Kutip kalimat Ali bin Abi Thalib, Gus Yaqut : Mereka Yang Tidak Saudara Dalam Iman, Adalah Saudara Dalam Kemanusiaan

Kutip kalimat Ali bin Abi Thalib, Gus Yaqut : Mereka Yang Tidak Saudara Dalam Iman, Adalah Saudara Dalam Kemanusiaan

 

HALO SEMARANG – Penunjukan H Yaqut Cholil Qoumas sebagai menteri agama, menggantikan Fahcrul Razi yang hanya menjabat Menag selama 14 bulan, Selasa (21/12) mempertegas sikap pemerintah yang ingin segera menyelesaikan masalah-masalah intoleransi di Indonesia.

Keinginan pemerintah tersebut, juga disampaikan Presiden Joko Widodo, agar H Yaqut Cholil Qoumas atau yang akrab disapa Gus Yaqut,  dapat menciptakan kehidupan keberagamaan yang toleran, damai, dan sejahtera.

Bagi Gus Yaqut, penunjukan dirinya sebagai Menteri Agama, merupakan kesempatan untuk mewujudkan keinginan menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi.

“Agama sebisa mungkin tidak lagi digunakan menjadi alat politik untuk menentang pemerintah, merebut kekuasaan, atau mungkin untuk tujuan-tujuan yang lain. Agama biar menjadi inspirasi dan biarkan agama itu membawa nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya, seperti dirilis Setkab.go.id.

Diakuinya, untuk meningkatkan ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah bukan merupakan tugas mudah. “Kenapa ukhuwah islamiah? Karena kita tahu bahwa mayoritas warga negara ini adalah pemeluk agama Islam. Negara ini akan damai, negara ini akan tenteram, jika sesama muslim, sama umat Islam memiliki ukhuwah atau persatuan di antara mereka,” ujar Yaqut.

Ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama warga bangsa, menurutnya  juga penting, karena kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh atas perjuangan semua agama. Oleh karena itu, semua berhak memiliki negara Indonesia.

“Umat Muslim, kaum Kristiani, Hindu, Buddha, Konghucu, dan semua agama yang ada di Indonesia, pada waktu pergolakan kemerdekaan mereka terlibat. Penting ukhuwah wathaniyah ini kemudian kita bangkitkan kembali, agar tidak ada satu kelompok pun, tidak satu agama pun, yang mengklaim merasa paling memiliki negara ini,” tegasnya.

Terkait ukhuwah basyariyah atau persaudaraan/persatuan sesama umat manusia, Yaqut mengutip kalimat Ali bin Abi Thalib yang artinya mereka yang tidak saudara dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

“Ini saya kira penting untuk menjadi kesadaran bagi seluruh warga bangsa ini. Jika ini dilakukan maka saya meyakini ke depan Indonesia ini akan jauh lebih tenteram dan pembangunan yang tadi sudah disampaikan oleh beberapa calon menteri tadi itu akan lebih mudah untuk diwujudkan,” ujarnya.

Terakhir, Yaqut menegaskan pentingnya untuk memajukan pendidikan agama di Indonesia.

“Pendidikan agama apapun, termasuk tentunya di dalamnya adalah pondok pesantren adalah penting. Bagaimana pondok pesantren bisa didorong mandiri dan pada akhirnya akan melahirkan kader-kader terbaik bangsa, kader-kader terbaik yang bisa memberikan sumbangsih terbaiknya untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Menutup keterangan persnya, Yaqut memohon doa seluruh masyarakat Indonesia agar dirinya dapat mengemban amanat sebagai Menteri Agama dengan baik.

“Mohon doa restu Bapak-Ibu sekalian dan seluruh rakyat Indonesia, agar amanah ini bisa saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, istikamah dalam kebaikan, dan tentu saja membuat kemajuan bagi bangsa dan negara,” kata dia.

Tegas

Menurut berbagai sumber, Gus Yaqut memang selama ini dikenal sebagai tokoh yang tegas menolak intoleransi, radikalisme, terorisme. Pada 14 November 2015 silam, Gus Yaqut menyatakan bahwa serangan teroris, yang mengguncang beberapa tempat di Paris dan menewaskan lebih dari 150 orang, menunjukkan bahwa ancaman terorisme tak pernah benar-benar surut.

‎Menurut dia yang saat itu juga menjabat sebagai anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serangan teror ini merupakan sinyal, bahwa terorisme masih terus mengancam.

‎”Kita sama sekali tidak boleh mengendurkan kewaspadaan menghadapi teroris dan paham-paham radikal di belakangnya,” kata dia saat itu.

Sikap tegas juga disampaikan Gus Yaqut, Mei 2017 lalu berkaitan dengan desakan agar pemerintah segera membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Menurut dia sangat berbahaya membiarkan organisasi pengancam keutuhan NKRI tetap eksis, bahkan berkembang subur di Tanah Air. Apalagi HTI menjadikan kampus-kampus yang notabene merupakan lembaga yang mencetak calon pemimpin bangsa ke depan, sebagai basis dan sasaran utama penyebaran pengaruh mereka.

Keinginan Gus Yaqut dan berbagai pihak itu akhirnya diwujudkan oleh Pemerintah. Pada Juli 2017 silam, Kemenkumham benar-benar membubarkan HTI.

Permintaan Gus Yaqut agar pemerintah tegas terhadap intoleransi, juga disampaikannya November 2020 silam. Saat itu dalam sebuah apel kebangsaan, Gus Yaqut menyatakan keprihatinannya atas beberapa kasus intoleransi. Salah satunya pembantaian 1 keluarga di Sigi, Sulawesi tengah yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan enam rumah dibakar oleh teroris.

Gus Yaqut, dalam apel itu memperingatkan pada kelompok-kelompok teror seperti ini, untuk menghentikan aksinya.  “Kita ingatkan kelompok seperti ini, hentikan perilaku kalian, atau akan berhadapan dengan Banser. Kami akan bersama-sama TNI/Polri mengadang, menghancurkan, dan menghabisi mereka, “ tegasnya.

Relijius

Gus Yaqut,  tokoh kelahiran 4 Januari 1975 dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini, tumbuh di lingkungan relijius, yakni di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Dia dibimbing dan dibina langsung ayahandanya, yang merupakan ulama terkemuka asal Rembang, KH Cholil Bisri, kakak KH Ahmad Mustofa Bisri.

Di samping aktif berkegiatan di pesantren, dia juga menempuh studi di pendidikan umum, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Studi perguruan tingginya juga dia tempuh di kampus umum, yakni Universitas Indonesia (UI) pada jurusan Sosiologi.

Aktivitasnya di tengah masyarakat sudah lama digelutinya. Saat menempuh studi di UI, dia juga aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Depok, sebagai salah seorang pendiri.

Pengalamannya terus terpupuk hingga pada usia ke-30 tahun, dia memutuskan terjun ke politik praktis. Saat itu, pada 2005, dia terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Rembang, dari partai yang didirikan ayahnya, bersama KH Abdurrahman Wahid dan para kiai lainnya, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Tak lama dia menjadi wakil rakyat, pada tahun yang sama, Gus Yaqut terpilih sebagai Wakil Bupati Rembang periode 2005-2010. Kemudian lima tahun berikutnya, dia terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2015-2019 sebagai Pengganti Antarwaktu (PAW) menggantikan Hanif Dhakiri, yang dilantik menjadi Menteri Ketenagakerjaan.

Saat itu, ia duduk di Komisi VI meliputi bidang Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, Standardisasi Nasional.

Gus Yaqut kembali menjadi Anggota DPR RI pada periode 2019-2024, di Komisi II meliputi bidang Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kepemiluan, Pertanahan dan Reforma Agraria.

Di samping aktivitasnya di dunia politik, Gus Yaqut juga mengabdikan dirinya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor 2011-2016.

Kemudian, secara aklamasi, di mendapat amanah untuk menjadi Ketua Umum PP GP Ansor 2015-2020, pada Kongres XV di Pondok Pesantren Pandanaran, Yogyakarta. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.