Mangut Kepala Manyung Bu Bekti, Pertahankan Resep Keluarga Selama 30 Tahun

Bu Bekti menyajikan mangut kepala manyung di rumah makannya yang ada di Jalan Puri Anjasmoro Raya, D1 nomor 1 Semarang.

 

PERPADUAN sejarah, tradisi, dan budaya, menjadikan Kota Semarang selalu menarik untuk dijelajahi, termasuk kulinernya. Mulai dari lumpia, es krim, soto, hingga makanan laut.

Selain kuliner yang sudah sangat populer seperti lumpia dan soto, di Semarang ada makanan yang menjadi favorit warga di Kota Semarang, namanya Mangut Kepala Manyung.

Makanan ini memang menawarkan cita rasa pedas, gurih, dan tentu lezat khas rempah, sehingga banyak diburu wisatawan maupun warga lokal saat jam makan siang.

Manyung adalah jenis olahan ikan laut yang biasa disebut ikan asap. Hal ini karena proses pengolahannya yang diasapi.

Ada satu tempat makan Mangut Kepala Manyung yang cukup legendaris, usianya mencapai 30 tahun, yaitu Warung Makan Kepala Manyung Bu Fat di Jalan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat.

Dan kini salah satu anak dari Bu Fatimah, yaitu Bekti Mulyani, membuka rumah makan dengan konsep yang hampir sama di Jalan Puri Anjasmoro Raya, D1 nomor 1 Semarang.

Di sana Bu Bekti menyediakan banyak aneka masakan mangut, seperti mangut lele, mangut sembilang, mangut belut, mangut manyung, mangut pari, dan tak lupa makanan pelengkap lainnya seperti sea food dan sayuran. Tak hanya itu, Bu Bekti menambahi menunya dengan tongseng kambing sebagai pelengkap.

“Yang membuat khas dari resep keluarga kami, yaitu mangut dengan cita rasa pedas cabai. Resep kami terjaga sejak tahun 1990, seperti pertama kali ibu saya membuka warung makan Bu Fat,” kata Bekti Mulyani, Senin (9/11/2020).

Selama ini, Bu Bekti, sapaan akrab Bekti Mulyani, memang didapuk sebagai penjaga resep Kepala Manyung Bu Fat. Bahkan dia sering mengikuti event kuliner di luar kota.

“Untuk yang mengelola Manyung Bu Fat saat ini adalah adik saya. Saya membuka baru di Puri Anjasmoro, dengan resep yang hampir sama dengan nama baru, Bu Bekti. Kami tak bersaing, karena memang resep kami sama namun beda segmen,” katanya.

Mangut Kepala Manyung Bu Bekti, seporsi dihargai Rp 40.000. Seporsi ikan bisa untuk 2 sampai 3 orang.

Untuk menjaga cita rasa Kepala Manyung Bu Fat, Bu Bekti mengaku bahwa ikan manyung, belut, dan lele yang jadi menu dasar masakannya, diasap sendiri oleh keluarga di Demak. Pemilihan bahan baku juga dilakukan sendiri, dan dipastikan tanpa pengawet.

“Ikan manyung kami datangkan dari berbagai daerah, sesuai standar kami. Daerah yang suplay bahan baku ini berasal dari nelayan dari Indramayu, Rembang, Juwono (Jepara). Sepekan kami mengolah lebih dari 7 kwintal. Ada yang dikirim ke Jakarta karena kami juga memiliki cabang di sana, serta untuk pasokan rumah makan keluarga yang ada di Kota Semarang,” katanya.

Rumah Makan Kepala Manyung Bu Bekti sendiri buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 21.00.

“Kenapa saya tak menggunakan nama Bu Fat, karena jarak yang dekat dengan warung utama. Jadi saya berusaha membangun brand sendiri dengan nama Bu Bekti. Kami tak bersaing, karena memang bidikan kami segmen yang berbeda,” katanya.

Sebagai informasi, Bu Fatimah, pendiri rumah makan Kepala Manyung Bu Fat sendiri telah meninggal dunia sekitar 20 tahun yang lalu.

Menurut Bu Bekti, dulu ibunya menjual mendoan dan pecel di sebuah warung tenda yang kini jadi rumah makan Kepala Manyung Bu Fat.

Setelah menjadi juara lomba kuliner di Semarang pada tahun 2009, Bu Fatimah membuka warung makan dan menjual Gulai Kepala Manyung. Tak dinyana, menu ini menjadi kondang hingga kini.

Sebelum digulai, kepala Ikan Manyung diasapi terlebih dahulu. Aroma ikan asap berpadu dengan kuah gulai yang tidak terlalu kental, memberikan sensasi rasa tersendiri.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.