Longsor di Plantungan Mulai Ancam Pemukiman, Kades: Warga Diminta Waspada

Kepala Dusun Wonotirto, Desa Tirtomulyo, Suratmin Misron, saat mendatangi lokasi longsor, Rabu (6/1/2021).

 

HALO KENDAL – Kejadian tanah longsor di Dusun Wonotirto, Desa Tirtomulyo, Kecamatan Plantungan, Selasa kemarin (5/1/2021), disebabkan tanah labil dan mudah menggerus lahan vegetasi perkebunan warga. Akibatnya, 4.000 meter persegi ladang longsor dan hilang.

Longsor dengan ketinggian 50 – 70 meter dan lebar sekitar 100 meter tersebut, telah menyebabkan ladang vegetasi milik warga berupa tanaman Sengon, Melinjo, Kopi, Aren, Pete dan Jengkol milik warga, hanyut terbawa arus material longsor ke jurang sedalam 80 meter.

Kepala Dusun Wonotirto, Suratmin Misrom mengatakan, kejadian tanah longsor tersebut berada di sisi utara dan barat permukiman warga.

“Longsor sudah terjadi sejak Minggu (3/1/2021), yang awalnya hanya longsor kecil. Namun puncaknya pada hari Senin (4/01/2021) dan Selasa (5/1/2021) kemarin,” ujarnya saat ditemui halosemarang.id dilokasi, Rabu (6/1/2021).

Dikatakan, dampak akibat tanah longsor tersebut berimbas, pada ladang perkebunan tanaman vegetasi milik warga.

“Lahan tanaman seperti sengon, melinjo, kopi, aren, pete dan jengkol yang terkena longsor yakni milik Paikem (65), Abdul Munir (42), Nur Asiyah (48), Sumardiman (58) dan Nariman (62),” jelas Suratmin.

Ladang perkebunan tersebut, menurutnya, merupakan sumber mata pencaharian warga setempat selain bertani.

Namun saat ini ladang milik mereka sudah hanyut, hilang terbawa material longsor ke bawah jurang.

Ditambahkan, kejadian longsor yang terjadi kali ini di dusunnya tersebut, merupakan yang terbesar.

“Selain berimbas pada ladang warga juga mengancam permukiman yang dekat dengan areal tanah longsor. Sebab jarak antara tebing tanah longsor tidak begitu jauh tinggal beberapa meter saja,” imbuh Suratmin.

Hal tersebut, lanjut Suratmin, dikarenakan rekahan tanah di samping tebing tanah yang longsor dekat dengan permukiman warga.

“Sehingga warga banyak yang khawatir dan was-was. Kejadian dulu sekitar tahun 1971 dan 1978 terulang. Pada saat itu juga pernah terjadi longsor besar di sini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tirtomulyo, Ahmad Sulis mengimbau kepada warga, untuk tetap waspada, mengingat kondisi tanah yang labil dan disertai cuaca yang tidak menentu saat ini.

“Kami akan berupaya mendata beberapa warga yang rumahnya terdampak. Sebab ada sebagian warga yang rumahnya sangat berdekatan dengan lokasi longsor. Untuk selanjutnya, akan kami koordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten menyikapi kondisi ini,” jelasnya. (HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.