in

Mahasiswa Universitas Swasta Ternama di Semarang Dianiaya Karena Tak Mengabari Tugas

Kuasa Hukum Vinsensius Arya Prakosa dan korban saat ditemui menunjukan dokumentasi keadaan setelah dianiaya, Rabu (9/11/2022).

HALO SEMARANG – Seorang mahasiswa dari Universitas Swasta ternama di Kota Semarang dianiaya oleh rekan satu kelompok karena tak mengabari ada tugas presentasi dari korban.

Akibat dianiaya oleh temannya berinisial I, korban yang bernama Vinsensius Arya Prakosa ini mengalami babak belur di muka, bibir robek, gigi patah dan rahang bergeser. Kuasa Hukum korban, Dio Hermansyah mengatakan, selain mengalami kerugian luka, kliennya juga mendapat gangguan secara psikologi akibat ancaman pelaku yang mengaku mempunyai beckingan jenderal polisi.

“Klien kami mencari keadilan terkait pemukulan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa yang diduga mempunyai backingan seorang jenderal,” ujar Dio saat ditemui, Rabu (9/11/2022).

Dirinya menjelaskan, kejadian ini terjadi pada Senin (17/11/2022) sore di warung daerah Tinjomoyo Kota Semarang. Awalnya, terduga pelaku berinisal I mempertanyakan terkait presentasi penugasan yang diberikan oleh dosennya kepada kliennya.

Karena korban tidak memberi tahu, terduga pelaku kemudian marah sampai melakukan pemukulan kepda korban.

“Saat mempertanyakan penugasan kepada klien kami, klien kami tidak memberi tahu karena pelaku tidak pernah aktif,” paparnya.

“Saat terjadi tidak pemberitahuan penugasan itu oleh klien kami, pelaku marah sehingga terjadi pemukulan, mengakibatkan klien saya luka berat, bibir pecah rahang agak bergeser kemudian giginya patah dan dirawat di Rumah Sakit Elizabeth Semarang selama lima hari,” tambahnya.

Dirinya mengakui, bahwa pada saat melakukan pengobatan di Rumah Sakit tersebut, ibu korban mendapatkan intervensi oleh orang tak dikenal dengan perawakan rambut cepak. Disana, keluarga korban juga mendapatkan intimidasi.

“Mereka mengintervensi atas kejadian yang dialami oleh klien kami untuk mencabut laporan. Nah banyak intervensi sampai datang kerumah keluarga korban, memotret dan mengintimidasi sehingga keluarga koban trauma dengan adanya kejadian ini,” katanya.

Setelah mendapatkan perawatan dan sudah bisa beraktivitas, kemudian korban mendatangi Polrestabes Semarang untuk membuat laporan agar kasus ini segera ditangani secara adil. Kini kasus sedang ditangani oleh penyidik dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B/706/X/2022/SPKT/POLRESTABES SEMARANG/POLDA JAWA TENGAH.

“Saya mendatangi Polrestabes Semarang di bagian resum penyidik. Kami mendatangi penyidik profesional cepat dan tanggap, namun demikian kami mengharapkan supaya untuk ditindaklanjuti dan meminta keadilan yang seadil-adilnya,” bebernya.

Lebih lanjut, Dio menyebut tidak memperdulikan bahwa terduga pelaku berinisial I ini mengaku mempunyai beckingan jenderal polisi. Pihaknya tetap akan memproses hukum sesuai aturan yang ada.

Dirinya juga akan melakukan gugatan jika penanganan hukum dari kasus penganiayaan ini tidak beres. Dirinya juga berencana akan berkomunikasi dengan Komnas HAM agar kasus ini segera ditangani.

“Manakala keluarga pelaku itu mengatakan beckingnya jenderal, saya hari ini juga tetap akan mengadu ke Kapolri, jelas saya akan mengadu. Saya juga akan gugat bilamana penangananya tidak beres. Gugatan perbuatan melawan hukum nantinya, dan yang kedua saya akan mendatangkan Komnas HAM terkait hak masalah kemerdekaan klien kami, dimana klien kami menjadi trauma berat, untuk masuk ke kampusnya aja takut karena banyak intimidasi,” tuturnya.

Sementara itu, korban Vinsensius Arya Prakosa mengatakan, sebenarnya dosen sudah memberi tahu penugasan melalui grup online. Namun menurutnya pelaku tidak mempunyai inisiatif dalam tugas yang diberikan oleh dosennya tersebut.

“Dia tanya ke saya “lah kok gak dikabarin” terus saya jelasin kan udah gede, harusnya ada inisiatif tanya, dan masih bagus namamu saya masukin,”
jelasnya.

Setelah melakukan presentasi secara online, dirinya kemudian datang ke kampusnya karena ada keperluan. Lalu, saat tiba disana, ia diminta untuk menemui pelaku

“Saya ke kampus makan ke warung, dan di warung itu biasanya tidak ada pelaku. Nah pelaku itu sudah ada di warung, terus saya dichat suruh datengi dia, saya tidak gubris, terus saya pindah warung, terus dia juga pindah warung, terus dia mengkonfirmasi tentang presentasi ini,” pungkasnya.

Akan tetapi, saat diberi penjelasan, pelaku selalu memojokan dirinya. Kemudian terjadi dorong-dorongan dengan pelaku hingga terjadi pemukulan

“Itu juga ada temen saya anggota kelompok yang lain, tapi dia itu ngejarnya ke saya terus, gak malah ke yang lain. Saya kemudian terpancing ngomong ngegas, dia tu gak terima, terus dia mendorong duluan, kemudian terjadi dorong-dorongan sampai baju robek, lalu saya nagkis disitu pelaku tidak terima ngerasa kalau saya mukul duluan,” tuturnya.

“Saya pindah keluar warung, terus disana saya menunggu. Tapi si pelaku itu masih kaya tidak terima, dia minta diselesaikan di luar, terus saya masih kepancing emosi,.saya tanggepi “lanapa to” terus langsung mukul saya pakai tangan kiri mukul sekali,” lanjutnya. (HS-06)

Ratusan Pecalang Dilibatkan dalam Pengamanan KTT G20, Inilah Tugasnya

Dua Sekolah di Ungaran Dibobol Maling, Belasan Laptop Raib