in

Malikul Alam, Santri Sekaligus Penyair Bersama Ikan Nila

Malikul Alam sedang memberi makan ikan nila di karamba miliknya, Senin (6/9/2021).

 

HALO SEMARANG – Pendidikan di pondok pesantren acap kali tidak hanya menekankan pada pembekalan ilmu agama saja. Pondok pesantren juga memiliki potensi mengembangkan dunia wirausaha.

Hal itu diakui oleh Malikul Alam, seorang santri Pondok Pesantren Al Manshuriyah Jalan Margosari Nomor I, Tambak Dalam, Sawah besar, Gayamsari, Kota Semarang yang mulai menekuni budi daya ikan nila.

Menurutnya, sesuai perkembangan zaman, para santri pondok pesantren juga diajarkan ilmu di luar keagamaan yang berguna dalam kehidupan dalam bermasyarakat.

“Sudah banyak pesantren yang santrinya dibekali ilmu pertanian, perkebunan, dan peternakan. Seperti budi daya nila yang saya geluti ini, bisa memotivasi bagi santri-santri lain, di samping ngaji agama, juga ngaji kehidupan, untuk bekal saat sudah terjun di masyarakat nanti,” kata pemuda yang kerap disapa Malik, Senin (6/9/2021).

Ia menceritakan awal mula ketertarikan menggeluti budi daya ikan nila. Tekad itu muncul ketika pandangannya tertuju pada tambak terbengkalai yang tak jauh dari pondok pesantren.
Ia memasang karamba berukuran kecil yakni 6 x 5 meter dengan kedalaman satu meter di tambak yang mangkrak tersebut.

“Warga sekitar sini juga mulai banyak yang memanfaatkan tambak untuk budi daya ikan. Dari itu, saya ikut mencoba. Saya masih menggunakan alat seadanya, bulan Juli lalu saya tebar benih 1400 bibit nila. Nila merah 400 ekor, nila hitam 1000 an ekor,” tutur santri yang juga menggeluti dunia penyair ini.

Dua bulan pertama, ia mulai merasakan sejumlah kendala dalam budi daya ikan nila. Hal mendasar seperti pakan yang sudah matang ia perhitungkan, membengkak seiring tumbuh kembang ikan nila.

“Biasanya hanya 30 kilogram dalam dua pekan. Namun pakannya tambah banyak karena ikan semakin besar. Saya sempat mau mengirit pakan, tapi kasihan melihat nilanya,” papar pemuda berkacamata ini.

Walau sempat keteteran, ia tetap berupaya supaya budi dayanya tetap berjalan. Dalam benaknya, terbesit mengembangkan budi daya ikan nila menjadi lebih dari sekarang.

“Kalau waktu masih bisa diatur. Masih seimbang antara mengaji dan mengurus ikan. Meski pun baru usaha kecil, semoga bisa memotivasi santri lain di manapun mereka berada,” ujar Malik, penulis buku Sajak dan Perih Satu Fragmen ini.

Meski baru seumur jagung, sudah ada masyarakat yang menengok budi daya ikannya untuk dijadikan pelengkap makan. Malik menjelaskan, akhir tahun ini ikannya sudah dapat dipanen.

“Sudah ada warga yang sering ke sini. Kebanyakan mereka beli kiloan. Sementara untuk rencana panen semua nila, itu nanti akhir tahun,” jelasnya dengan ramah.(HS)

Share This

Meski Level 2, Bantuan Penanganan Covid-19 Tetap Mengalir Ke Kota Semarang

Start Cepat dan Kuat Pimblett