in

LBH Semarang Siap Perjuangkan Pejuang Lingkungan Hidup Yang Diduga Dikriminalisasi

LBH Semarang bersama warga Desa Watusalam, Kecamatan Buaran Pekalongan usai mengirimkan surat penghentian proses penyidikan kepada dua warga korban kriminalisasi.

 

HALO SEMARANG – Pencemaran lingkungan oleh perusahaan masih marak terjadi. Kali ini pencemaran lingkungan diduga dilakukan PT Pajitex di Desa Watusalam, Kecamatan Buaran Pekalongan.

Warga mengeluhkan mesin broiler dan cerobong asap pembakaran batubara yang jaraknya terlalu dekat dengan permukiman warga.

“Akibatnya warga menghirup udara kotor setiap hari, bahkan atap rumah warga sampai rusak karena getaran dari mesin boiler yang setiap hari beroperasi. Hal ini memperparah polusi suara yang sangat berisik dari oprasional PT dan juga mengganggu kehidupan warga,” tutur Nico, Perwakilan dari LBH Semarang, Rabu (11/8/2021).

Nico mengungkapkan, persoalan tersebut telah dialami warga sejak tahun 2006. Sejak saat itu, warga sudah menyampaikan keberatan, namun tidak menemukan titik terang.

“Berkali-kali warga menyampaikan keberatannya, tapi pemerintah dan PT Pajitex tidak pernah mendengarkan. Berbagai upaya mediasi sudah diusakan oleh warga, tapi PT Pajitex malah memperparah pencemaran dengan menambah cerobong asap,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, di saat warga berjuang menjaga atas tanah kelahirannya dari kerusakan lingkungan, justru ada warga yang menjadi korban dari konflik lingkungan tersebut.

Upaya kriminalisasi terhadap warga, sambungnya, merupakan tindakan yang berupaya litigasi untuk membungkam perjuangan warga.

“Bukannya memperbaiki proses produksi yang merusak hidup warga, PT Pajitex malah menambah beban warga dengan melaporkan dua warga yang terus berjuang keras melindungi lingkungannya,” ujarnya.

Pembungkaman, kata Nico, bertentangan dengan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009. Yang menyebutkan, “setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun perdata”.

Ia menuturkan, pemerintah dan aparat keamanan diduga telah menjadi pelindung perusahaan tekstil tersebut. Hal itu tidak menyurutkan gerakan warga untuk mengembalikan kelestarian lingkungan.

“Negara seharusnya hadir menjalankan fungsinya melindungi lingkungan hidup warga, bukan justru menambah beban warga dengan melanjutkan proses kriminalisasi terhadap warga,” tuturnya.

Ia menjelaskan, LBH Semarang bersama dengan warga telah mengirimkan surat kepada Kepala Kepolisian Resor Pekalongan Kota untuk segera menghentikan proses penyidikan kepada dua warga.

“Udara kotor dan polusi suara sudah menjadi timbunan derita mencekik bagi hidup warga, negara jangan kembali menambahi timbunan derita itu dengan melanjutkan kriminalisasi terhadap warga,” jelasnya.(HS)

Share This

Rutinitas Jelang Peringatan HUT Kemerdekaan, Warga Lakukan Kerja Bakti Hias Kampung

Sambil Bersepeda Di Pelabuhan Kendal, Kapolres Sosialisasikan Prokes