in

Melestarikan Budaya Menjamas Tosan Aji Pada Bulan Suro

Nur Shodiq menunjukkan tosan aji saat melakukan ritual penjamasan.

 

MEMASUKI awal bulan Muharam setiap pergantian tahun Hijriyah, banyak kalangan kebudayaan melakukan ritual penjamasan gaman atau penyucian tosan aji.

Ritual unik yang dilakukan di rentang waktu antara tanggal 1 hingga 10 Suro (Muharam) tersebut, tak lepas dari sejarah kerajaan di nusantara. Tradisi Jamasan Pusaka menjadi salah satu tradisi yang identik dilakukan pada bulan Suro.

Tradisi tersebut hadir di banyak tempat di Pulau Jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, juga Yogyakarta. Ritual jamas pusaka sendiri saat ini menjadi sebuah peringatan budaya yang perlu dilestarikan.

Salah satu kegiatan penjamasan yang cukup unik dilakukan oleh Kang Ali Tuba Asy’arie, Pimpinan Majelis Panembahan Saung Cinta dan Gubug Mahabah di Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang pada Minggu (15/8/2021).

Pria yang juga menjadi Kepala Satuan Koordinator Cabang BANSER Kota Semarang ini menjelaskan, ritual tersebut adalah bagian dari merawat budaya, bukan ritual mistis yang menjurus pada kemusyrikan.

“Ini adalah bagian dari budaya, bukan masalah mistisnya. Karena mencintai budaya adalah bagian dari mencintai Indonesia. Semantara generasi muda sekarang banyak yang mengabaikan hal-hal semacam ini. Kami berniat ingin melestarikan budaya-budaya itu,” ujarnya seusai melakukan ritual penjamasan di Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

“Makanya setiap sebelum tanggal 10 Suro (Muharam) kami melakukan penjamasan gaman (senjata) sebelum mutih (dicuci) pada tanggal 10 Suro nanti,” tandasnya.

Sementara Kiai Nur Shodiq, tokoh agama dan tokoh kebudayaan Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan juga menunjukkan gaman miliknya saat penjamasan.

Sama seperti Ali Tuba, Kiai Nur Shodiq juga seorang pecinta budaya dan barang-barang kuno yang memiliki nilai sejarah. Nur Shodik menegaskan, bahwa gaman-gaman tersebut adalah karya seni yang perlu dirawat untuk mengingatkan generasi berikutnya dengan perjuangan leluhur di masa lalu.

Nur Shodiq menegaskan, merawat gaman adalah upaya merawat ingatan.

“Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya bukannya mempromosikan mistisisme, tapi lebih karena kecintaan saya dengan budaya. Karena gaman-gaman ini adalah sebuah karya seni yang sangat agung, yang mana para pembuat gaman ini melakukan proses panjang seperti tirakat dan semedi hingga menjadi senjata bagi para pejuang pada zaman dahulu,” ucapnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya saat belum ada pandemi Covid-19, para praktisi budaya di Kelurahan Gondoriyo mengadakan prosesi acara untuk melakukan upacara penjamasan, sekali lagi sebagai perayaan budaya.

“Tapi sekarang kami pending dulu untuk menghindari kerumunan. Tapi yang penting bagi kami adalah setiap tahun melakukan perawatan untuk menghormati karya besar ini agar tidak karatan,” pungkasnya.

1 Suro

Sebagai informasi, selain tradisi “kungkum” yang kerap dilaksanakan masyarakat kejawen pada malam 1 Suro, dalam budaya Jawa ada juga kebiasaan masyarakat untuk merawat serta menghargai peninggalan nenek moyang yang berupa benda pusaka.

Penghargaan itu dengan melakukan tradisi jamasan pusaka. Jamasan pusaka sendiri berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil (tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa), ‘Jamas’ mempunyai arti cuci, membersihkan atau mandi. Sedangkan kata ‘Pusaka’ menjadi sebutan bagi benda-benda yang dikeramatkan atau dipercaya memiliki kekuatan tertentu.

Dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, jamasan pusaka merupakan tradisi mencuci benda-benda peninggalan nenek moyang.

Benda-benda peninggalan yang dijuluki sebagai pusaka akan dibersihkan tepat pada malam 1 Suro menurut penanggalan kalender Jawa. Sedangkan pada malam tersebut juga biasanya digelar tirakatan di kampung-kampung untuk berdoa dan sarana guyub rukun dengan warga. Tanggal 1 Suro dipilih karena tanggal ini menjadi penanda tahun baru Islam.

Selain itu, bulan Suro juga adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang diyakini sebagai bulan keramat, penuh larangan, dan pantangan. Karenanya, masyarakat Jawa biasanya selalu menghindari bulan ini untuk melakukan kegiatan besar. Karena takut terkena tulah, seperti kesialan atau ‘apes’.

Benda-benda peninggalan yang dibersihkan dalam ritual jamasan pusaka antara lain keris, tombak, kereta kencana, gamelan dan berbagai peralatan upacara. Masyarakat Jawa meyakini bahwa jamasan pusaka menjadi cara untuk menghargai secara penuh peninggalan nenek moyangnya.(HS)

Share This

Serunya Aksi Anak-anak Saat Mengikuti Lomba Menyambut Hari Kemerdekaan

OPD Pemkot Semarang Gotong-Royong Bantu Kehidupan Anak yang Kehilangan Orang Tua Akibat Covid-19