in

Menag dan Menkopolhukam Minta Polisi Tindak Tegas Perusak Tempat Ibadah Ahmadiyah

Menag Yaqut Cholil Qoumas, (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, mengecam keras aksi perusakan tempat ibadah jemaat Ahmadiyah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat oleh sekelompok orang.

Menurutnya, tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan dan merupakan pelanggaran hukum.

“Tindakan sekelompok orang yang main hakim sendiri merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain tidak bisa dibenarkan dan jelas merupakan pelanggaran hukum,” tegas Menag di Jakarta, Jumat (3/9), seperti dirilis Kemenag.go.id.

Menurut Menag, tindakan main hakim sendiri itu, apalagi dengan cara-cara kekerasan yang merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain, adalah ancaman nyata bagi kerukunan umat beragama.

“Aparat keamanan perlu mengambil langkah dan upaya yang tegas dan dianggap perlu, untuk mencegah dan mengatasi tindakan main hakim sendiri,” kata Menag.

Gus Yaqut meminta Polri untuk segera mengusut dan memproses kasus tersebur secara hukum. ” Para pelaku harus mempertanggungjawabjan perbuatannya di hadapan hukum, demi kepastian hukum dan keadilan,” sambungynya.

Menag meminta Pemerintah Daerah dapat menjalankan fungsinya untuk menjaga kerukunan umat beragama di daerah masing-masing. Hal itu sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No 9 dan 8 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, Dan Pendirian Rumah Ibadat.

“Saya sudah minta Kakanwil Kemenag Kalimantan Barat, untuk berkoordinasi dengan pihak Pemda dan melaporkan update penanganan masalah yang terjadi serta langkah-langkah yang diambil dalam memelihara kerukunan umat beragama,” kata dia.

 

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD

 

Menahan Diri

Permintaan agar polisi bertindak tegas, juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Gubernur dan Kapolda Kalimantan Barat, agar segera ditangani kasus ini dengan baik, dengan memperhatikan hukum, memperhatikan kedamaian dan kerukunan, juga memperhatikan perlindungan terhadap hak azasi manusia. Semuanya harus ikut aturan hukum,” tegas Mahfud MD, seperti dirilis Polkam.go.id.

Mahfud mengatakan bahwa Kapolda dan Gubernur sudah menangani masalah ini dan segera diselesaikan secara hukum, sehingga semua pihak diharapkan bisa menahan diri.

“Ini masalah sensitif, semuanya harus menahan diri. Kita hidup di negara kesatuan Republik Indonesia dimana hak-hak asasi manusia dilindungi oleh negara” tegas Mahfud yang menyesalkan peristiwa ini terjadi.

Kepada semua pihak, Mahfud mengingatkan tentang penghormatan terhadap hak asasi manusia. Menurutnya, negara menjamin terhadap orang yang berusaha hidup dengan nyaman di daerah yang dia kehendaki.

“Kehadiran negara ini yang pertama-tama sebenarnya adalah melindungi hak asasi menusia, martabat manusia, maka kita merdeka. Dari perlindungan terhadap martabat manusia itu lalu kita menggariskan apa tujuan bernegara ini, kesejahteraan umum. Ini yang harus dijaga, keamanan dan ketertiban dan perlindungan terhadap orang yang berusaha hidup dengan nyaman di daerah yang dikehendaki,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Peristiwa penyerangan dan perusakan tempat ibadah dan gedung milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kalimantan Barat, berlangsung Jumat siang.

Sekelompok orang dengan menggunakan batu dan bambu merusak bangunan masjid yang terletak di Desa Balai Gana, Kecamatan Tempunuk, Kabupaten Sintang.

Sementara itu, buntut dari aksi perusakan tersebut, Polda Kalbar menurunkan 300 peronel dari unsur Polri dan TNI, untuk mengamankan Jamaah Ahmadiyah beserta bangunan tempat ibadah mereka.

“Personel gabungan TNI dan Polri berjumlah sekitar 300 orang sudah berada di lokasi dalam menjaga situasi agar kondusif,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Donny Charles Go di Pontianak, Jumat (3/9).

Donny menjelaskan, dalam insiden perusakan itu ada bangunan yang dirusak dan dibakar oleh massa yang berjumlah sekitar 200 orang. Namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Menurut Donny, Polri dan TNI fokus mengamankan Jemaat Ahmadiyah yang berjumlah sekitar 72 orang atau 20 kepala keluarga (KK), dan bangunan peribadatan mereka.

“Situasi saat ini sudah terkendali dan massa sudah kembali,” ujarnya.

Dia juga mengemukakan, tim gabungan Polda Kalbar dan Polres Sintang,  juga sedang mengusut kasus tersebut. Polisi mencari pelaku perusakan masjid dan pembakaran bangunan di Kalbar tersebut.  (HS-08)

Share This

Itwasum Polri Audit Kinerja Enam Polres di Eks Wilayah Pekalongan

Lapas Semarang Gagalkan Upaya Penyelundupan Sabu-sabu