Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Mampu Bertahan 15 Tahun, Hysteria Dapat Apresiasi Dari Wali Kota Semarang

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang hadir di peringatan ulang tahun Hysteria di Jalan Stonen, Semarang.

HALO SEMARANG – Genap berusia 15 tahun Lembaga Seni Pengembangan Komunitas, Hysteria menggelar pameran sederhana dan pentas musik di markasnya, Jalan Stonen 29, Bendanngisor, Gajahmungkur, Semarang Rabu (11/9/2019) kemarin. Acara yang dihadiri puluhan wakil dari komunitas seni ini diramaikan penampilan Soegi Bornean, PatiAyam, dan Yennu Ariendra yang malam itu tampil membawakan remix dangdut koplo.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihardi yang malam itu juga datang menyambut baik konsistensi dan loyalitas Hysteria dalam berkontribusi untuk kota terutama kampung-kampung di Semarang.

“Saya kenal Hysteria sekitar 2012-2013 dan beberapa kali terlibat dalam acara kampung, tapi setelah itu seolah mereka hilang ternyata absennya mereka karena lebih banyak bergiat di jaringan yang lebih besar,” sambut wali kota yang karib disapa Hendi tersebut.

Selain Hendi, turut hadir Kepala Bidang Pengembangan SDM, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Disporapar Provinsi Jawa Tengah, Trenggono dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari yang memberikan apresiasi mendalam atas upaya Hysteria menghadirkan atmosfer kreatif di Semarang.

Ketua panitia, Istiqbalul Fitriya Asteja mengatakan, perayaan ini dikonsep sederhana hanya menampilkan kertas kerja, instalasi interaktif berupa doa dan harapan dan perayaannya sendiri di halaman belakang rumah.

“Tema ‘Budidaya Budaya’ dipilih karena selama 15 tahun Hysteria setia memperjuangkan gagasan bahwa seni itu penting di Semarang di tengah kesibukan orang mencari uang,” ujarnya.

Diakuinya bukan hal yang mudah untuk bertahan dan berkembang di Semarang mengingat infrastrukturnya belum saling bersinergi dan apresiasi masyarakat rendah. Hal inilah yang membuat Semarang dikenal mempunyai mitos kuburan seni.

“Usia komunitas biasanya berkisar 1-4 tahun saja setelah itu mati lemas satu-satu,” paparnya.

Sementara itu Direktur Hysteria, Salahadin menambahkan, apa yang sudah dirintis selama 15 tahun terakhir menjadi satu jenjang estafet yang baik bagi insan seni dan komunitas di Semarang.

“Kami mengalami terlalu banyak patahan sehingga antar generasi tidak nyambung, Hysteria hendak memupus nilai itu karena bagi kami komunitas supaya kuat ya saling menguatkan satu sama lain,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang