in

Masih Ada Kendala, Posko Pengaduan Pedagang Johar Dibuka Sampai Perpindahan Pedagang

Salah satu pedagang Johar saat melihat kondisi lapaknya di Johar Cagar Budaya.

 

HALO SEMARANG – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang akan membuka posko pengaduan pedagang sampai perpindahan pedagang dari tempat relokasi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ke Kawasan Johar. Sebab, dimungkinkan permasalahan pedagang masih akan terjadi mengingat kendala yang timbul di lapangan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman mengatakan, posko pengaduan akan dibuka hingga perpindahan pedagang dari tempat relokasi ke kawasan Johar. Dimungkinkan, jumlah pedagang akan bertambah mengingat masih ada kendala yang timbul di lapangan.

Dia menyebutkan, persoalan yang diadukan pedagang kepada dinas tak jauh dari pembahasan saat audiensi dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, beberapa waktu lalu. Dikatakannya, antara lain aduan pedagang ukuran kios maupun los menjadi kecil, pedagang merasa terlempar karena tidak mendapatkan lapak di Johar Utara.

“Untuk posko aduan pedagang di Johar sebenarnya sudah dibuka sejak Senin (4/10/2021) sampai Rabu (6/10/2021).

Sebanyak 100 pedagang tercatat mengadu persoalan penataan Pasar Johar kepada kami,” katanya, Kamis (7/10/2021).

Dinas Perdagangan, kata dia, sudah melakukan sosialisasi berkali-kali bahwa kapasitas Johar Utara dan tengah memang tidak seperti semula. Dua blok tersebut tidak bisa menampung seluruh pedagang.

“Johar Utara dan Tengah tidak bisa masuk semua, sehingga yang tidak masuk di situ harus bisa menerima. Itu yang kami sampaikan,” jelasnya.

Selain itu, ada pula pedagang yang mengadukan belum mendapatkan lapak. Menurut Fravarta, semua sudah dimasukkan dalam undian. Pedagang seharusnya sudah mendapatkan notifikasi mengenai informasi pengundian. Hanya saja, jika pedagang mendapat lapak di Johar Selatan, basement Alun-Alun Johar, dan Shopping Center Johar (SCJ) memang belum tertera nomor lapak dalam notifikasi. Pasalnya, saat ini sementara lapaknya belum siap ditempati.

“Sehingga sementara notifikasi hanya ditempatkan di Johar Selatan atau SCJ. Ketika lapaknya sudah siap, kami undi,” terangnya.

Sebagian pedagang, lanjut Fravarta, juga mengadu belum mendapatkan notifikasi.

“Ini yang akan dicek kembali oleh petugas. Pasalnya, notifikasi sebenarnya bisa dicek melalui handphone masing-masing. Jika handphone tidak mendukung smartphone atau nomor handphone ganti, tentu notifikasi tidak bisa masuk. Ada pula yang dulu mendaftar lewat kelompok atau orang lain. Sehingga, pemberitahuan masuk ke nomor yang mendaftarkan,” katanya.

“Ini segera kami selesaikan. Ketika ada pengaduan kami dalami dan hasilnya seperti apa kami informasikan,” tambah Fravarta.

Di samping menerima pengaduan, Dinas Perdagangan juga masih membuka pemberkasan untuk berita acara serah terima los atau kios. Fravarta berharap, pedagang yang sudah tidak bermasalah dengan persoalan penataan segera menepati lapak maksimal 10 Oktober mendatang.

Sementara itu, seorang pedagang sembako, Nani mengaku kecewa dengan hasil pengundian. Semula dia berjualan di Johar Tengah sebelum kejadian kebakaran. Dari hasil pengundian, dia mendapatkan lapak di Kanjengan lantai tiga. Dia merasa keberatan karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk naik turun berjualan di lantai tiga tersebut.

“Sejak nenek saya, ibu saya, sekarang saya sudah 42 tahun berjualan di Johar Tengah. Saya nangis dapat di Kanjengan lantai tiga. Ukurannya kecil. Kemarin saya lihat ke sana, saya tidak kuat kakinya karena habis operasi,” ungkapnya.

Dia pun mencoba menghubungi Dinas Perdagangan agar posisi lapak bisa diganti di Johar Tengah. Sampai saat ini, dia mengaku belum memastikan kapan akan pindah. Bahkan, menurut dia lebih nyaman di tempat relokasi MAJT jika dibandingkan dengan lapak yang diperolehnya, yakni di Kanjengan.(HS)

Share This

Jahe Rempah Makin Diminati Saat Masa Pandemi

Persoalan Pembagian Lapak Pasar Johar Belum Juga Selesai