in

Lestarikan Tradisi, Desa Pengarit Gelar Pasar Serabi Likuran

Event Pasar Serabi Likuran, di Jl R Sudibyo, Desa Penggarit, Kecamatan Taman. (Sumber : Pemalangkab.go.id)

 

HALO PEMALANG – Kepala Desa Penggarit Imam Wibowo, beserta para tokoh masyarakat, dan tokoh kebudayaan, menggelar event Pasar Serabi Likuran, di Jl R Sudibyo sepanjang 750 meter, diikuti sekitar 30 pembuat serabi.

Menurut Imam, ide dasar membuat Pasar Serabi likuran ini, berawal dari keinginan para tokoh masyarakat di Desa Pengarit, Kecamatan Taman, untuk melestarikan tradisi membuat makanan yang disebut serabi likuran. Dia menuturkan, pada zaman dulu, pada 10 hari terakhir Ramadan, masyarakat Desa Penggarit selalu menggelar kegiatan yang dinamakan serabi likuran.

Warga membuat serabi, yang kemudian diberi kuah kincau, atau kuah kental yang terbuat dari gula aren ditambah santan kelapa muda yang direbus. Serabi-serabi ini diberikan, atau diantar ke para tetangga dan saudara.

Saling memberi serabi ini, menurut dia merupakan simbol dari jalinan silaturahmi warga. “Ini menjadi salah satu media komunikasi dan silaturahmi antarwarga. Namun belakangan ini tradisi ini sudah mulai luntur. Jarang masyarakat yang masih melestarikan kebiasaan tersebut, sehingga kami dari para peduli kebudayaan di desa dan teman-teman perangkat desa ini mengadakan kegiatan event Pasar Serabi Likuran ini,” jelas Imam, Sabtu (8/5).

Dia mengatakan para pedagang yang mengikuti kegiatan ini, dulunya memang perajin atau pembuat serabi. “Usianya sudah sepuh (tua), tetapi ternyata masih punya keahlian membuat serabi. Diharapkan ini nanti bisa memberikan edukasi kepada para generasi penerus,” jelas Imam.

Menurut Ketua pelaksana, sekaligus Ketua Pokdarwis Desa Penggarit, Hartoyo, transaksi dalam event Pasar Serabi Likuran ini juga unik. Masyarakat bertransaksi membeli serabi menggunakan “Uang Klithik” berupa Koin kayu. Koin ini dapat diperoleh di panitia seharga seribu rupiah. Lantas warga dapat membeli serabi ke pedagang menggunakan uang Klithik tersebut.

Hartoyo menjelaskan, dengan uang klithik senilai seribu rupiah, akan mendapat setangkep (dua) serabi yang biasanya dihargai dua sampai tiga ribu rupiah.

Panitia memberi subsidi ke pembeli, karena setelah acara selesai, para pedagang menukar uang klithik ke panitia dengan harga serabi dipasaran pada umumnya.

“Tanggapan masyarakat terhadap serabi likuran sangat bagus, ini terlihat dari habisnya semua barang dagangan” jelas Hartoyo, seperti dirilis Pemalangkab.go.id.

Dalam masa pandemi ini, kegiatan ini menerapkan protokol kesehatan. Penjual maupun pembeli menggunakan masker, dan ada Satgas desa yang berkeliling untuk mengingatkan selalu mematuhi protokol kesehatan. (HS-08)

Babinsa Kodim 0721/Blora Dapat Sebutan Sang Pejuang Takjil

Jelang Lebaran Mas Agung Blusukan Serahkan Bantuan Rehabilitasi Rumah