Masyarakat Diajak Awasi Peredaran Rokok Ilegal

Sosialisasi gempur rokok ilegal di Ruang Ujungnegoro Bapelitbang Kabupaten Batang. (Foto : jatengprov.go.id)

 

HALO BATANG – Masyarakat di Kabupaten Batang, diajak untuk mengawasi dan menghentikan peredaran rokok ilegal. Salah satu upaya yang bisa dilakukan, adalah dengan tidak membeli produk tersebut.

Upaya menggandeng masyarakat itu, dilakukan oleh Dinas Kominfo Kabupaten Batang bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kota Tegal, dengan melibatkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di desa atau kelurahan, serta penggiat sosial media (sosmed) di Kabupaten Batang.

“Kami mengundang penggiat sosmed serta KIM Desa dalam kegiatan sosialisasi gempur rokok ilegal, agar teman-teman mengetahui ciri-ciri rokok ilegal. Kemudian dapat menyebarluaskan informasi ini kepada masyarakat Kabupaten Batang,” jelas Kepala Diskominfo Kabupaten Batang, Jamal Abdul Naser saat membuka sosialisasi gempur rokok ilegal di Ruang Ujungnegoro Bapelitbang Kabupaten Batang.

Pejabat Fungsional Pemeriksa Bea Cukai Pranata Pertama Direktorat Jenderal Bea Cukai Tegal Bambang Kristiawan mengatakan, sosialisasi ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan terhadap masyarakat, agar mengendalikan tingkat konsumsi rokok ilegal, serta ikut mengawasi peredarannya.

Ia menjelaskan, barang-barang yang dikenakan cukai adalah barang yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam Undang-undang Cukai, karena pemakaiannya dapat menimbulkan efek negatif terhadap masyarakat atau lingkungan hidup.

“Jenis rokok ilegal ada empat, yaitu kemasan rokok dengan pita cukai palsu, kemasan rokok dengan pita cukai berbeda misal pita cukai untuk produk rokok kretek, Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang digunakan pada produk rokok filter Sigaret Kretek Mesin (SKM). Dan kemasan rokok polos tanpa pita cukai, yang mana biasanya nama kemasan rokok ilegal ini menyerupai yang sudah besar atau laku dipasaran,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan KIM Desa Limpung Yogi menambahkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan sosialisasi gempur rokok ilegal ini. Dia berharap, ke depannya peredaran rokok ilegal dapat diminimalisasi di masyarakat.

Namun demikian, daya beli perokok pada masa ekonomi sulit karena pandemi Covid-19 ini, membuat mereka mencari alternatif lain. Upaya yang mereka lakukan, adalah berhenti membeli rokok buatan industri dan beralih membeli tembakau.

Menggunakan kertas, filter, dan lem, mereka melinting tembakau tersebut, agar tetap dapat merokok.

“Di masa pandemi Covid-19 ini, banyak perokok yang beralih dari rokok pabrikan ke lintingan. Harganya lebih terjangkau,” sebut Yogi.

Sementara itu menurut pengamatan, cara yang dilakukan oleh perokok ini bukan hanya ada di Batang, tetapi di kota-kota lain. Di Kota Semarang, tempat penjualan tembakau lintingan yang sebelum pandemi cenderung sepi, setelah pandemi menjadi lebih ramai.

Mereka berburu tembakau aneka rasa, agar tetap dapat merokok. Leo, salah satu perokok mengatakan, membeli tembakau lintingan jauh lebih murah dibanding rokok buatan industri.

Dia membandingkan, untuk sebungkus rokok berisi 16 batang buatan salah satu pabrik besar di Jatim, dia harus merogoh kocek Rp 27 ribu. Tetapi jika melinting sendiri, dia cukup mengeluarkan uang Rp 20 ribu untuk membeli tembakau, kertas, lem dan filter. Jika dilinting, maka tembakau itu bisa menjadi lebih dari 50 batang.

“Dana segitu kadang-kadang sudah termasuk tambahan cengkeh dan wur (semacam kemenyan halus). Sekarang serba susah, termasuk untuk cari uang. Kalau untuk berhenti merokok, juga tidak bisa. Pernah saya coba, tetapi rasanya malah seperti hampir gila. Saya jadi emosian, pengen ngamuk melulu. Ya sudah aku beli ini saja, yang penting tetap bisa ngebul,” kata Leo yang juga pedagang keliling tersebut. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.