Mahasiswa Undip, Ranu Dipo Alam Menangi Lomba Cipta Puisi Piala Mendikbud

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti yang juga juri omba cipta puisi Piala Mendikbud 2020 foto bersama pemenang lomba, Ranu Dipo Alam.

 

HALO SEMARANG – Mahasiswa Universitas Diponegoro, Ranu Dipo Alam berhasil menjadi juara lomba cipta puisi Piala Mendikbud 2020. Puisinya “Ambivalensi Pandemi” sukses menyisihkan karya peserta lain, dan berhasil menjadi yang terbaik dalam lomba yang diselenggarakan Kemendikbud dan Galeri Gallery.

Sedangkan untuk runner-up, diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Adiba Nikmatul Ulya S dengan puisi ”Litani dan Toleransi”.

Dan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Achmad Sudiyono Efendi ditetapkan sebagai pemenang ketiga dengan puisi Fragmen-Fragmen Kepulangan.

Masing-masing pemenang akan mendapatkan hadiah Rp 10 juta (juara), Rp 7 juta (runner-up), dan Rp 3 juta (pemenang ketiga).

Kemudian juara harapan ada tiga orang, yakni mahasiswa Politeknik Negeri Jayapura DE Bettay dengan puisi “Toleransi Sosial”, mahasiswa Universitas Mataram Raja Ali Haji (Kepri) Derlina Siregar dengan judul puisi “Penyambung Toleransi”, dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton (Sulteng) Fardani S dengan judul puisi “Nilai Toleransi dalam Pandemi”.

Ketiganya masing-masing mendapat hadiah Rp1,5 juta.

Para juara ini ditentukan oleh tiga dewan juri, yakni Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Dr Hilmar Farid, seniman Rieke Dyah Pitaloka, dan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti, SS, MM, dan diumumkan di Kafe Warga Lokal Semarang, Kamis (31/12/2020).

Penganugerahaan pemenang dilakukan secara daring dan luring. Untuk mematuhi protokol kesehatan, hanya 100 peserta lomba yang diundang hadir di Kafe Warga Lokal Semarang.

Sedangkan peserta lainnya mengikuti acara penganugerahan dan pengumuman pemenang lomba secara virtual.

Saat penjurian, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Dr Hilman Farid menyatakan, karya-karya yang masuk secara estetis sudah menunjukkan kualitas untuk berlaga di kancah nasional.

“Kami harus membaca detail tiap puisi untuk mendapatkan juara, karena kualitas puisi yang nyaris merata,” ujar Hilmar.

Agustina Wilujeng Pramestuti juga mengapresiasi karya para pemanang. Agustina mengatakan, puisi Ranu Dipo Alam memakai cara baru yang belum dia lihat sebelumnya dalam metode menulis puisi.

Ranu membuat puisi seperti esai. Namun, kalimatnya membawanya ke maksud yang diinginkan penulis.

“Kata-katanya indah. Jika saya baca, membawa kita masuk ke dalam pikirannya,” ujarnya.

Ranu Dipo mengaku senang atas pencapaian ini, dan berterima kasih kepada Kemendikbud dan Galeri Gallery yang telah menyelenggarakan lomba ini di tengah pandemi Covid-19.

“Saya bersyukur karena karya saya diapresiasi baik oleh dewan juri,” katanya.

Sementara Ketua Panitia, Dr. Teguh Hadi Prayitno, MM, M.Hum, MH, mengatakan, lomba yang ditutup pada 18 Desember 2020 ini, diikuti oleh 712 karya.

Selanjutnya dilakukan seleksi, dan ada 97 karya yang dinilai tidak memenuhi syarat karena tidak melampirkan kartu mahasiwa atau surat keterangan sebagai mahasiwa.

Peserta paling banyak berasal dari Universitas Diponegoro (222 orang). Kemudian diikuti Universitas Dian Nuswantoro Semarang (55), Universitas Muhammadiyah Semarang (35), dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta (28).

Selebihnya menyebar dari universitas di Jawa dan luar Jawa, di antaranya dari Sumatera (Universitas Aisyiah Sumbar, Universitas Maritim Raja Ali Haji Riau, Universitas Bangka Belitung, Universitas Negeri Padang, Universitas Pring Sewu Lampung), Kalimatan (Sekolah Tinggi Teknologi Kesehatan dan Sain Wiyata Husada Samarinda, Unmuh Palangka Raya), Universitas Muhammadiyah Button Sulawesi Tenggara, Politeknik Kesehatan Jayapura, Universitas Muhammadiyah Mataram, dan lainnya.

“Ini menunjukkan bawa mahasiswa memiliki perhatian pada dunia sastra, khususnya puisi. Padahal tidak semua perguruan tinggi itu memiliki fakultas ilmu budaya atau fakultas sastra,” kata Teguh.

Teguh yang juga Ketua Galeri Gallery menambahkan, dengan lomba ini, diharapkan ada gambaran yang lebih utuh bagaimana mahasiswa merespon kasus Covid-19, dan mengembangkan toleransi di masa pandemi ini.

“Melalui puisi, diharapan didapatkan gambaran bagaimana mahasiswa merespon wabah Covid-19 ini, terutama berkaitan dengan budaya toleransi dan kegotongroyongan. Sikap mahasiswa yang diwujudkan dalam bentuk puisi itu, bagaimana pun adalah cermin dari kenyataan yang sebenarnya. Sehingga dapat juga menjadi ukuran bagaimana di tengah pandemi, generasi muda kita, kaum milenial, merespon hal itu,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.