in

Mahfud MD : Perlu Keadilan Restoratif Untuk Bangun Harmoni Masyarakat

Menko Polhukam Mohammad Mahfud MD memberikan sambutan dalam Forum Koordinasi Penyamaan Persepsi Aparat Penegak Hukum, di Makassar, Sulawesi Selatan (Foto : kominfo.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menko Polhukam Mohammad Mahfud MD menyampaikan bahwa Restorative Justice atau Keadilan Restoratif, akan mampu membangun harmoni di kehidupan masyarakat.

Hukum dalam konsep keadilan restoratif, bukan untuk menang atau menghukum orang, tetapi membangun harmoni.

“Sekarang ini kita lebih pada keadilan retributif, menegakkan hukum secara apa adanya. Pokoknya penegakan hukum sesuai UU. Yang salah ditindak, yang benar dibebaskan. Sehingga yang muncul kemudian di masyarakat, adalah keadilan yang koruptif dan manipulatif. Hukum menjadi menghukum dan membebaskan orang sesukanya,” ujar Menko.

Demikian disampaikan Menko ketika memberikan sambutan secara daring, dalam Forum Koordinasi Penyamaan Persepsi Aparat Penegak Hukum, bertema “Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Keadilan Restoratif” di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (26/11), seperti dirilis kominfo.go.id.

Hadir dalam acara ini, Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Fadil Zumhana; Deputi Bidang Koordinasi Hukum dan HAM Kemenko Polhukam, Sugeng Purnomo; Staf Khusus Menko Polhukam Rizal Mustary dan Erwin Moeslimin Singajuru; Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Farida Patittingi; Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, dan Wakapolda Sulawesi Selatan.

Menko Polhukam menyampaikan, hukum harus memiliki hati nurani. Hukum bukan alat memenangkan persaingan, tetapi untuk mencapai kedamaian. Dia memaparkan sistem hukum Indonesia yang sedikit-sedikit memasukkan orang ke penjara.

“Hukum sepatutnya menyelesaikan secara damai untuk hal-hal yang secara manusiawi, logis, dan tidak perlu dibawa ke pengadilan atau tidak perlu dihukum berat. Hukum juga harus memperhatikan nasib korban,” ujar Mahfud.

Mahfud menceritakan, salah satu kasus, ada orang ketemu semangka di pinggir jalan dan dia makan. Tetapi ternyata semangka tersebut punya orang lain. Orang yang memakan semangka itu kemudian dihajar, dipermalukan, dilaporkan ke polisi, dan diproses oleh polisi.

Kemudian ada juga kasus Mpok Minah di Purwokerto kasus serupa, mencuri barang senilai 2.500 rupiah, diajukan ke Pengadilan. Hakimnya, menurut Mahfud MD sampai menangis karena tidak tega. Akhirnya hakimnya pula yang membayar dendanya.

“Kita semua para penegak hukum, harus mengambil roh keadilan restoratif. Kejahatan ditindak tegas, tetapi akomodatif pada hal-hal ringan yang bisa diselesaikan secara baik,” tegas Menko.

Menko juga mengapresiasi Kepolisian, Kejaksaan dan Mahkamah Agung yang telah mulai menerapkan konsep Keadilan Restoratif ini. Saat ini sudah banyak diterapkan terutama terhadap ancaman pidana dibawah 5 tahun dan denda di bawah Rp 2,5 juta.

Dalam kesempatan itu, Jampidum, Fadil Zumhana, menerangkan bahwa menurutnya Keadilan Restoratif adalah memberikan keadilan yang nyata kepada masyarakat, tidak memberi bekas atau stigma kepada terdakwa apalagi terpidana.

“Kejaksaan telah melakukan penyelesaian kasus dengan Keadilan Restoratif sebanyak 107 kasus di seluruh Indonesia, bervariasi dari penganiayaan, pencurian dan perbuatan-perbuatan pidana lain yang dipandang layak diberikan keadilan restoratif. Keadilan Restoratif dijalankan, menurutnya, karena antar korban dan tersangka bukan saja berdamai tapi juga mengakui kesalahannya. Korban memaafkan, dan masyarakat serta tokoh-tokoh masyarakat mendukung. Sehingga timbul keseimbangan seperti sebelum terjadinya tindak pidana,” lanjutnya.

Deputi Bidang Koordinasi Hukum dan HAM Kemenko Polhukam, Sugeng Purnomo, dalam acara yang sama juga menegaskan bahwa kegiatan forum ini dilaksanakan dalam rangka menyamakan persepsi para penegak hukum, tentang penegakan keadilan restoratif, dan memberikan rekomendasi seperti apa penerapan hukum restoratif di era modern ini. (HS-08)

Share This

Bersih Kali Galeh, Bupati Minta Rawa Pening Dilestarikan

Wapres Dorong Digitalisasi Tata Kelola Perkantoran MUI