in

Lewat “Duit Lanang”, Muhajir Soroti Perempuan Penghibur dari Perspektif Budaya Demak

Sidang Pembaca Buku ”Duit Lanang” karya Muhajir Arrosyid yang digelar Penerbit Beruang Semarang di Hotel Citra Alam Demak, Minggu (7/11/2021).

 

HALO SEMARANG – Peluang besar untuk mengangkat peristiwa-peristiwa keseharian yang penuh dinamika sosial ke dalam karya sastra dimiliki tiap pengarang. Dengan begitu, sastra meskipun sifatnya fiktif, mempunyai kemampuan untuk menggambarkan dimensi sosial pada suatu kelompok masyarakat.

“Sastra bisa dijadikan alat dokumentasi sosial yang menarik. Penyampaiannya yang naratif dan cair menjadikannya lebih enak dibaca oleh khalayak luas,” ungkap Ahmad Kharirudin Dosen Antropologi Universitas Diponegoro (Undip), dalam acara Sidang Pembaca Buku ”Duit Lanang” karya Muhajir Arrosyid yang digelar Penerbit Beruang Semarang di Hotel Citra Alam Demak, Minggu (7/11/2021).

Pria yang kerap disapa Adin Hysteria ini menambahkan, pencatatan dokumentasi sosial yang tertuang di jurnal dan hasil penelitian seringkali kering dan kurang menarik untuk dibaca, termasuk dalam isu “Duit Lanang” ini.

Lebih lanjut, menurut Adin, Muhajir dalam bukunya menampilkan gelagat melakukan pencatatan sosial, terutama wilayah Kabupaten Demak dan sekitarnya.

“Sastra dengan misi pendokumentasian sosial saya kira punya bobot yang lebih, ada “darah” dan “daging” yang berasal langsung dari kondisi real di lapangan,” ungkap Direktur Kolektif Hysteria tersebut.

Kendati demikian, Adin memandang fenomena yang tercantum di dalam “duit lanang” sebenarnya problematis.

“Di satu sisi ini adalah cara melihat suatu fenomena secara kultural, di sisi lain ada citra negatifnya pula,” tukasnya.

Beririsan dengan pernyataan Adin, Penggiat Literasi dan Novelis Nasional dari Kota Wali, Dian Nafi menyebut, cerita-cerita yang ditulis Muhajir memiliki tautan ingatan atas kondisi Demak, terutama dalam konteks kehidupan jalanan.

“Banyak momen dalam cerita di buku ini yang mengingatkan saya pada hal-hal “urban” di sekitar Demak,” ujarnya.

Dian menambahkan, risiko menulis cerita dengan materi kehidupan pekerja di sekitar jalur Pantura Demak pasti akan bersinggungan dengan isu kekerasan.

Menurutnya, cerpen-cerpen Muhajir pun akan sangat menarik ketika dibedah menggunakan pisau bedah feminisme dan kesetaraan gender.

“Kehidupan para sopir, perempuan warung kopi, dan dunia malam jalanan, mau tidak mau akan bersentuhan dengan isu feminisme dan kesetaraan gender,” imbuh Komite Sastra Dewan Kesenian Demak ini.

Sementara itu, menanggapi pembahasan atas kedua pembicara, Muhajir menganggap apa yang ia tulis adalah hal-hal sebenarnya bisa dijumpai di kenyataan, termasuk dalam konteks “duit lanang”.

“Duit Lanang sebenarnya bisa dilihat sebagai peristiwa sosial yang menempatkan perempuan-perempuan yang terlibat prostitusi namun dibingkai dalam kacamata kultural,” katanya.

Muhajir menegaskan, dengan logika bahwa para perempuan penghibur sebenarnya hanya menampung “duit lanang” tanpa harus menggangu jatah uang untuk para istri para lelaki itu, posisi para perempuan penghibur menjadi lebih netral dan tidak berkesan merendahkan.

“Duit lanang adalah uang milik suami di luar kewajibannya kepada istri,” ungkap Muhajir.(HS)

Share This

Kapolda Jateng Tegaskan Tindak Pelaku Anarkhis dan Premanisme

Dinas Perikanan Rencanakan Optimalkan TPI Mangunharjo Mangkang