in

Kota Semarang Beberapa Hari Mendung, BMKG: Tidak Ekstrem

Ilustrasi: Kondisi berawan mendung di kawasan Bukit Gombel, Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (20/6/2021).

 

HALO SEMARANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang, Jawa Tengah memperkirakan jika cuaca mendung yang terjadi beberapa waktu terakhir di Kota Semarang dan sekitarnya, merupakan akibat pengaruh suhu muka laut di sekitar Pulau Jawa.

Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, Iis Widya Harmoko saat dihubungi halosemarang.id, Minggu (20/6/2021).

“Ini karena pengaruh adanya suhu muka laut yang di sekitar Jawa yang perbandingannya lebih hangat dibandingkan biasanya,” ungkap Iis.

Iis menjelaskan, pengaruh suhu muka laut juga terjadi di selatan Papua Nugini. Bersamaan dengan adanya angin musim timur sehingga berdampak pada penguapan air.

Kemudian, potensi penguapan yang juga cukup tinggi berpotensi pada proses pembentukan awan. Hal itulah yang menjadikan kondisi mendung beberapa hari belakangan.

“Di sebelah timur kondisinya juga hangat dari selatan Papua Nugini hingga selatan Jawa. Sehingga uap-uap air itu terbawa ke sini di pulau Jawa. Makanya cuacanya kayak begini mendung-mendung terus,” jelasnya.

Iis menyebut, kondisi seperti ini akan terjadi hingga bulan Juli 2021, namun intensitasnya tidak sering. Kendati demikian, lanjut Iis, tidak berujung pada terjadinya cuaca ekstrem.

“Mungkin selama bulan ini sampai bulan depan potensi masih ada seperti ini. Kalau ekstrem tidak, tapi juga bisa saja, artinya tidak terjadi setiap hari. Intensitas dari ringan hingga lebat, lebat ada tapi jarang sekali,” katanya.

Lebih lanjut, Iis menyampaikan, musim kemarau tahun 2021 memiliki kemiripan dengan tahun 2020, namun tahun ini tidak cenderung lebih basah.

“Secara umum, prakiraan musim kemarau di tahun 2021 ini hampir sama dengan tahun lalu, hanya saja tidak cenderung basah,” tutur Iis.
Pihaknya mengingatkan kepada masyarakat agar menjaga daya tahan tubuh, karena kondisi sekarang juga hampir sama dengan musim peralihan atau pancaroba.

“Hampir sama dengan kondisi pancaroba, pagi sampai siang panas terus sore hujan, hujannya tidak merata. Jaga kesehatan terus apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti ini,” ujarnya.

Selain itu, dirinya juga berharap kepada masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi untuk lebih meningkatkan kewaspadaan. Sebab, potensi longsor akan terjadi jika hujan terus menerus mengguyur.

“Potensi hujan dapat menyebabkan longsor di dataran tinggi, namun jika intensitas hujan satu atau dua hari berhenti begitu, potensi longsor sangat kecil,” pungkasnya.(HS)

Share This

Bantu Korban PHK, Haryono Ciptakan Bidang Usaha Ternak Di Tengah Pandemi Covid-19

Kapasitas Tempat Tidur Pasien Covid-19 di Kota Semarang Terus Ditambah