Kreativitas Jadi Kunci Pengembangan Wisata

Acara Prime Topic mengambil tema “Mengembangkan Paradigma Pariwisata” di Red Rabbit Resto Semarang, Kamis (17/9/2020).

 

HALO SEMARANG – Kreativitas pengelola tempat pariwisata mutlak dilakukan untuk era sekarang ini, supaya bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Namun demikian terobosan itu tidak mengurangi pengetatan pelaksanaan protokol kesehatan supaya pandemi ini tidak meluas.

Penekanan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi B DPRD Jateng Muhammad Ngainirrichaldl saat menjadi narasumber dalam acara Prime Topic mengambil tema “Mengembangkan Paradigma Pariwisata” di Red Rabbit Resto Semarang, Kamis (17/9/2020).

Turut menjadi narasumber lain adalah Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Sinoeng N Rachmadi dan Dosen FEB UKSW Salatiga, Eko Suseno.

Richadl menjelaskan, sekarang ini konsep wisata telah bergeser seiring dengan perkembangan zaman. Paradigma lama, konsep pariwisata menekankan pada konsep jumlah atau quatity tourism. Dalam arti menarik wisatawan dalam jumlah yang banyak.

Selanjutnya di era 1980-an, paradigma bergeser pada wisata alternatif. Selanjutnya 30 tahun kemudian di era 2010-an konsep pariwisata berubah seiring mulai dipahaminya mengenai fungsi dan arti pariwisata, baik dari sisi pelaku, objek, serta keterlibatan wisatawan yakni quality tourism.

Fokus pendekatannya lebih pada partisipatif ketimbang profit.

“Pada 2020 ini, muncul paradigma pariwisata baru yang lahir akibat pandemi Covid-19, yakni paradigma next normal tourism, paradigma ini terdiri atas keselamatan sebagi andalan utama, kemudian surprising dalam pengembangannya dan peningkatan kesadaran diri,” ucap dia.

Dari konsep itulah harus ada terobosan baru yang mesti ditempuh guna menghidupkan kembali industri pariwisata. Untuk itu, perlu penawaran paket-paket wisata yang memungkinkan untuk dilakukan satu hari. Selain itu, alangkah bagusnya jika dikombinasikan dengan pendidikan.

“Saat ini banyak siswa yang masih belajar daring. Namun bisa saja sesekali, dibuat paket wisata edukasi. Guru dan siswa belajar di lokasi wisata. Pelajaran kan tidak harus di dalam kelas. Sehingga itu bisa jadi pengalaman baru bagi siswa, tidak membosankan dan menguntungkan dunia pariwisata,” ujar Richadl.

Menurut politikus PPP tersebut, secara teknis pariwisata dengan menggandeng pihak sekolah bisa dilakukan. Misalkan paket wisata yang ditawarkan di objek wisata yang hampir berdekatan seperti di Tawangmangu dan Telaga Sarangan.

Alangkah bagusnya jika pengembangan objek wisata di wilayah perbatasan juga bekerja sama antarprovinsi. Namun sekali lagi ia mengingatkan jika protokol kesehatan wajib dilakukan dengan ketat.

Selanjutnya Sinoeng N Rachmadi menjelaskan capaian industri pariwisata di masa pandemi ini terjun bebas. Di awal masa pandemi, dari 1.083 hotel ada 115 hotel yang tutup.

Belum lama ini sudah buka kembali 35-45% namun ada sebagian pegawai yang dirumahkan. Menurut Sinoeng, peran masyarakat begitu penting dalam menghidupkan kembali pariwisata.

“Di satu sisi, pelaku industri pariwisata memastikan lokasi yang dikunjungi sudah disterilkan. Di lain pihak, masyarakat juga memastikan dirinya menjalankan protokol kesehatan,” kata Sinoeng.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.