in

Macet Di Jalur Pantura Semarang-Kendal Makin Parah

Macet yang terjadi di Jalur Pantura, Mangkang – Semarang.

 

HALO SEMARANG – Beberapa titik kemacetan terjadi di Jalur Pantura, Mangkang – Semarang dan sebaliknya akibat proyek peningkatan jalan dengan konstruksi beton. Salah satu titik kemacetan mulai di depan Pasar Mangkang.

Karena kondisi jalan yang menyempit, sehingga terjadi antrean kendaraan terutama truk trailer, bus dan roda empat bergantian untuk melintas. Apalagi jalur di situ merupakan jalur padat dengan aktivitas warga di Pasar Mangkang, dan akhirnya membuat arus lalu lintas dari arah Barat ke Semarang tersendat.

Sementara, dari arah sebaliknya, dari Semarang menuju Kendal, titik kemacetan juga terlihat dari Pasar Mangkang hingga depan SPBU PT Sango, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan. Selanjutnya, titik kemacetan terpantau juga terjadi di depan pintu masuk Kawasan Industri Wijayakusuma, KM 12 sampai wilayah Tambakaji.

Salah satu pengendara, Fajar mengatakan, kondisi kemacetan di Jalur Pantura bertambah panjang saat jam sibuk, pagi dan sore hari. Sebab, bersamaan dengan jam masuk kerja dan pulang kerja. “Apalagi di depan pintu masuk Kawasan Industri Wijaya Kusuma merupakan jalur padat,” ujarnya, Minggu (10/10/2021).

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman mengakui, proyek peninggian Jalan Pantura di wilayah Mangkang Kulon hingga Tambak Aji juga menimbulkan dampak lingkungan berupa polusi udara yang ditimbulkan akibat debu bertebaran hingga ke permukiman warga. Tak hanya pengendara yang dirugikan, melainkan juga para pedagang di sekitar serta warga setempat.

Pilus, sapaan akrab Kadarlusman, turun langsung melakukan protes terhadap pelaksana sembari mengerahkan dua truk tanki pemadam kebakaran untuk menyiram jalan agar tidak menimbulkan polusi.
Dia mengaku mendapatkan banyak keluhan dari warganya.

“Proyek jalan menyebabkan antrean panjang, oke. Tapi ada sepenggal jalan antara depan Aneka Jaya hingga BRI, kebetulan itu di wilayah Mangkang. Peninggiannya ada penambahan lapisan atas (LPA). LPA ini nantinya atasnya masih dikasih rongga batu, baru rigid,” jelas Pilus.

Semestinya, sambung dia, LPA tidak dilalui kendaraan. Namun yang terjadi arus lalu-lintas sudah dibuka. Sehingga jalan hancur dilewati kendaraan besar. Hal itu menimbulkan persoalan baru berupa polusi udara.

“Sudah seminggu lebih kami tunggu tidak ada itikad baik dari kontraktor. Akhirnya warga komplain dan menanyakan ke saya karena tiap hari debu bertaburan sampai masuk ke rumah-rumah,” ujarnya.

Pihaknya tidak mempersoalkan proyek peninggian jalan. Dia pun mempersilakan proyek tersebut tetap berjalan. Hanya saja dia berharap, proyek bisa dilaksanakan dengan meminimalisir persoalan yang timbul. Apabila menimbulkan polusi, diharapkan ada penyiraman rutin mengingat jalan tersebut menjadi akses kendaraan setiap waktu.

“Kalau rigit pakai LPA silakan, tapi tidak boleh dilewati truk besar,” tambahnya.

Saat berkomunikasi dengan pihak kontraktor, Pilus meminta kontraktor bisa menyiram jalanan untuk meminimalisir polusi udara di sekitar area proyek. Dari pihak kontraktor, kata dia, sudah menyiapkan tangki air untuk penyiraman jalan tersebut.(HS)

Share This

Puluhan Anak Yatim Piatu Terima Bantuan Paket Sekolah

Vaksin BCG dan IPV Untuk Balita Di Kendal Kosong