Mantan Pemain Terbaik Asia Asal Thailand Kini Kehabisan Uang untuk Bertahan Hidup

Mantan pemain sepak bola Thailand, Bamrung Boonprom.

 

BANYAK generasi muda di Indonesia yang menaruh mimpinya di dunia sepak bola. Mereka dengan lantang menyampaikan ke orang tuanya, bahwa mereka memiliki cita-cita menjadi seorang pemain sepak bola profesional.

Sejatinya sungguh wajar bila fenomena tersebut sampai kerap terjadi. Realita sepak bola yang nampak pada layar kaca ataupun media sosial, memanglah begitu mewah.

Sejumlah bintang ternama dunia, sebut saja Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, sering jadi perbincangan publik, lantaran punya kemampuan olah bola yang memukau.

Keduanya dipuja banyak penggemar dan juga memiliki harta melimpah.

Bagi yang tinggal di Eropa, impian semacam itu terbilang masih relevan untuk diwujudkan. Pentas sepak bola Benua Biru sudah tertata rapi, mulai dari pendidikan usia dini, hingga manajemen kompetisi, serta perputaran uang.

Namun ekspektasi besar itu sepertinya harus dipikirkan ulang jika berbicara sepak bola di Indonesia, bahkan di beberapa negara di Asia Tenggara.

Berbicara mengenai pentas sepak bola profesional Indonesia, pasti akan banyak diselimuti cerita pahit. Isu pengaturan skor, rusuh antara suporter, jadwal liga yang semerawut, keterlambatan gaji, tak henti-hentinya muncul di pemberitaan media massa.

Kesan suram yang nampak, mungkin membuat sejumlah orang tua di Indonesia sulit mengizinkan anaknya untuk menjadi pemain sepak bola profesional.

Hal ini juga dialami salah satu potensi besar dari negeri Gajah Putih. Virus Corona rupanya membuat banyak atlet dan pelatih di Thailand yang kesulitan untuk sekadar bertahan hidup di tengah pandemi.

Kebanyakan mereka menggantungkan hidup dari olahraga yang ditekuninya. Salah satunya adalah Bamrung Boonprom.

Nama Boonprom mungkin masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Tapi sang pemain pada era 90an menjadi salah satu wonderkid Thailand yang masuk ke dalam skuad Timnas Thailand U-17, yang berlaga di Piala Dunia pertama mereka di Mesir.

Bahkan di usia 19 tahun, Boonprom sukses menyabet gelar pemain muda terbaik AFC pada 1996, mengalahkan kompatriotnya yang juga legenda sepak bola Thailand, Sutee Suksomkit.

Sayang, karir Boonprom tak bertahan lama. Cedera parah membuat karirnya tamat pada 2003 atau di usia 26 tahun.

Pada 2009 Boonprom mencoba kembali dan memperkuat Lopburi, sayang comebacknya tak cemerlang dan hanya bermain di lima laga selama dua tahun. Setelahnya Boonprom meniti karir kepelatihan.
Sempat menjabat sebagai pelatih interim Timnas U-19 Thailand pada 2019, saat ini pandemi Covid-19 membuatnya menganggur.

Situasinya saat ini sang pelatih hanya berada di rumah mengurus peternakan tanpa pemasukan.

“Saya tak punya uang lagi karena gaji sebelumnya telah dipakai untuk membeli mobil, babi 10 ekor dan membayar pinjaman bank,” kata Boonprom dikutip dari media Thailand, Siamsport.

Menurutnya, manajemen Timnas U-19 Thailand berjanji akan mengangkatnya menjadi staf tetap. Namun hingga saat ini dirinya menganggur belum mendapatkan panggilan.

“Saya menunggu jika ada tim yang berminat memakai jasa saya sebagai pelatih. Hubungi saja facebook saya jika berminat. Saya punya banyak pengalaman,” ujarnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.