in

Korona Jangan Merebak Lagi

Petugas kesehatan mengambil sampel tes swab untuk mendeteksi Covid-19 (Foto : Temanggungkab.go.id)

 

“JANGAN korona terus. Silaturahmi harus jalan terus. Pasrah saja pada Tuhan. Kalau soal mati, semua orang juga akan mati.”

Begitulah sepenggal pembicaraan seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun, di sebuah makam di Kota Semarang, beberapa hari lalu. Rupanya lelaki itu sedang berbicara dengan kerabatnya melalui telepon.

Tapi karena suaranya yang keras, percakapan itu didengar pula oleh banyak peziarah lain. “Orang kalau belum pernah Covid ya seperti itu ngomongnya. Dia kira kena corona itu enak. Padahal kalau sudah kena, apalagi orang seumuran dia, bisa parah,” celetuk Brian, seorang peziarah.

Lelaki yang mengaku bekerja di sebuah rumah sakit itu, mengaku sedih jika ada orang yang masih menyepelekan Covid-19. Apalagi dia berkali-kali menemui, orang yang meninggal akibat penyakit itu, sebelumnya mengalami penderitaan luar biasa, mulai dari demam tinggi hingga menggigil sampai sesak napas hebat.

Karena itu dia mendukung penuh upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. “Banyak orang masih menyepelekan penyakit ini. Lihat saja, masih ada saja orang-orang secara asal-asalan mengenakan masker, atau bahkan tak mengenakan sama sekali. Mereka juga berkerumun, seolah-olah tidak ada corona,” kata dia.

Dia juga mengomentari orang-orang yang nekat mudik, bahkan sampai menerobos penyekatan. “Yang lebih gila, ada saja orang yang membujuk orang untuk mudik. Padahal kalau sampai Corona merebak lagi, bukan hanya dia yang terancam. Kami pun juga ikut berada dalam posisi berbahaya. Seharusnya orang-orang lebih menghargai nyawa manusia, apapun latarbelakangnya. Jangan sampai korona merebak lagi,” kata dia.

Pendapat senada disampaikan Manajer Batang Dolphin Center, Oktavianus Bagus Wijaya Danu, beberapa waktu lalu. Menurut dia masyarakat sudah jenuh terlalu lama berada di rumah. Karena itu mereka ingin sesekali ke luar rumah, termasuk untuk berwisata.

Masalah muncul karena sebagian anggota masyarakat, memang belum sepenuhnya memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Karena itulah di objek wisata yang dia kelola, imbauan untuk menerapkan protokol kesehatan terus dilakukan.

“Sebagian pengunjung yang terkadang kurang memiliki kesadaran pentingnya disiplin protokol kesehatan. Masyarakat sudah terlalu lama berada di dalam rumah, jadi ketika objek wisata dibuka, mereka berbondong-bondong untuk mencari udara segar, tetapi belum bisa diajak berpikir disiplin protokol kesehatan,” kata dia, seperti dirilis Batangkab.go.id.

Mencegah

Seperti diketahui, demi mencegah penyebaran Covid-19, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya, termasuk mengeluarkan kebijakan larangan mudik.

Penyekatan dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Walaupun demikian ada jutaan orang yang berhasil lolos, termasuk sekitar 1,5 juta orang yang berhasil mudik dari Jakarta.

Data juga menujukkan tak semua pemudik itu bersih dari Covid-19. Polda Metro Jaya mencatat, berdasarkan hasil random swab antigen di 14 pos pemeriksaan, 148 pemudik di DKI Jakarta dinyatakan positif Covid-19. Mereka kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Angka 148 orang itu, sepertinya bakal menjadi fenomena gunung es. Hal itu karena tidak ada jaminan, bahwa mereka sebelumnya tidak menularkan penyakit itu pada orang lain.

Ketika sudah berada di kampung halaman, orang dengan Covid-19 itu bisa saja menulari orang tua, saudara, dan kerabatnya. Demikian pada saat perjalanan, dia juga bisa menulari orang-orang lain.

Karena itu strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah, kemudian adalah dengan kembai menggencarkan tes swab kepada warga masyarakat. Tes semacam ini, bukan hanya dilakukan di Jakarta, melainkan juga daerah-daerah lain di Indonesia.

Seperti yang dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Paguyangan, beberapa waktu lalu. Selain menggelar operasi yustisi di sejumlah pusat keramaian, antara lain di Pasar Grengseng, Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, tim dari Puskesmas Winduaji juga melakukan tes swab antigen secara acak kepada pengunjung pasar.

Tes serupa juga dilakukan di daerah lain, termasuk kepada pengguna jalan dan pengguna angkutan umum.

Selain tes swab, Satgas Covid-19 juga meminta pemudik menjalani karantina mandiri. Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, karantina mandiri perlu dilakukan selama 5 x 24 jam.

Agar karantina mandiri berjalan efektif, Satgas Covid-19 di daerah juga diminta mengoptimalisasi peran pos komando (posko) Covid-19 di tempat tinggal yang bersangkutan.

Posko akan bertugas mendata, melaporkan dan memastikan seluruh pelaku perjalanan melakukan karantina mandiri. Fasilitas kesehatan terdekat juga harus dikoordinasikan, agar jika ada kasus positif Covid-19 dapat dilakukan penanganan.

Menurut Wiku, pemerintah daerah (Pemda) memiliki peran strategis dalam mengendalikan kasus di daerahnya masing-masing. Hal itu karena karakteristik masyarakat Indonesia dengan wilayah kepulauan dan memiliki kepadatan penduduk terbesar keempat di dunia.

Untuk itu dibutuhkan peran aktif dari daerah agar mengimplementasikan kebijakan penanganan Covid-19 yang sudah ditentukan pemerintah pusat.

Dengan sistem pemerintahan yang ter-desentralisasi dan otonomi daerah, peran pemda sangat penting. Karena pemda merupakan bagian dari Satgas Covid-19 di daerah, dan keberhasilan penanganan Covid-19 ditentukan satgas daerah bersama jajaran pemda.

Untuk peran satgas daerah sendiri, telah diatur dalam Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2020, dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 440/5184/SJ yang ditujukan kepada gubernur, bupati walikota. Dalam aturan tersebut memberikan otoritas bagi pemda melakukan langkah mitigasi sesuai karakter geografis dan sosial kemasyarakatan serta budaya.

“Hal ini tidak terlepas dari keunikan yang dimiliki setiap daerah. Oleh karena itu saya meminta kepada satgas dan pemerintah daerah untuk dapat menjalankan kewenangan ini dengan baik agar kasus Covid-19 di daerah dapat ditekan,” lanjut Wiku.

Bagi masyarakat, juga memiliki peran penting mendukung upaya penanganan pemerintah dengan cara mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan, termasuk menjalankan skenario pengendalian sesuai zonasi RT di wilayah masing-masing. Kepatuhan masyarakat merupakan bentuk kontribusi yang penting terhadap efektivitas penanganan yang dilakukan pemerintah.

Sementara itu menurut data Monitoring Kepatuhan Kesehatan Tingkat Nasional yang dikeluarkan Satgas Covid-19 nasional, terlihat tingkat kepatuhan masyarakat untuk memakai masker bervariasi.

Dari data tersebut terlihat, jumlah kabupaten dan kota yang masuk zona tingkat kepatuhan 91 % hingga 100 %, sudah sebanyak 150 kabupaten dan kota atau 45,73 persen.

Untuk kabupaten dan kota dengan tingkat kepatuhan 76 % sampai 90 %, sebanyak 97 wilayah atau 29,57 %.

Untuk kabupaten dan kota dengan tingkat kepatuhan 61 % sampai 75 %, sebanyak 43 wilayah atau 13,11 %. Sisanya Untuk kabupaten dan kota dengan tingkat kepatuhan kurang dari 60 %, sebanyak 38 wilayah atau 11,59 %. (HS-08)

Share This

ASN DPRD Jawa Tengah Turut Kumandangkan Indonesia Raya Saat Hari Kebangkitan Nasional

Presiden Minta Pemda Sigap Respons Fluktuasi Kasus Covid-19