Masih Bertahan Mengungsi di Masjid, Warga Sawah Besar Berharap Ada Bantuan Obat-obatan

Sejumlah warga terdampak banjir di kelurahan Sawah Besar, Gayamsari saat ini masih bertahan mengungsi di Masjid Jamik Nidaaul Khoirot, Sawah Besar, Senin (8/2/2021).

 

HALO SEMARANG – Banjir di wilayah Kecamatan Gayamsari, tak hanya terjadi di Kelurahan Sambirejo, namun meluas di Kelurahan Sawah Besar.

Bahkan sampai Senin (8/2/2021) masih ada warga yang bertahan di masjid untuk mengungsi di lokasi yang aman. Pasalnya, rumahnya masih terendam banjir cukup tinggi.

Air banjir yang masuk ke dalam rumah warga di daerah tersebut lebih parah, yakni sedengkul orang dewasa. Tak hanya rumah yang kebanjiran, saat ini kondisi listrik juga mati, sehingga tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.

Salah satu titik, yang menjadi tempat mengungsi warga, yaitu di Masjid Jami Nidaaul Khoirot, Sawah Besar. Ada sekitar 50 warga yang mengungsi di sini. Mulai dari orang tua, dewasa, dan balita.

Salah satu warga RT 3 RW 3, Jalan Tambak Dalam, Heru Handiko mengatakan, warga masih bertahan di masjid sejak Sabtu (6/2/2021), sampai Senin (8/2/2021).

“Kalau di masjid ini disediakan genset untuk penerangan warga. Kalau makanan juga disediakan pengurus masjid yang membuka dapur umum di sini. Warga dapat makan nasi bungkus pagi, siang dan malam, sebanyak tiga kali sehari,” terangnya saat ditemui di pengungsian, Senin (8/2/2021).

Dirinya dan warga lainnya mengatakan, saat ini yang dibutuhkan warga adalah bantuan kesehatan dari instansi pemerintahan, baik itu dari Dinkes, Puskesmas.

Yakni berupa obat-obatan, untuk warga yang saat ini mulai terserang berbagai penyakit kulit. Seperti gatal-gatal, flu dan batuk pilek serta diare.

“Sampai saat ini yang belum ada puskesmas yang ke sini, membantu obat-obatan. Atau memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang mengungsi,” ujarnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Gayamsari, Mulyadi mengatakan, sedikitnya ada 10 RW di Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari Semarang terisolasi akibat terkepung banjir pada Senin (8/2/2021).

Hal itu masih diperparah kondisi listrik di wilayah tersebut padam sejak Sabtu (6/2/2021) dini hari. Praktis, aktivitas warga di permukiman padat penduduk tersebut terganggu.

“Ada sebanyak 10 RW yang terisolasi. Dalam arti, kondisi permukiman padat penduduk tersebut terendam air cukup tinggi yakni rata-rata 50 cm. Kondisi listrik mati selama tiga hari ini dan terjadi kelangkaan air bersih. Otomatis, aktivitas terganggu semuanya,” ungkapnya, Senin (8/2/2021).

Dijelaskannya, listrik mati sejak Sabtu dini hari hingga Senin (8/2/2021), belum menyala. Akibat wilayah terendam banjir dan listrik mati, otomatis warga tidak bisa mendapatkan air bersih.

“Sebelumnya, rata-rata warga menggunakan air artesis, tidak menggunakan PDAM,” katanya.

Upaya bantuan air bersih telah diberikan oleh Pemkot Semarang. “Hanya dapat bantuan satu tangki PDAM. Untuk dua RT saja sudah habis. Padahal ada 52 RT wilayah tersebut,” katanya.

Saat ini, kondisi banjir sudah mulai surut yakni rata-rata dengan ketinggian air 50 cm. Sebelumnya, ketinggian air berkisar 80 cm hingga 1 meter.

“Wilayah paling parah berada di RW 3 Tambak Dalam Raya, yakni jalan menuju Pombensin Arteri. Lainnya ada di RW 4, RW 5, RW 7, RW 8 dan RW 9. Mau keluar tidak bisa, karena motor mogok terendam. Kondisi jalan tergenang semua. Otomatis warga tidak bisa berangkat kerja atau beraktivitas,” paparnya.

Sejumlah bantuan telah datang dari Dinas Sosial (Dinsos), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Puskesmas dan lain-lain.

“Logistik dari kecamatan kemarin dapat 12 sak beras, mi 10 dus, telur dua kotak, jelas untuk satu kelurahan sangat tidak mencukupi. Malah jadi rebutan, dibagi 10 RW masih tidak mencukupi. Ya, kami masih berusaha mencari bantuan,” katanya.

Lebih lanjut, sebagian warga tidak mengungsi karena warga memilih mencari tempat aman di sekitar rumahnya. Warga saling bahu membahu memberi pertolongan kepada tetangga yang rumahnya terendam.

“Warga yang rumahnya terendam terpaksa menumpang di rumah tetangga yang posisinya lebih tinggi,” imbuh dia.

Camat Gayamsari, Didik Dwi Hartono saat dikonfirmasi mengatakan, sebagian wilayah di Kecamatan Gayamsari memang masih terendam banjir. Di antaranya di Kelurahan Tambakrejo, Kaligawe, Sawah Besar, Siwalan dan Sambirejo.

“Ada lima kelurahan yang masih terendam banjir cukup tinggi. Beberapa warga sudah kami evakuasi karena sakit, kami bantu dengan ambulance. Sejumlah tempat pengungsian telah disiapkan, misalnya di Tambakrejo berada di sebuah bangunan sekolah, Aula SMPN 4 Siwalan, ada juga yang ditempatkan Balai RW. Kurang lebih ada 50 warga diungsikan,” katanya.

Hingga hari ini Senin, (8/2/2021), kata Didik, di Kecamatan Gayamsari ada 57 dapur umum. Pihaknya mengaku telah berupaya membantu kebutuhan logistik.

“Ada beras, mi instan, telur, dan lain-lain. Dapur umum sudah tiga hari. Saat ini genangan air rata-rata kurang lebih 50 cm. Mungkin paling parah di Jalan Kaligawe tepatnya di bawah Jembatan Tol Muktiharjo,” katanya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.