Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Membangun Alun-alun Johar, Mengembalikan Ingatan tentang Sejarah Kota

Presiden Jokowi bersama pejabat daerah dan jajaran pejabat kementerian saat meninjau pembangunan ALun-alun Semarang, Senin (30/12/2019).

 

ALUN-ALUN merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam. Masa masuknya Islam ke Nusantara, alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Salat Idul Fitri. Bangunan masjid dibangun di sekitar alun-alun. Konsep alun-alun menurut Islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah dan merupakan halaman depan dari keraton. Siar Islam telah membawa perubahan dalam perancangan pusat kota, sehingga alun-alun, keraton dan masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat jalur transportasi.

Pada periode kehadiran kekuasaan Belanda di Nusantara, ikut memberi warna bentuk baru dalam tata lingkungan alun-alun. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain alun-alun, termasuk di Semarang.

Di Kota Semarang, alun-alun dan pusat pemerintahan dulunya ada di sekitar Masjid Besar Kauman, di kawasan Johar. Tak hanya alun-alun dan masjid, di sana juga ada penjara dan pasar Johar, yang pernah menjadi salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara.

Pasar yang terletak di Jalan H Agus Salim ini termasuk dalam kategori pasar tradisional.

Sejarah Keberadaan Pasar Johar diawali sekitar tahun 1860 yang pada saat itu masih berupa pasar di sebelah Timur Alun-Alun Kota Semarang yang dipagari oleh deretan pohon Johar di tepi jalan. Kebetulan letak Pasar Johar berdekatan dengan penjara, sehingga pada waktu itu Pasar Johar dijadikan sebagai tempat menunggu untuk orang yang menengok kerabatnya di penjara.

Hingga tahun 1860, kawasan ini kemudian semakin hidup melalui aktivitas perdagangan yang menggunakan alun-alun sebagai tempat berdagang. Pada tahun 1930, di bawah pemerintahan jajahan Belanda dibangunlah Pasar Johar yang bertujuan mengakomodasi perdagangan pada masa itu.
Pasar Johar kemudian semakin berkembang dan menjadi pusat perekonomian di Kota Semarang sehingga pada tahun 1970 dibangunlah Pasar Yaik di alun-alun kota untuk mengakomodasi kegiatan pedagang semakin tidak terkendali dan terakomodasi di kawasan ini.

Maka sejak saat itu, fungsi alun-alun sebagai tempat berkumpulnya masyarakat di tempat terbuka mulai hilang.
Namun Pemerintah Kota Semarang pada tahun 2019 ini berusaha mengembalikan fungsi Alun-alun Kota Semarang di Pasar Johar, yang berbarengan dengan revitalisasi Pasar Johar.

Diharapkan, pembangunan alun-alun tersebut sebagai ruang terbuka hijau dan bisa digunakan untuk aktivitas masyarakat, dengan penataan yang makin rapi.

Adapun konsep Alun-alun Pasar Johar, nantinya akan difungsikan sebagai ruang terbuka hijau dan ruang publik seperti fungsi semula. Di mana, misalnya akan dipakai untuk aktivitas warga, seperti momen Dugderan dan Salat Id yang menampung banyak jamaah serta lainnya.

“Ruang terbuka hijau seluas 9.184 meter persegi ini ditargetkan sudah selesai akhir tahun 2019. Mudah-mudahan pembangunan alun-alun pada tahun 2019 ini bisa selesai,” jelas Sekretaris Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, Irwansyah, belum lama ini.

Setidaknya, Irwansyah menginginkan, awal tahun 2020, alun-alun sudah dapat digunakan masyarakat untuk beraktivitas. Basement sudah bisa digunakan untuk para pedagang sebagai area parkir. Pemkot Semarang juga akan memaksimalkan Masjid Kauman sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Seperti pada masjid-masjid kuno di pulau Jawa, Masjid Agung Semarang atau dikenal Masjid Kauman, berada di pusat kota (alun-alun) dan berdekatan dengan pusat pemerintahan (kanjengan) dan penjara, serta tak berjarak jauh dari pusat perdagangan (Pasar Johar). Ini merupakan ciri khas dari tata ruang kota pada zaman dahulu.

Masjid Kauman, juga menjadi salah satu bangunan yang bernilai sejarah karena berkaitan dengan Kota Semarang Lama. Sehingga kawasan Kauman Semarang, termasuk Masjid Kauman, akan dilakukan penataan kembali oleh Pemkot Semarang.

“Pemkot Semarang akan mengembalikan fungsi alun-alun Kota Semarang, bersamaan dengan penataan Pasar Johar baru, karena pasar Johar yang lama telah terbakar empat tahun lalu,” kata Irwansyah.

Salah satu warga Semarang, Icha mengatakan, dengan dikembalikan fungsi dari Alun-alun di Pasar Johar Semarang membuat masyarakat makin nyaman dan aman saat berada di lokasi tersebut. Karena makin tertata rapi dan bersih.

“Harapannya, di sini bisa menjadi pusat keramaian baru untuk masyarakat yang akan bersantai di sela-sela jadwal padat aktivitas pekerjaan. Selain itu, ruang terbuka hijau yang ramai yang saat ini masih berada terpusat di Simpanglima saja,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang