Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Makam Ki Ageng Pandanaran, Jadi Jujugan Para Pejabat dan Pedagang Cari Penglaris Usaha

 

Kompleks Makam Ki Ageng Pandanaran I di Mugas, Semarang.

 

LANTUNAN bacaan ayat-ayat suci Al-Quran dibacakan para peziarah di makam pendiri Kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran I atau Sunan Pandanaran. Makam ini memang kerap diserbu peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, untuk tujuan tertentu.

Peziarah biasanya datang secara perseorangan maupun rombongan dari berbagai daerah, seperti dari pulau Sumatera, Lombok, Jakarta, dan lainnya.

Makam yang ada di kompleks masjid Ki Ageng Pandanaran tersebut, akan semakin penuh saat hari-hari besar tertentu, seperti Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dan saat memperingati haul Sunan Pandanaran yang diadakan pengelola makam dan masjid yang beralamat di Jalan Mugas Dalam II/4, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang ini.

Saat halosemarang.id berada di lokasi pada Minggu (30/6/2019) siang, suasana makam terlihat agak lengang karena memang sedang tak ada kegiatan pengajian.

Namun ada beberapa orang peziarah yang sedang berdoa di sekitar pusara makam. Dalam kompleks pemakaman Ki Ageng Pandanaran memang ada tiga makam utama. Yaitu, makam Ki Ageng Pandanaran yang ada di tengah, lalu sebelahnya adalah makam orang tuanya yaitu Pangeran Madiyo Pandan yang bergelar Syech Maulana Ibnu Abdul Salam serta makam istrinya, yaitu Nyi Ageng Sejanila.

Untuk masuk ke dalam ruang utama ini, peziarah lebih dulu melewati pendopo, di mana tempat ini biasanya digunakan untuk pertemuan atau pengajian. Dan di antara dua ruang tersebut, ada ruang sempit seperti lorong yang biasanya dipakai untuk peziarah yang ingin berdoa lebih lama sampai menginap.

Dalam pendopo, peziarah dan pengunjung bisa melihat tulisan silsilah Ki Ageng Pandanaran serta terpasang lukisan sosok Ki Ageng Pandanaran.

Mengenai sejarah dan silsilah Ki Ageng Pandanaran, memang terdapat banyaj versi.
Ada versi yang mengatakan, dia adalah putra dari Pati Unus/Panembahan Sabrang Lor (sultan kedua Kesultanan Demak) yang merupakan Keturunan Raja Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Dia menolak tahta karena lebih memilih mendalami spiritualitas. Hal ini seperti yang digambarkan silsilahnya di salah satu sudut ruang pendopo makam tersebut.

Lalu pendapat lain, ada yang mengatakan Ki Ageng Pandanaran merupakan saudagar asing, entah dari Arab, Persia atau Turki yang meminta izin sultan Demak untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam di daerah Pragota.

Versi lain, Sunan Pandanaran I adalah Sayyid Abdul Qodir yang lahir di Pasai. Di mana Pasai adalah menunjuk pada nama sebuah kerajaan Islam di daerah Sumatera, yakni Darussalam yang saat ini bernama Aceh.

Sayyid Abdul Qodir putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri untuk menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelar Sunan Pandan Arang. Beliau lantas berkedudukan di Pragota yang sekarang tempat itu bernama Bergota, di kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan.
Menurut Juru kunci Makam Ki Ageng Pandanaran I (Sunan Pandanaran), Agus Krisdiyono, Ki Ageng Pandanaran memiliki istri bernama Nyi Ageng Sejanila/Endang Sejanila (dimakamkan di Mugas Dalam II Semarang).
Dari pernikahannya, dia dikaruniai enam orang putra, yaitu, Pangeran Kasepuhan/Pandanaran II (Sunan Tembayat) dimakamkan di Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Pangeran Kanoman/Pandanaran III (Pangeran Mangkubumi) dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta, Nyi Ngilir (Nyai Arang) dimakamkan di Mugas atas Semarang, Pangeran Wotgalih dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta, Pangeran Bojong di makamkan di Semarang, Pangeran Sumedi di makamkan di Tembayat.

Dikatakan, Agus, Ki Ageng Pandanaran pernah berguru ke Sunan Bonang, lalu kembali ke Demak. Dan di Demak, dia diperintahkan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di pulau Tirang yang waktu itu dikuasai oleh Pendeta Pragota yang bergama Hindu. Pendeta Pragota suatu hari mengadakan sayembara kepada penduduk, bahwa siapa saja yang bisa mengalahkan dia, maka akan diberi hadiah yakni putrinya sendiri yang bernama Sejanila.
Mengetahui hal ini, lalu Ki Ageng Pandanaran ikut sayembara. Setelah sampai pada waktu yang telah disepakati, mereka bertemu di sebuah tempat yang dinamakan bukit Brintik yang sekarang dikenal sebagai Bergota.
Dalam pertarungan tersebut, akhirnya Ki Ageng Pandanaran berhasil mengalahkan Pendeta Pragota yang dikenal kuat itu dan menikahi putri Sejanila.

“Setelah menjadi pemimpin di desa yang kemudian berkembang menjadi kawedanan, sehingga pada waktu itu dia (Ki Ageng Pandanaran-red) minta izin ke Demak untuk memimpin wilayah tersebut. Karena daerah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Menanggapi keinginan tersebut, Demak mengizinkan dan yang diangkat sebagai bupati adalah anak Sunan Pandanaran, yakni Pangeran Pandanaran II atau Sunan Bayat,” urainya, Minggu (30/6/2019).

Sedangkan, Ki Ageng Pandanaran diperintahkan untuk menjadi pemuka agama saja. Ki Ageng Pandanaran, dari sejarahnya memang bukan Bupati Semarang pertama. Hanya berjasa sebagai pendiri kota Semarang, yang pertama kali babat alas. Namun puteranya, setelah menjadi Bupati Semarang, bukannya menjadi pemimpin yang bijak, tapi malah tergiur dengan kekuasaan dan melakukan prilaku yang kurang baik. Bahkan dia juga punya istri empat orang dan punya sifat sombong.

“Karena Sunan Kalijaga tahu tentang hal itu. Sehingga Sunan Kalijaga menyamar sebagai tukang rumput untuk bertemu Sunan Pandanaran II. Dari penyamaran itu, Sunan Kalijaga bisa mencoba sifat yang sesunguhnya Sunan Bayat seperti apa, ternyata memang sombong. Saat bertemu tukang rumput, Sunan Pandanaran II tidak mau membayar upah kerja tukang rumput tersebut. Kemudian Sunan Kalijaga memperlihatkan asli dirinya, dengan mengubah rumput menjadi emas. Lalu Sunan Bayat sadar dan minta maaf atas tindakannya. Sunan Bayat pun memohon untuk bisa berguru kepada Sunan Kalijaga. Permohonan itupun dikabulkan, dengan satu syarat Pandanaran II harus meninggalkan perilaku buruknya,” katanya.

Ditambahkan Agus, Kiai Ageng Pandanaran punya gelar Pangeran Made Pandan, karena menikah dengan putri keturunan Bali, Nyi Ageng Sejanila.

Sedangkan ayahnya Madiyo Pandan juga diberi gelar Syech Maulana Abdul Salam. Nama tersebut dikatakannya, hanya sebagai gelar saja, bukan karena memiliki keturunan dari Arab.

“Banyak yang ziarah ke sini, tidak hanya dari orang yang beraga Islam, tapi dari agama lain, seperti penganut kejawen, Konghuchu, Katolik dan Hindu. Mereka punya tata cara dan punya tujuan yang bermacam-macam. Biasanya para pedagang juga banyak datang ziarah untuk mencari kembang lesehan atau kembang yang sudah layu di dalam pusara yang dipercaya bisa untuk pelaris usaha. Ada juga pejabat yang ingin kariernya tambah sukses juga datang untuk berdoa di sini,” paparnya.

Salah satu peziarah dari Ungaran, Abdul Majid saat ditemui di sekitar makam menjelaskan, dia sudah menginap di kompleks makam selama lima hari. Tujuan dirinya untuk berdoa saja. “Di sini saya hanya melakukan doa yang umum saja, tidak ada doa untuk meminta yang khusus. Saya baca Yasin dan tahlil, ibadah secara umum saja. Mungkin memang ada tambahan lain-lain. Di sini, selain melakukan shalat lima waktu di masjid juga shalat malam di pendopo dekat makam. Lalu pada malam hari baca doa yang dikhusunya kepada Ki Ageng Pandanaran,” katanya, Minggu (30/6/2019).

 

Sejumlah peziarah yang hendak berdoa di pusara tokoh pendiri Kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran I di Jalan Mugas Dalam II, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Wisata Religi

Ketua Yayasan Sosial Sunan Pandanaran Semarang,  Taufik mengatakan, pihaknya mendukung upaya Pemerintah Kota Semarang untuk mengembangkan makam Ki Ageng Pandanaran menjadi salah satu destinasi khususya untuk wisata religi. Bagaimanapun, Ki Ageng Pandanaran adalah tokoh yang pernah berjasa sebagai pendiri Kota Semarang.

“Sehingga penting bagi masyarakat yang ingin mengetahui sejarah Kota Semarang, dengan mempelajari sejarah dan apa-apa yang telah dilakukannya untuk masyarakat,” katanya.

Di dalam kompleks makam, ada beberapa peninggalan Ki Ageng Pandanaran yang masih bisa dilihat dan dipelajari untuk genarasi sekarang. Yakni mimbar yang digunakan untuk kegiatan keagamaan. Kemudian yang lainnya seperti beberapa senjata warisan Sunan Pandanaran, di antaranya tombak, keris, dan gentong. Saat ini benda-benda tersebut masih disimpan pihak pengeloa dan dikeluarkan pada waktu tertentu saja, seperti saat haul untuk dibersihkan.

“Saat ini, pihak yayasan dan pemkot sedang menyelesaikan pembangunan untuk museum Ki Ageng Pandanaran untuk menyelamatkan benda-benda peninggalan. Kini masih dalam proses pembangunannya, ditargetkan selesai pada tahun 2019 ini. Nanti di dalamnya, bisa ditaruh benda-benda seperti batu kuno dan beberapa senjata Ki Ageng Pandanaran, yang sebelumnya hanya disimpan di salah satu ruangan di kompleks makam,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang