in

Masyarakat Keluhkan Meroketnya Harga Pangan Jelang Hari Besar Keagamaan dan Tahun Baru

Ilustrasi telur ayam ras, dok: pekalongankota.go.id

 

 

HALO SEMARANG – Meroketnya harga sejumlah komoditas pangan jelang hari besar keagamaan dan tahun baru seringkali menjadi persoalan mendasar bagi masyarakat.

Persoalan yang kerap kali terjadi ini juga diikuti dengan pengendalian harga melalui inspeksi mendadak hingga operasi pasar.

Upaya pemerintah dalam mengakali meroketnya harga komoditas pangan telah dilakukan dari tingkat kabupaten/ kota hingga provinsi.

Kendati demikian, kenaikan harga tiap tahun itu tetap menjadi problematika pedagang dan masyarakat

Seperti halnya di Pasar Peterongan Kota Semarang, para pedagang mengaku hanya pasrah dengan naiknya harga sejumlah komoditas pangan.

Yanti, satu di antara pedagang sembako menuturkan, beberapa harga komoditas pangan seperti telur dan minyak curah selalu naik jelang Natal dan Tahun Baru 2022

“Kami mengikuti menaikkan harga dari peternak ayam dan produsen minyak goreng. Kalau tidak, kami tidak dapat untung, terus keluarga makan apa,” tuturnya, Senin (15/11/2021).

Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan itu, diakuinya terjadi sejak awal November lalu.

“Minyak goreng ini terus naik sampai sekarang di angka Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu lebih per liternya. Pembeli juga masih sama belum ada peningkatan,” katanya.

Terpisah, di Pasar Sampangan, Kota Semarang, terpantau kenaikan harga telur ayam ras di pasaran mencapai 30 persen lebih. Seperti harga awal telur ayam ras hanya Rp 19 ribu per kilogram kini menyentuh lebih dari Rp 25 ribu.

Sedangkan untuk minyak goreng kemasan terjadi pergerakan harga mencapai 18 persen lebih sejak awal November lalu. Harga minyak goreng kemasan yang awalnya Rp 16 ribu, kini berubah menjadi Rp 19 ribu tiap satu liter.

Ningsih, satu di antara warga Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang menyuarakan keluhannya terkait pergerakan harga yang terus terjadi jelang Natal dan Tahun Baru 2022.

“Menurut saya, bagi yang punya uang tidak masalah ada kenaikan Rp 1.000 sampai Rp 10.000 untuk minyak maupun telur ayam, tapi bagi yang perekonomiannya pas-pasan seperti saya sangat terbebani karena harga terus naik,” paparnya.

Ningsih, terpaksa harus membeli kebutuhan bahan pangan pokok itu meski harganya terus meroket. Ia menyebut adanya batasan atas harga sejumlah komoditi yang dikeluarkan pemerintah tidak membuahkan hasil.

“Mau bagaimana lagi bahan tersebut setiap hari saya gunakan, telur ayam dan minyak goreng misalnya. Program pemerintah soal mengendalikan harga sepertinya tidak ada hasilnya, malahan ini harga masih terus naik,” ujarnya.

Dalam pantauan Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHaTi) Provinsi Jateng, kenaikan harga minyak goreng dan telur ayam ras di Kota Semarang terus meroket 15 hari terakhir.

Untuk minyak goreng kemasan pada awal November di angka sekitar Rp 16 ribu untuk satu liternya, kini melonjak menjadi Rp 17 ribu lebih. Sementara telur ayam ras awalnya di angka Rp 19 ribu dan sekarang tembus di angka Rp 24 ribu lebih per kilogramnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Jawa Tengah, Arif Sambodo menanggapi naiknya sejumlah harga komoditas pangan, khususnya minyak goreng curah. Ia menyatakan kenaikan harga minyak goreng curah secara nasional masih dalam harga wajar.

“Betul ada kenaikan harga minyak goreng curah itu lebih karena harga bahan bakunya naik. Harganya masih wajar dan barangnya masih ada, tidak ada kelangkaan,” ungkap Arif, Rabu (27/10/2021).

Ia menuturkan, kenaikan harga minyak curah di Jateng disebabkan oleh naiknya harga bahan baku minyak. Kondisi itu terjadi menyeluruh di semua daerah di Indonesia.

“Kami belum melakukan pengadaan operasi pasar karena harga masih wajar dan masih koordinasi dengan pemerintah pusat,” tuturnya.

Share This

Kebakaran Kilang Minyak Di Cilacap Diduga Karena Sambaran Petir

Peserta Terpilih Antusias Ikuti Term Pertama Indonesia Menuju Broadway: Online & Offline Musical Theater Conservatory