Makam Nisan Batu Karang di Kumpulrejo Kendal, Potensi Wisata yang Butuh Sentuhan Pemerintah

Makan Nisan Batu Karang di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Patebon, Kendal.

 

HALO KENDAL – Ulama asal Kaliwungu, Ali Nurudin berziarah ke Makan Nisan Batu Karang di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Patebon, baru-baru ini.

Ziarah ke makam yang telah ditandai sebagai cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal serta Balai Pelestarian Cagar budaya Jawa Tengah itu, dilaksanakan bersama Ketua DPRD Kendal Muhammad Makmun.

Makam dengan Nisan Batu Karang ini memang ramai dikunjungi peziarah, pada setiap malam Jumat.

Ustadz Ali, sapaan akrab Ali Nurudin mengatakan, pelestarian budaya perlu dikembangkan lagi. Pasalnya keberadaan makam kuno ini diyakini berasal dari peradaban ratusan tahun lalu.

“Saya mengapresiasi warga sekitar yang merawat dan menjaga situs cagar budaya ini,” terang Ustaz Ali yang juga calon bupati Kendal yang diusung PKB, Nasdem dan Gerindra.

Pengasuh ponpes Jabal Nur Kaliwungu tersebut menambahkan, kearifan lokal dengan merawat komplek makam ini harus terus dijaga.

“Saya berharap nantinya Makam Nisan Batu Karang tersebut dapat dikembangkan sehingga akan menambah sisi religius Kabupaten Kendal yang mempunyai slogan beribadat,” imbuhnya.

Sementara itu juru kunci Makam Nisan Batu Karang, Martomo mengatakan, sejak ditemukan dan mulai dipugar, banyak peziarah yang datang ke makam kuno tersebut.

Menurutnya, makam Nisan Batu Karang ini ditemukan warga yang hendak membuat saluran beberapa waktu lalu. Namun tidak ditemukan sama sekali tulisan yang menerangkan jatidiri penghuni makam tersebut.

“Warga di sini tidak mengetahui persis siapa yang dimakamkan di sini. Namun melihat keberadaan makam di Desa Kumpulrejo diyakini sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kendal,” jelasnya.

Hanya dua garis tegak yang berada di salah satu nisan makam tersebut. Warga sendiri mengaku di wilayahnya juga pernah ditemukan beberapa makam kuno.

Meski sampai sekarang jatidiri sosok yang dimakamkan belum diketahui, warga bersama pemerintah desa setempat terus menjaganya.

“Kami akan menjaga dan merawat makam kuno ini, sebagai warisan leluhur dan juga sebagai situs cagar budaya,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.