in

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Gelar Webinar Moderasi Beragama

KKN UIN Walisongo Semarang gelar Web dalam seminar (Webinar) bertajuk Keberagaman Agama Dalam Satu Bangsa dan Negara’, Kamis (22/7/2021).

 

HALO SEMARANG – Pengabdian untuk lebih kreatif ditekankan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2021.
Kelompok X KKN Mandiri Inisiatif Terprogram dari Rumah ke-12 ini menyelenggarakan web dalam seminar (webinar) perihal moderasi beragama yang bertajuk ‘Keberagaman Agama Dalam Satu Bangsa dan Negara’, Kamis (22/7/2021).

Acara ini dihadiri Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr Kurnia Muhajarah, MSi dan Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang, M Rikza Chamami, MSi.

Sebagai narasumber yaitu Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah Prof Dr Syamsul Maarif, MAg, Pendeta Aryanto Nugroho selaku Pengurus Pusat Jemaat Allah Global Indonesia, serta Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Pdt Dr David Tjahjadi Nugroho.

Dalam sambutannya, Kurnia Muhajarah menyampaikan, bahwa moderasi beragama tengah digaungkan oleh UIN Walisongo.

“Untukmu agamamu, untukku agamaku yaitu berupa toleransi beragama yang harus saling menghormati, saling menghargai dalam kesatuan Bhineka Tunggal Ika,” ucapnya.

Apresiasi diberikan oleh M Rikza Chamami selaku Kapus PPM LP2M. Menurutnya kelompok KKN ini terus melakukan pengabdian, baik secara langsung (offline) dan tak langsung (online).

Dengan demikian, mahasiswa otomatis membantu menebarkan perdamaian melalui program moderasi beragama.

“Pancasila merupakan rumah kita bersama, Islam dengan agama yang lainnya harus berdampingan dan saling menghargai,” jelasnya.

Senada disampaikan oleh Syamsul Maarif, bahwa agama menjadi agen perubahan untuk lebih baik dalam hal bertoleransi.

“Agama-agama harus membuat transformasi atau sebagai agen of change untuk mengubah pergerakan-pergerakan yang membawa perubahan lebih baik dan saling menjaga toleransi. Karena agama memberikan kita solusi-solusi untuk hidup berkesinambungan,” paparnya.

Sementara itu, Pendeta Aryanto Nugroho menjelaskan tiga potensi konflik dalam suasana homogen identitas yang memicu perbedaan identitas agama oleh sejumlah masalah. Di antaranya masalah tafsir, masalah hegemoni sosial, dan masalah sekuler politik.

“Tiga pendekatan yang bisa dilakukan untuk menciptakan moderasi beragama yaitu pendekatan konstitusional, pendekatan kesamaan (common value), dan pendekatan kemanusiaan dan budaya,” jelasnya.

“Teman-teman UIN Walisongo patut bangga karena mau berkomitmen dengan topik moderasi beragama ini, karena kita butuh lebih banyak kerja lintas kelompok untuk memperkuat moderasi beragama. Dan semuanya harus dimulai dengan lebih banyak bertemu, lebih banyak berkenalan dan lebih banyak berdialog, demi kebaikan Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara yang kompleks, maka penting adanya untuk membicarakan moderasi beragama di Indonesia,” tandasnya.(HS)

Share This

Kurangi Plastik, MAJT Bungkus Daging Kurban Dengan Besek

Buntut PPKM Diperpanjang, Pedagang Keluhan Omzet Turun Drastis