Magister Psikologi USM Gelar Kuliah Umum Tantangan Pendidikan di Perkotaan Saat Pademi

Magister Psikologi USM menggelar kuliah umum dengan tema “Tantangan Pendidikan di Perkotaan Di Masa Pademi” secara daring, Sabtu (1/5/2021).

 

HALO SEMARANG – Magister Psikologi Universitas Semarang (USM) menggelar kuliah umum dengan tema “Tantangan Pendidikan di Perkotaan Di Masa Pademi” dan diikuti 150 peserta secara daring, Sabtu (1/5/2021).

Kuliah umum yang dibuka oleh Ketua Program Studi Magister Psikologi USM, Dr Mulya Virgonita W SPsi MSi ini, menghadirkan nara sumber Muhammad Abd Hadi Bin Bunyamin PhD dari UTM Malaysia dan Dekan Fakultas Psikologi USM, Dr L Rini Sugiarti SPsi MSi Psikolog. Selain itu panitia juga menghadirkan alumni Magister Psikologi USM, Ayuk Sulistyowati MPsi sebagai pembicara.

Dr Mulya Virgonita W SPsi MSi menyampaikan, Magister Psiskologi USM sangat bangga, karena dengan dibantu oleh International Office, USM bisa menyelenggarakan kuliah umum bekerja sama dengan Universitas dari luar negeri yaitu UTM Malaysia.

“Apalagi ada pembicara dari UTM Malaysia,” katanya.
Sementara pembicara Ayuk Sulistyowati menegaskan, tantangan pendidikan perkotaan adalah bagaimana bisa menjadi tuntunan dalam hidup tumbuh kembang anak-anak.

“Pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya,” ungkap Ayuk.

“Tantangan pendidikan saat ini fokus pembangunan SDM, Kemendikbud menekankan pendidikan karakter yang menjadi prioritas pada jenjang pendidikan dasar, serta penyiapan generasi yang cakap dan terampil melalui jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi,” kata dia.

“Ini selaras dengan visi presiden tentang pembangunan karakter bangsa, budi pakerti, sopan santun, nilai-nilai etika, dan agama menjadi perhatian dunia pendidikan ke depan,” tambahnya.

Sementara dalam materinya, Rini Sugiarti menjelaskan mengenai “Student Challenges in facing the pandemic period/digital era”.

“Lebih dari 120 negara telah memberlakukan pembatasan pada interaksi sosial melalui penutupan sekolah yang mempengaruhi 1,6 juta siswa di seluruh dunia. Indonesia telah menutup semua sekolah/perguruan tinggi sejak awal Maret tahun lalu, sehingga 60 juta siswa tidak dapat bersekolah,” ungkap Rini.

Para siswa, katanya, harus bisa menghadapi pandemi ini sebagai tantangan yang harus dihadapi, karena pendemi Covid-19 belum tahu kapan berakhirnya.

“Jadikan pandemi ini sebagai masa percepatan era digital, oleh karena itu dibutuhkan pribadi-pribadi yang aware terhadap teknologi, kemauan untuk belajar, ketahanan dalam menghadapi berbagai macam tekanan, serta inovatif dan kreatif,” terang Rini.
(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.