in

Masyarakat Diharap Tak Panic Buying, Pemerintah Diminta Antisipasi Kasus Penimbunan Bahan Pangan

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Tingginya harga beberapa komoditas pangan, menjadi perhatian serius Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko. Apalagi jelang Ramadan dan Idul Fitri 1445 Hijriah, kenaikan harga kebutuhan pangan diprediksi akan terus terjadi beberapa bulan ke depan. Untuk itu, politisi Partai Gerindra tersebut mengimbau masyarakat tak panic buying, yang malah memicu kenaikan harga.

“Karena pada prinsipnya, kenaikan harga ini salah satunya dipicu tidak seimbangnya antara permintaan dan ketersediaan. Jika terjadi panic buying, dan masyarakat melakukan aksi borong, tentu akan ada gangguan ketersediaan. Hal ini akan memicu ketidak stabilan harga,” kata Heri Londo, sapaan akrabnya, Kamis (7/3/2024).

Diketahui, sejumlah barang pokok secara konsisten mengalami lonjakan harga pada satu bulan sebelum Ramadan. Dari pantauan yang dia lakukan di beberapa wilayah, kebutuhan pangan khususnya beras harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Sebagaimana diketahui, HET beras premium saat ini masih tetap yakni Rp 69.500 per 5 kilogram (kg), atau Rp 13.900/kg. Namun kenyataannya di lapangan, pada Kamis (7/3/2024) harga beras premium kini mencapai Rp 16.590/kg sampai Rp 17.000/kg, sedangkan beras medium hampir mencapai Rp 15 ribu/kg sampai Rp 16.000/kg. Bahkan untuk cabai merah mencapai harga Rp 90.000/kg, dan harga telur ayam mencapai Rp 30.000/kg.

“Pemerintah kami harapkan juga aktif melakukan pantauan harga, jika diperlukan bisa dilaksanakan intervensi. Misal menggelar operasi pasar atau menggelar pasar murah di simpul-simpul masyarakat. Satu hal lagi yang perlu diantisipasi, adalah mencegah adanya aksi penimbunan oleh para spekulan yang mencari keuntungan pribadi di tengah situasi tersebut. Ini kalau tidak diantisipasi akan memperparah keadaan. Butuh tindakan tegas untuk para spekulan ini, perlu koordinasi dengan pihak kepolisian guna penindakan,” tegasnya.

Inflasi Tinggi

Sementara Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana mengimbau seluruh kepala daerah di wilayahnya untuk memastikan ketersediaan pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1445 Hijriah.

“Penting bagi kita untuk memastikan ketersediaan bahan pokok strategis dengan harga yang terjangkau,” kata Nana saat memberikan arahan dalam acara High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah Semester I Tahun 2024 dan Persiapan Menghadapi Ramadan di Ballroom Hotel Tentrem, Kota Semarang, Rabu, 6 Maret 2024.

Sebab, dijelaskan Nana, posisi inflasi Jawa Tengah pada Februari 2024 secara month to month (MtM) sebesar 0,57%. Inflasi bulanan yang cukup tinggi disebabkan kenaikan harga beras dalam dua pekan terakhir. Sedangkan inflasi secara year on year (YoY) mencapai 2,98%.

Kondisi inflasi jelang Ramadan ini perlu ditekan lagi oleh semua stakeholder agar tidak melonjak tinggi.

Ada sejumlah isu yang perlu diwaspadai menjeleng Ramadan, di antaranya tren kenaikan harga beras. Hingga 1 Maret 2024, harga beras medium di Jawa Tengah sebesar Rp 15.000 atau mencapai 37% di atas harga acuan pembeli (HAP). Selain itu, kenaikan harga sejumlah komoditas sembako akibat kenaikan permintaan.

Setidaknya empat komoditas yang perlu dilakukan intervensi, yaitu beras medium yang harganya 37,6% di atas HAP, beras premium yang harganya 20,9% di atas HAP, cabai merah besar yang harganya 62,6% di atas HAP, dan gula pasir yang harganya 26,2% di atas HAP.

Adapun enam komoditas lain juga berstatus waspada, yaitu telur ayam ras 16% di atas HAP, cabai merah keriting 41% di atas HAP, bawang putih 23% di atas HAP, cabai rawit merah 35,6%, minyak 5,7% di atas HAP, dan kedelai impor 22,8% di atas HAP.

Menurut Nana, sejumlah langkah antisipasi sudah mulai dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah, di antaranya menggelontorkan bantuan beras Bulog kepada masyarakat dan beras SPHP di pasaran.

Khusus di Jawa Tengah, Pemprov Jateng juga mengeluarkan cadangan pangan untuk membantu masyarakat yang belum menerima bantuan pangan dari Bulog.

“Kita juga mengadakan gerakan pangan murah (GPM) yang dilakukan dari Januari sampai Idul Fitri sebanyak 100 kali. Saat ini sudah berjalan 75 kali,” katanya.(Advetorial-HS)

Kabupaten Cilacap Fokus Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kualitas SDM

Polri Perkirakan Puncak Arus Mudik pada 5 April 2024