in

Masih Berburu Kursi PNS

Marjono.

 

DIAKUI atau tidak, PNS masih menjadi salah satu kursi yang diburu kaum muda di negeri ini. Di musim pandemi Covid-19 telah mengubah segalanya, termasuk munculnya PHK, PPKM yang turut memengaruhi pendapatan masyarakat yang mencoba berwirausaha.

Maka kemudian, dengan atau tanpa pandemi, setiap dibuka pendaftaran CPNS selalu diserbu masyarakat yang menyisakan antrean panjang, meski yang dibutuhkan mungkin hanya 1 kursi CPNS. Tahun ini saja tak kurang 4,1 juta pelamar CPNS termasuk PPPK.

Selain itu, tentu saja gaji yang relatif besar serta jaminan masa tua karena mendapat uang pensiun menjadi faktor lain yang turut merayu animo masyarakat.

Sebenarnya pendaftar CPNS itu tak semuanya punya mimpi jadi PNS secara utuh atau murni. Ada saja yang hanya karena amanat orang tua, atau karena ter-PHK. Dengan lolos tes CPNS maka jaminan masa depan dianggap lebih aman ketimbang hanya bekerja serabutan atau buruh.

Juga ada, alasan sekenanya, yakni lebih pada iseng-iseng berhadiah atau coba-coba. Diterima Alhamdulillah, tidak diterima tidak apa-apa. Terpenting sudah mencoba dan bersaing atas segenap potensi yang dimiliki. Jika lulus tes berarti ada hadiah nomor induk pegawai dan ketika mengajukan pinjaman di bank cukup dengan selembar SK tanpa perlu menjual sebidang tanah dan sebagainya.

Kemudian ada pula pendaftar CPNS hanya sekadar latah atau ikut-ikutan kawan-kawannya sekampus, seangkatan atau merasa senasib kala berstatus pengangguran intelektual. Pada model latah ini, acap menggunakan banyak cara agar bisa lolos secara kolektif dengan strategi yang berakal sehat seperti belajar giat. Pada aras lain, melamar CPNS pun tak lebih hanya alasan status atau sekadar sebagai side job di balik belaka.

Tapi ada yang melakukan cara irasional, seperti menggunakan azimat kala tes berlangsung seperti yang pernah dipergoki petugas beberapa tahun silam. Ada juga yang nekat menggunakan joki atau rela mengeluarkan kocek yang tak sedikit demi mendapatkan jawaban tes yang abal-abal.

Namun juga ada yang berkata menjadi PNS karena ingin melayani rakyat, ada pula yang beralasan agar diterima calon mertua. Seluruh motivasi dan penyemangat tersebut sah-sah saja bagi pelamar CPNS.

Sebelum bertanding secara fair lewat tes CPNS/PPPK, beberapa mereka harus puas dengan diskualifikasi tidak lolos administrasi. Waktu berproses, pada tahapannya ada yang lulus dan diterima menjadi PNS tapi tak sedikit yang harus kecewa tak bisa terangkut dalam gerbong pegawai berpelat merah.

Buat yang lolos seleksi, tentu saja menjadi kado terindah dalam napasnya dan penting segera beradaptasi, selalu belajar, menegakkan integritas dan siap memberikan pelayanan masyarakat yang cepat, mudah dan murah.

Menjadi PNS memang incaran sebagaian anak muda, sebagian orang tua, dan sebagian masyarakat kita. Tak dipungkiri karena mendamba jadi PNS, maka simpang jalan kadang dilalui, seperti mereka yang terjebak calo, ada yang berusaha menyogok atau menyuap orang tertentu dengan janji-janji angin surga.

Profesional, pemanusiaan dan fairplay kerap beraduk dalam setiap rekrutmen pendaftaran CPNS baru. Maka kemudian tak sedikit kelompok, seperti K2 atau pegawai honorer lain berharap minta langsung diangkat menjadi PNS tanpa melalui tes.

Ada pula kelompok yang minta afirmasi kelompok tertentu yang mengusulkan kepada pemerintah dengan meniadakan salah satu atau beberapa jenis tes CPNS. Juga masih ada saran atau masukan politisi agar pemerintah mengangkat tenaga honorer menjadi PNS tanpa memandang usia, dan sebagainya.

Atau mereka yang nyata-nyata tidak lolos tes memaksakan kehendaknya untuk diangkat statusnya sebagai CPNS. Suka tak suka, kawan-kawan yang belum beruntung, masih banyak jalan menuju Roma. Tak sedikit kesempatan dan peluang di luar yang jauh lebih menantang ketimbang sebagai PNS.

Mengulang tahun depan juga boleh atau mencoba melakukan usaha produktif secara mandiri, menjadi sosok wirausaha yang bisa menjalankan bisnisnya tanpa dibatasi jam kerja harian. Best practice, pengusaha muda telah memberi bukti atas kerja-kerja pengusaha muda ini.

Kaesang dengan bisnis Markobar-nya, bersama Sang Pisang, Sofyan Adi Cahyono dengan bisnis pertanian organic di Kopeng, Bang Kadir bersama bisnis burung kenari di Kawasan Sekaran, dan sebagainya.

Meralat Diri

Atau kita bisa mencoba melamar pekerjaan di perusahaan swasta domestik maupun di luar negeri. Atau para muda juga bisa memanfaatkan waktunya dengan mengikuti diklat, magang, ikut kursus sesuai bakat dan minat juga tentu saja menawarkan perspektif masa depan yang lebih baik.

Sudah saatnya kaum muda meralat diri, memperbaiki atas capaian yang pernah diraih sebelumnya menjadi naik kelas dan lebih punya nilai beda, sekaligus memiliki daya hidup yang makin inovatif.

Bukan eranya lagi, anak muda yang hanya cakap menggerutu, mencaci zaman, tapi pemuda yang mau melalukan autokritik, belajar dan berjuang di aras terjal sekaligus tidak memanfaatkan moral hazard.

Sebagai manusia sehat, sudah seharusnya kita malu kepada orang-orang miskin, kawan disabilitas bahkan masyarakat pinggiraan lainnya yang terus berjibaku mengubah nasib dan masa depannya dengan cara genial (riang dan berani), termasuk mengambil risiko. Misalnya, mempertahankan haknya kala jatah bantuannya diserobot orang-orang kaya yang memiskinkan diri.

Sebagai kelompok terpelajar atau intelek sudah semestinya mampu mengimplementasikan konsep/terori maupun modul sekolah atau tembok kampus ke dalam bejana nyata kehidupan realitas di tengah masyarakat. Jadi jangan sampai mengelu-elukan sebagai juara angkatan, jago kelas atau mengantongi IP tinggi, karena urusan pekerjaan tidak berkorelasi dengan angka-angka akademik semua itu.

Ketika memilih jalur mandiri atau bekerja di luar pemerintah, maka mesti punya produk yang beda. Termasuk produk ide, bisnis, kemasan, pemasaran.

Terpenting produk, layanan, kualitas dan kontinyuitas harus terjaga. Ada baiknya kita membaca dan mengeja ulang: PNS, bekerja dan kita. Untuk apa kita bekerja, karena finansial, kepuasan atau lainnya. Semua berpulang pada kita. Lain tidak.(HS)

Penulis: Marjono, Eksponen Pendamping Desa Miskin Indonesia dan Penulis Buku.

Share This

Berbagai Promo Spesial di Bulan September Hotel Ciputra Semarang

Wali Kota Gibran Minta RPJMD Berdasar Prioritas