in

Lima Tradisi Sambut Bulan Suci Ramadan di Beberapa Daerah di Jawa Tengah

Gunungan Sumpil yang dibawa dari makam Wali Hasan Abdullah atau Eyang Pakuwojo, kemudian diarak dan diperebutkan warga.

TRADISI menyambut bulan suci Ramadan selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat di berbagai daerah. Biasanya kegiatan yang dilaksanakan selalu ramai dan sekaligus pesta tahunan masyarakat, dengan ciri khasnya masing-masing. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri yang sudah dilakukan secara turun-temurun dan dijaga kelestariannya oleh generasi selanjutnya. Berikut ini lima tradisi unik dalam menyambut bulan Ramadan yang dilakukan masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

1. Dugderan, Semarang

UGDERAN adalah tradisi perayaan menyambut bulan Ramadan yang dilakukan oleh umat Islam di Semarang, Jawa Tengah. Tradisi ini juga menjadi pesta rakyat tahunan bagi masyarakat Semarang.

Digelarnya tradisi Dugderan berawal sebagai upaya pemerintah kota (Pemkot) untuk menyamakan awal Puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Sampai sekarang, tradisi Dugderan masih diselenggarakan sebagai warisan leluhur dan sekaligus menjadi event rutin tahunan. Tradisi ini dikatakan sebagai salah satu cara masyarakat untuk mencurahkan rasa rindunya terhadap datangnya bulan Ramadan.

Sejarah Dugderan sendiri, mengutip dari buku Sejarah Islam Nusantara karya Rizem Aizid, kata ‘dugder’ dalam tradisi Dugderan diambil dari perpaduan bunyi bedug ‘dug dug’ dan bunyi meriam yang mengikutinya, yaitu ‘der’. Karena itulah upacara penyambutan bulan suci Ramadan tersebut disebut dengan nama Dugderan atau Dhug Der.

Tradisi Dugderan sudah dilaksanakan sejak tahun 1881 M. Berdasarkan ceritanya, di zaman dahulu umat Islam selalu memiliki perbedaan pendapat terkait penentuan hari dimulainya puasa Ramadan.

Kemudian, Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat memberanikan diri untuk menentukan dimulainya hari puasa Ramadan, yaitu setelah bedug Masjid Agung dan meriam bambu di halaman kabupaten dibunyikan masing-masing sebanyak tiga kali.

Sebelum membunyikan bedug dan meriam, akan diadakan upacara bertempat di halaman kabupaten terlebih dahulu. Sejak saat itu, umat islam di Semarang tidak lagi berbeda pendapat dan menjadikannya sebagai budaya lokal setempat.

2. Tradisi Dhandhangan, Kudus

Tradisi Dhandhangan adalah festival sebagai tanda dimulainya ibadah Puasa pada bulan Ramadan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kata Dhandhangan adalah onomatope atau tiruan bunyi dari suara bedug khas Masjid Manara Kudus. Resonansi bedug tersebut menimbulkan bunyi nyaring, “Dang!. Bunyi bedug menjadi awal datangnya bulan Ramadan yang kemudian disebut Dhandhangan.

Pada awalnya, Dhandhangan merupakan tempat berkumpulnya para santri di depan Masjid Manara Kudus setiap menjelang Ramadan. Mereka menunggu pengumuman dari Sunan Kudus mengenai penentuan awal Puasa.

3. Tradisi Nyadran, Jawa

Tradisi Nyadran biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta menjelang Ramadan, tepatnya bulan Syaban. Budaya yang telah dilakukan ratusan tahun ini, berupa membersihkan makam leluhur maupun orangtua, membuat dan membagikan makanan tradisional dan berdoa serta selamatan di sekitar area makam. Dalam kalender Jawa, bulan Ramadan disebut sebagai bulan Ruwah. Sehingga tradisi Nyadran juga dikenal sebagai puasa Ruwah.

Tradisi nyadran sebagai momentum untuk menghormati leluhur dan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Nyadran biasanya dilakukan sekitar satu bulan sebelum Puasa atau tanggal 15, 20 dan 23 Ruwah.

4. Padusan

Padusan adalah tradisi menyambut bulan Ramadan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun ini dilakukan dengan cara berendam atau mandi di sumur sumur maupun sumber mata air. Makna padusan adalah menyucikan diri serta membersihkan jiwa dan raga dalam menyambut datangnya bulan Puasa.

Dalam makna yang lebih dalam, padusan juga sebagai media untuk merenung dan introspeksi dari berbagai kesalahan yang telah diperbuat pada masa lalu.

5. Tradisi Gerebeg Sumpil

Tradisi ini masyarakat setempat membuat makanan khas yaitu berupa Sumpil. Yang mana makanan khas bagi warga Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah ini dibuat dari bahan beras yang dibungkus dengan daun bambu. Sehingga membuat aromanya sangat alami di pedesaan. Tradisi ini digelar warga Koung Jagalan, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kendal,Jawa Tengah pada pertengahan bulan Syakban atau dua pekan menjelang Ramadan.

Selain Sumpil, ada juga gunungan yang berisi aneka makanan ringan dan hasil bumi.

Sebelum makan, warga bersama para kiai membawa doa di makam Wali Hasan Abdullah atau Eyang Pakuwojo.

Setelah berdoa, gunungan Sumpil kemudian dibawa menuju masyarakat berkumpul dengan lebih dulu di arak keliling kampung, diantaranya Alun-alun, Masjid Kaliwungu, diiringi dengan drum blek.

Sesampai di bukit Jabal, gunungan kemudian menjadi rebutan warga yang sudah berkumpul. Warga rela berebut gunungan Sumpil ini karena makanan khas ini jarang ditemukan, hanya ada saat acara acara tertentu. Dan warga berharap dengan makan Sumpil ini dan jajanan lainnya mendapatkan keberkahan berupa kesehatan dan memperoleh kelancaran rejeki. (HS-06)

Sejumlah Pengemudi Angkutan Umum di Kendal Dilakukan Pengecekan Kondisi Tubuh dan Kelaikan Kendaraan

Jaga Harga Kebutuhan Pokok Stabil Menjelang Puasa, Dispertan Kendal Gelar Gerakan Pangan Murah