Madrasah Diniyah Miliki Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Muda Islami

Acara peresmian MDA Nurul Huda Desa Botomulyo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal, Minggu (5/7/2020).

 

HALO KENDAL – Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi, mempunyai misi mempersiapkan generasi muda umat Islam, yang nantinya akan ikut berperan bagi pembangunan bangsa di masa depan.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Madrasah Awaliyah (MDA) Nurul Huda, Ahmad Khoirudin dalam sambutannya saat acara peresmian MDA Nurul Huda Desa Botomulyo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal, Minggu (5/7/2020).

Menurutnya, misi lembaga pendidikan Islam ini menjadi penting, disebabkan karena hampir seratus persen dari siswa sampai mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan Islam, adalah anak-anak dari keluarga santri.

“Hal ini berbeda dengan keadaan di sekolah atau perguruan tinggi umum yang siswa atau mahasiswanya merupakan campuran antara anak keluarga santri dan keluarga umum,” jelas Khoirudin.

“Apabila kualitas pendidikan yang mereka peroleh di madrasah bagus, maka, insya-Allah, mereka akan menjadi orang yang berkualitas dan akan memainkan peran penting sebagai pemimpin umat, masyarakat, dan bangsa,” imbuh Khoirudin.

Usai acara peresmian, Ketua Alumni Pondok Pesantren Nurul Huda, Kiai Muhammad Nasir mengatakan, perbedaan utama madrasah dengan pesantren terletak pada sistem pendidikannya.

“Madrasah menganut sistem pendidikan formal dengan kurikulum nasional, pemberian pelajaran dan ujian yang terjadwal, bangku dan papan tulis seperti umumnya sekolah modern,” jelasnya.

Sementara, pesantren menganut sistem non-formal dengan kurikulum yang sangat bersifat lokal, pemberian pelajaran yang tidak seragam, sering tanpa ujian untuk mengukur keberhasilan belajar siswa, dan sebagainya.

“Pada awalnya, kurikulum madrasah masih 100% berisi pelajaran agama, tanpa ada pelajaran umum. Kini berdasarkan kurikulum madrasah 1994,  kurikulum madrasah harus memuat kurikulum sekolah umum,” terangnya.

Pengasuh Ponpes Nurul Huda, Muhammad Mabrur mengatakan, MDA Nurul Huda ada di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Huda, yang didirikan tahun 1983.

“Dalam perjalanannya, Nurul Huda pada tahun 1989 – 1999 pernah mengalami masa kejayaan, yakni dengan 750 santri,” ujarnya.

Menurutnya, dalam rangka memajukan pendidikan agama Islam khususnya madrasah ini, perlu adanya inovasi dan terobosan. Salah satunya dengan mendirikan studio sejarah.

“Alhamdulillah, meski baru diresmikan Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Huda sudah ada 30 siswa. Para siswa umumnya warga Desa Botomulyo,” ungkap Muh Mabrur yang akrab disapa Gus Bro.

Acara peresmian MDA Nurul Huda ditandai pemotongan pita oleh Pengasuh Ponpes Nurul Huda bersama dengan Kepala desa Botomulyo, Siti Ismawati.

Kades Ismawati mengatakan, pihaknya mendukung diresmikannnya MDA Nurul Huda ini. Menurutnya, madrasah bisa sebagai penyeimbang dalam dunia pendidikan.

Menurutnya madrasah mengandung arti tempat atau wahana bagi anak dalam mengenyam proses pembelajaran secara terarah, terpimpin dan terkendali.

“Saya sebagai warga asli Desa Botomulyo tentu sangat mendukung dan akan siap membantu mensosialisasikan madrasah ini kepada warga,” katanya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.