in

Manfaatkan Lahan Sawah Terbengkalai, Dua Pokdakan di Kendal Budi Daya Ikan Nila Salin

Pokdakan di Desa Turunrejo, Kecamatan Brangsong, Kendal, memanfaatkan lahan sawah yang terbengkalai untuk budi daya ikan nila salin.

HALO KENDAL – Budi daya ikan nila salin yang dilakukan dua kelompok pembudi daya ikan (Pokdakan) di Desa Turunrejo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal menjadi sektor usaha perikanan yang menjanjikan.

Dua Pokdakan ikan nila salin, yakni kelompok Berkah 1 dan Berkah 2, masing-masing beranggotakan sekitar 20 orang tersebut, setiap kelompok mendapatkan bantuan bibit ikan, pakan, dan peralatan tambak dari pemerintah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal, Hudi Sambodo mengatakan, dua kelompok budi daya itu memanfaatkan lahan sawah yang terbengkalai di Desa Turunrejo.

Dijelaskan, Kampung Nila Salin, Desa Turunrejo mulai dikelola sejak tahun 2023, setelah mendapatkan bantuan dana alokasi khusus (DAK) fisik tematik dari pemerintah pusat.

“Dari puluhan hektare lahan sawah yang terbengkalai di Desa Turunrejo, kini telah dimanfaatkan dan disulap menjadi Kampung Nila Salin yang akan dijadikan percontohan,” ujar Hudi, Rabu (8/11/2023).

Kepala DKP tersebut juga mengungkapkan, lahan sawah yang dimanfaatkan warga berada di dekat pantai yang terkena abrasi air laut. Sehingga sawah tidak bisa lagi ditanami padi, disulap menjadi tambak ikan nila salin

“Jadi sekarang dijadikan kampung budi daya ikan. Sehingga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani pemilik lahan itu,” ungkap Hudi.

Dirinya menjelaskan, ikan nila salin merupakan jenis nila unggul yang sebelumnya telah melalui proses adaptasi dari salinitas 0 ppt (tawar) ke salinitas mencapai 20 ppt (payau).

“Ikan nila ini memiliki daya tahan tubuh yang tinggi terhadap penyakit, mudah dibudi dayakan, dan pertumbuhannya cepat,” jelas Hudi.

Anggota Pokdakan Berkah Desa Turunrejo, Ahmad menjelaskan, budi daya ikan nila salin jauh lebih menguntungkan dibanding budi daya ikan lainnya. Selain itu keunggulannya terutama pada pertumbuhan yang lebih cepat, sehingga dapat dipanen lebih cepat dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit.

”Budi daya ikan nila salin sangat prospek untuk dikembangkan mengingat jenis ikan ini lebih mudah dipelihara dan harga jual yang relatif lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris DKP Kendal, Joko Suprayoga menambahkan, pencanangan Kampung Nila Salin dengan prinsip berkelanjutan di Desa Turunrejo, Kecamatan Brangsong, menjadi langkah yang sangat strategis. Mengingat, dari sisi teknis dan ekonomis, nila salin memang diketahui sudah memiliki sejumlah keunggulan.

“Dari aspek ekonomis, pemasaran ikan ini juga terbuka lebar untuk dipasarkan di lingkup domestik ataupun dijadikan komoditas ekspor. Peluang itu sangat terbuka, karena tekstur daging nila salin disukai lidah masyarakat dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Joko menjelaskan, dengan fakta tersebut, kemudian ditegaskan oleh badan pangan PBB (FAO) yang menyebutkan nila salin ditetapkan sebagai chicken of the water, karena punya keunggulan yang tidak dimiliki ikan lain.

“Di antaranya, daging berwarna putih. Sehingga sangat disukai masyarakat dunia. Kemudian, dapat dengan mudah dibudi dayakan secara massal oleh masyarakat, dan sebagai komoditas yang potensial untuk menopang ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Joko menambahkan, selain keuntungan ekonomis, secara teknis, sisik ikan nila salin mampu mengeluarkan lendir yang mengandung bakteri dan sangat bermanfaat bagi sterilisasi air di lingkungan budi daya.

“Itulah, yang menjadi alasan kuat untuk menjadikan nila salin sebagai percontohan untuk penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan,” imbuhnya.(HS)

Perluas Layanan ke Konsumen, Honda Semarang Center Bodi dan Cat Kedua Di Semarang Resmi Dibuka

Udinus Bakal Gelar Job Fair, Perusahaan Besar Ikut Partisipasi