEMARANG – Membahas sejarah perkembangan Kawasan Kota Lama Semarang, dari awal dibangun hingga saat ini telah direvitalisasi oleh pemerintah, seakan tak akan pernah ada habisnya. Kini, bangunan-bangunan tua peninggalan era kolonial tersebut sudah dimasukkan sebagai bangunan cagar budaya, dan sedang diusulkan agar bisa memperoleh pengakuan sebagai kota warisan cagar budaya UNESCO. Beberapa bangunan juga ada yang telah dialihfungsikan untuk cafe, galeri, kantor bank, dan kantor pelayaran Pelni maupun pihak swasta, dan direvitalisasi agar tidak rusak dimakan usia.

Saat ini Pemkot Semarang berusaha mengidentifikasi kepemilikan semua bangunan-bangunan yang ada tersebut, untuk memudahkan penyelamatan bangunan bersejarah dari kehancuran.
Salah satu yang sedang diupayakan untuk diperbaiki yaitu Menara Syahbandar Semarang, atau dikenal dengan Menara Sleko.

Suatu sore, saat halosemarang.id berkeliling di Kota Lama Semarang, sudah terlihat bangunan-bangunan tua bekas kantor kongsi niaga Belanda itu yang masih tampak berdiri megah. Meski beberapa sudut sedang ada perbaikan jalan program revitalisasi, namun kemegahan Kota Lama masih bisa dilihat.

Untuk sampai ke menara kuno Sleko ini, dari batas penanda 0 kilometer, setelah melewati Jembatan Mberok, maju beberapa meter, tepatnya di depan kantor PT Pelni dengan terus menyusuri Jalan Sleko. Tidak lama setelah itu akan menemukan bangunan yang dulunya dikenal dengan nama Kleine Boom en Uitkijk itu.

Memang kini, area tersebut sudah berdiri bangunan baru di sekitar area menara sehingga hampir menutup pandangan bangunan ini.

Lokasi tersebut tidak jauh dari bangunan ikon Kota Lama yaitu Gereja Blenduk, hanya berjarak 200 meter ke timur. Bagi masyarakat luar yang pernah ke Kota Lama, mungkin ada yang belum tahu keberadaan menara ini.
Dari berbagai sumber, pada masanya, pada menara yang dibangun tahun 1825 silam, setiap kapal yang bersauh harus melapor kepada Syahbandar.

Saat itu, di Kota Semarang punya geliat niaga yang ramai. Dan di tempat itu pula pernah berdiri benteng Vijfhoek yang menjadi cikal bakal permukiman Eropa di Semarang.

Dari letaknya, posisi menara ini berada persis di tepi Kali Semarang, yang memiliki arsitektur yang menarik. Sleko sendiri diadopsi dari bahasa Belanda, yang memiliki arti gerbang kota yang menghubungkan dengan pelayaran ke luar Semarang.

Foto koleksi Instagram @semarang.tempodulu

Dari buku kenang-kenangan 100 tahun HBS Semarang pada tahun 1877-1977, diketahui, bangunan yang dilengkapi dengan gardu pandang ini punya halaman untuk istirahat para pedagang.

Kala itu transportasi sungai sangat berperan untuk membawa kebutuhan sehari-hari maupun barang-barang perdagangan dari pedalaman. Bangunan yang terdiri atas masa empat kubus tersebut berfungsi sebagai pelabuhan kecil untuk mengatur bongkar muat pedagang kecil.

Para pedagang berjualan kebutuhan sehari-hari untuk masyarakat Kota Semarang terutama perdagangan makanan untuk memasok kebutuhan di Pasar Johar.

Meski memiliki nilai sejarah, kini kondisi Menara Sleko mengenaskan karena sudah lama kurang terawat. Bagian atapnya hilang, dindingnya telah keropos dan mengelupas, hanya tinggal batu bata merah yang terlihat saja. Pagar besi memang sudah dipasang untuk melindungi bangunan. Namun sayangnya karena sempat tak terawat dalam waktu lama, kondisi bangunan kini sudah mulai rusak.

“Dulunya, bangunan menara itu, dipakai sebagai Kantor Syahbandar sekaligus menara pengawas kapal yang melintas. Kini bangunan itu seolah hanya menjadi saksi bisu, bahwa Kota Semarang pernah berjaya menjadi kota bandar atau pelabuhan yang penting pada pertengahan abad ke-18 itu,” kata Subakti, warga yang ditemui di sekitar lokasi.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, untuk pembenahan maupun pemugaran bangunan Menara Sleko saat ini masih dalam kajian. Karena memang menara itu kini kondisinya sudah tidak baik.

“Dalam kajian itu nantinya akan dilihat dari berbagai aspek sebuah bangunan heritage. Pastinya kajian itu dengan melibatkan pihak konsultan yang memang berpengalaman untuk bangunan cagar budaya. Mudah-mudahan hasil kajian tersebut bisa dijadikan acuan kami untuk langkah selanjutnya terhadap bangunan sejarah itu,” kata Mbak Ita, sapaan akrab Wakil Wali Kota Semarang, Rabu (19/6/2019).(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.