in

Melestarikan Tradisi “Udik-Udikan” Di Kendal

Warga Jalan Masjid, Gang Layur RT 10 RW 03 Kelurahan Patukangan, Kecamatan Kendal, yang mengikuti udik-udikan dalam rangka slametan “Mudun Lemah” salah satu warga, Rabu (26/5/2021).

 

HALO KENDAL – Udik-udikan adalah tradisi sedekah dengan cara menaburkan uang receh di kerumunan massa. Tradisi ini hingga kini masih dilaksanakan oleh masyarakat Kendal yang sedang punya hajatan atau syukuran. Biasanya uang receh dicampur dengan beras kuning dan kembang.

Uang yang lazim digunakan pecahan Rp 100, Rp 200 dan Rp 500 bahkan Rp 1.000. Ada pula uang kertas yang digulung dan dimasukkan ke dalam sedotan, agar mudah disebar.

Udik-udikan sudah dikenalkan masyarakat Kendal sejak lama. Di mana orang tua dulu mengajarkan untuk berbagi dan bersedekah kepada tetangga.

Ini yang menjadikan anak-anak ikut berebut koin yang disebar oleh orang yang punya hajat.

Dari tradisi inilah berkembang, udik-udikan tidak hanya dilakukan saat-saat tertentu saja. Namun juga saat ada acara sedekah bagi warga yang mampu, maupun yang ingin “slametan” atau tasyakuran.

Bahkan untuk memeriahkan acara dan menggaet peserta lebih banyak, dilakukan berbagai cara yang unik.

Seperti yang dilakukan warga Jalan Masjid, Gang Layur RT 10 RW 03 Kelurahan Patukangan, Kecamatan Kendal, dalam rangka slametan “Mudun Lemah”, Rabu (26/5/2021).

Mudun lemah atau turun tanah merupakan tradisi Jawa sejak dari nenek moyang sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang menandai perkembangan seorang anak yang baru lahir dan mulai bisa berjalan.

Terlihat warga sudah mulai berkumpul sejak pagi, di depan rumah salah satu warga yang punya hajat.

Mereka menunggu acara udik-udikan dimulai sejak pagi. Dari orang tua, orang dewasa, dan anak-anak terlihat antusias mengikuti acara udik-udikan ini.

Menurut salah seorang warga setempat, Anjar, kegiatan udik-udikan ini menarik, karena diikuti oleh puluhan warga. Mereka akan saling memperebutkan uang receh yang disebar oleh yang punya hajat.

Selain uang, yang punya hajat juga akan memberikan kejutan doorprize kepada para perebut udik-udikan.

“Ini bukan hanya uang receh, tapi yang punya hajat juga akan menyelipkan doorprize dengan memasukkan kertas bertuliskan angka, yang akan disebar bersama uang receh,” jelas Anjar.

Kemudian, bagi warga yang mendapatkan doorprize tersebut bisa ditukarkan kepada orang yang punya hajat.

“Doorprize biasanya berupa ayam, atau barang-barang lain seperti kipas angin, atau dispenser dan barang-barang dapur lainnya,” kata Anjar.

Sementara itu menurut warga lainnya, Febriyanto, bagi warga Kendal tradisi udik-udikan ini sudah dikenalkan turun-temurun dari nenek moyang.

Menurutnya, sebelum udik-udikan disebar, terlebih dahulu akan didoakan oleh tokoh agama setempat.

“Ini adalah bentuk rasa syukur atas mudun lemah atau turun tanah anak dari tetangga kami. Sebelum disebar biasanya didoakan terlebih dahulu oleh tokoh setempat,” ungkap Febri.(HS)

Kisah Balik dari Jatim, Pemudik Swab Antigen Mandiri

Ajak Duel Pegawai Warung Bakso, Pemuda Ini Malah Ditangkap Polisi