in

Membangun Minat Literasi Di Era Digital

 

DI era yang serba digital ini, percepatan informasi dari berbagai media tersebar dan terdistribusi secara cepat. Keterbukaan informasi menjadi pemicu bagi para pengguna media sosial terkhusus masyarakat awam, untuk ikut berbondong-bondong menyebarkan informasi apa saja melalui media online, tanpa memikirkan hal dan akibat yang ditimbulkan.

Kurangnya kesadaran pengguna media digital akan pentingnya literasi dan kurang kritisnya masyarakat terhadap informai yang ada, menimbulkan perspektif-perspektif berbeda terhadap masyarakat awam yang menerimanya.

Generasi milenial sebagai kaum terdidik, yang diharapkan bisa jadi penangkal berita-berita hoax, pada kenyataanya malah ikut serta berperan penyebaran informasi yang belum jelas kebenaranya. Hal ini tentu memunculkan statement-statement negatif serta simpang siur terhadap kebenaran informasi yang didapat oleh masyarakat.

Mengacu pada hasil survei yang telah dilakukan oleh PISA (Program For Internasional Student Assesment) yang dirilis oleh OEDC (Organization For Ekomonic Co-Operation And Development) menyebutkan, jika hasil survei 2019 minat baca masyarakat Indonesia menempati rangking 62 dari 70 negara, atau berada pada 10 negara terbawah yang memiliki minat baca rendah. Data dari UNESCO juga menyebutkan jika minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, atau diartikan jika dari 1000 orang masyarakat Indonesia, hanya 1 orang yang gemar membaca. Hal ini tentu diakibatkan karena masyarakat hanya membaca informasi yang didapat melalui headline yang sinkronisasinya antara isi masih dipertanyakan.

Berangkat dari permasalahan yang telah ada, serta serbuan berita hoax yang tidak dapat dibendung, perencanaan mengenai pembangunan budaya literasi mulai banyak dilakukan oleh pemerintah.

UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menyebutkan, jika literasi adalah seperangkat keterampilan nyata. Terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks, yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. Definisi dari literasi menunjukkan paradigma dalam upaya memaknai literasi dan pembelajaran yang ada di dalamnya.

Pengimplementasian akan pentingnya budaya literasi menjadi kunci keberhasilan membentuk masyarakat abad 21 yang baik dalam menyerap informasi-informasi yang beredar. Dilansir dari laman kominfo.go.ig, pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk penguatan literasi. Pemerintah juga telah melakukan inisiasi penguatan melalui Gerakan Nasional Literasi Digital Siber Kreasi Kominfo yang menyasar pada 12,4 juta masyarakat setiap tahunnya, hingga mencapai akumulasi 50 juta masyarakat terliterasi pada tahun 2024.

Dari segala upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka penguatan literasi, sudah sepatutnya kita sebagai generasi terdidik yang mengerti akan pentingnya literasi di berbagai bidang. Generasi milenial juga dituntut ikut serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan maksud agar berita-berita hoax yang beredar di masyarakat segera terselesaikan. Kaum terdidik sebagai pelopor keberhasilan pembangunan litersi digital sudah sepatutnya melakukan edukasi terhadap masyarakat awam dan masyarakat sekitar demi mewujudkan Indonesia yang bebas akan berita hoax.(HS)

Penulis: Siti Nduriyah, mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Trunojoyo Madura.

Share This

Pentingnya Etika Berkomunikasi Dalam Penggunaan Media Sosial

Tingkatkan Skill, Basarnas Semarang Adakan Latihan Repling