Makin Kompleks, Penanganan Erupsi Merapi Di Tengah Pandemi

Rapat Koordinasi Penanganan Pengungsi Merapi di Ruang Command Center, Setda Kabupaten Magelang. (Foto : Magelangkab.go.id)

 

HALO MAGELANG – Penanganan bencana Merapi saat ini lebih kompleks karena bersamaan dengan wabah Covid-19 dan musim hujan. Harus ada upaya-upaya agar tempat pengungsian tidak menjadi klaster baru penyebaran pnyakit tersebut. Selain itu musim hujan yang berlangsung saat ini, juga dapat menimbulkan bencana lain, seperti banjir dan longsor.

“Oleh karena itu kami menggunakan tagline Selamat Dari Merapi, Selamat Dari Covid-19,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto, saat menyampaikan laporan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Pengungsi Merapi di Ruang Command Center, Setda Kabupaten Magelang, seperti dirilis Magelangkab.go.id.

Selain itu, BPBD Kabupaten Magelang memiliki target operasi sebagaimana diatur dalam Permendagri 101 Tahun 2017 antara lain, memberikan standar minimal ketersediaan data dan informasi bagi masyarakat, proses evakuasi yang aman, dan pelayanan tanggap darurat bagi para pengungsi.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyebutkan aktivitas Merapi sampai dengan saat ini masih tinggi.

“Gempa fase banyak sekarang masih 259 kemudian ditambah vulkanik dangkalnya masih 30. Tapi kata BPPTKG kita patut bersyukur karena vulkanik dalam tidak ada. Kemudian deformasinya sekarang masih kumulatif sudah hampir 5 meter dibanding dengan erupsi tahun 2006 yang hanya 3 meter,” jelasnya.

Sementara terkait kondisi para pengungsi, Edy menjelaskan jika Merapi dalam status siaga dalam waktu lama, maka bisa mengakibatkan para pengungsi menjadi bosan dan rindu pulang ke rumah.

Ternyata prediksi tersebut benar-benar terjadi, dan sejak 26 November lalu, warga Desa Ngargomulyo memutuskan kembali ke rumah.

Mulai 30 November warga pengungsi dari Desa Ngargomulyo sudah seluruhnya kembali ke rumah. Mereka yang mengungsi saat ini hanya kelompok rentan terdiri dari Ibu hamil, Ibu menyusui, lansia, anak-anak, dan disabilitas.

“Kemudian pada 1 Desember, Desa Paten Dusun Babadan II mereka mulai pulang juga sehingga tersisa 127, terakhir dari Desa Keningar pulang sejumlah 26 orang, sehingga seluruh pengungsi sampai dengan saat ini masih 602 pengungsi,” papar Edy. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.