in

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, Forum Anak Batang Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas

Forum Anak Batang Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas dalam acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Batang. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Forum Anak Kabupaten Batang menyosialisasikan bahaya seks bebas dan pernikahan anak, dalam acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), di sejumlah sekolah, 11 Juli hingga 13 Juli.

Wakil Ketua Forum Anak Kabupaten Batang, Sukma Berlian Asri mengatakan, pihaknya memilih momentum MPLS, untuk menyosialisasikan bahaya dari seks bebas, hingga pernikahan anak, karena akan lebih mudah dipahami peserta didik baru.

“Di situ kami kasih tahu, bagaimana cara berteman yang baik, mengenal makna cinta secara benar, sehingga bisa meminimalkan pergaulan bebas,” kata dia, setelah menjadi pemateri, dalam kegiatan Forum Anak Kabupaten Batang Goes To School, di SMAN 2 Batang, Kabupaten Batang, Selasa (12/7/2022).

MPLS bisa menjadi sarana bagi peserta didik baru, untuk belajar memilih teman yang membawa dampak positif atau negatif.

“Saya sendiri memandang pacaran itu lebih baik dikesampingkan dulu dan fokus berprestasi. Kalau teman dekat bisa saja, tapi hanya sebatas teman ngobrol atau curhat dan tidak lebih dari itu,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.

Di sisi lain, ia juga menyikapi tentang peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan di beberapa media, tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pendidik kepada siswinya.

“Saya juga sedikit khawatir terhadap guru laki-laki. Para guru harus bisa menjaga jarak atau batasan tertentu terhadap siswinya,” katanya.

Sementara fenomena pernikahan dini yang sempat meresahkan banyak kalangan, menurut dia pelajar perlu mendapat pengetahuan lebih banyak, agar mereka memprioritaskan pendidikan.

“Banyak faktor terjadinya pernikahan dini, misalnya dari keluarga mereka ada yang tidak utuh, orang tua yang kurang mendukung terhadap pendidikan anaknya, dari sisi ekonomi ada yang terdampak karena adanya Covid-19, jadi ada sebagian dari mereka putus sekolah dan lebih memilih nikah dini,” jelasnya.

Sebagai upaya, Forum Anak Kabupaten Batang telah mengusulkan kepada Pemkab Batang, agar menambah jumlah beasiswa bagi anak-anak dari golongan kurang mampu, hingga ke desa-desa.

Ia juga mengharapkan, agar adik-adik kelasnya memiliki prinsip yang teguh.

“Jangan mudah terpengaruh oleh ajakan yang tidak benar. Kalau perilaku mereka di sekolah baik, insya Allah guru-guru juga akan baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Batang Sugeng mengatakan, seiring berubahnya PPKM di Kabupaten Batang menjadi Level 1, maka aktivitas di institusi pendidikan mulai diizinkan digelar secara tatap muka.

Beberapa narasumber juga telah terjadwal seperti Koramil Batang dengan tema bela negara dan Forum Anak Kabupaten Batang yang mengusung tema sekolah ramah anak.

“Kami mengundang mereka supaya bisa ikut mengedukasi sebayanya, tentang bahaya seks bebas, sehingga meminimalkan pernikahan di usia produktif,” tegasnya.

Ia mengakui, di luar sana banyak terjadi pernikahan di usia dini, yang disebabkan pandemi selama dua tahun berturut-turut.

“Alhamdulillah di sekolah kami tidak terjadi. Tapi kami mengantisipasi itu, dengan mengundang nara sumber berkompeten untuk mengedukasi seputar reproduksi dan perilaku seks yang benar,” ungkapnya.

MPLS kali ini, lanjut dia, dikemas dalam bentuk diskusi ringan, dan nara sumbernya pun memiliki kapasitas, sehingga anak merasa nyaman mendengarnya. Berbeda jika  para guru yang menyampaikan materi seputar reproduksi, tentu membuat sebagian anak kurang nyaman.

Menyikapi peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik yang tidak bertanggung jawab terhadap siswinya, ia memandang perilaku itu dapat mencoreng nama baik institusi pendidikan yang tujuan utamanya sebagai tempat anak mendapatkan pendidikan dan pengajaran, agar memiliki budi pekerti yang baik.

“Peserta didik baru juga sudah ditekankan bahwa sekolah ini ramah anak. Artinya tidak ada perundungan, perploncoan dan pelecehan seksual,” terangnya.

Harapannya, anak-anak merasa nyaman saat berada di lingkungan sekolah.

“Sosialisasi itu juga kami sampaikan kepada orang tua atau wali murid, untuk bersama-sama menjaga anak baik ketika berada di sekolah maupun rumah,” ujar dia.

Ia menambahkan, para pendidik pun diimbau berperilaku yang baik dan benar saat kegiatan pembelajaran dan terhindar dari perilaku pelecehan seksual.

“Jumlah peserta didik di tahun ajaran 2022/2023 sebanyak 287 siswa yang akan dibimbing oleh bapak/ibu guru pola pembelajaran tatap muka, sehingga mudah dipahami anak,” kata dia. (HS-08)

Disnaker Batang Beri Pelatihan Berbasis Kompetensi pada Keluarga Buruh dan Petani Tembakau

Momentum Kebangkitan UMKM, Pemkot Ajak Meriahkan Pekalongan Culinary and Creative Fest 2022