in

Korban Dugaan Penganiayaan di Plantaran, Ternyata Anak Yatim dan Tulang Punggung Keluarga

Rumah duka korban dugaan penganiayaan, di RT 02 RW 07 Desa Plantaran Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Senin (15/8/2022).

HALO KENDAL – Raut sedih terlihat dari wajah Ngatimah (47) warga Desa Plantaran, Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, ibu dari korban Bagus Prasetyo (20) yang ditemukan meninggal dunia tergeletak bersimbah darah, akibat sabetan senjata tajam pada hari Minggu lalu (14/8/2022).

Kepada sejumlah awak media, janda beranak empat tersebut mengungkapkan, korban selama hidup merupakan tulang punggung bagi keluarganya.

Ngatimah menuturkan, pada malam sebelum putranya meninggal, ia masih melihat putranya berkumpul di samping rumah bersama teman-temannya.

“Saya mikirnya anak saya sedang ikut menyiapkan acara jalan santai. Karena Minggu pagi itu ada acara jalan sehat di sini. Anaknya itu perhatian sekali sama keluarga. Kalau kerja ya gajinya disisihkan untul keluarga,” ungkapnya dengan mata berkaca, Senin (15/8/2022).

Ngatimah sendiri mengaku tidak mempunyai firasat atau gelagat aneh apapun sebelum putra keduanya tersebut meninggal dunia.

“Habis belanja setelah salat subuh saya dikabari tetangga saya, katanya anak saya jadi korban begal. Terus saya ditemani saudara saya langsung ke Balkemas Kaliwungu,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Santoso meminta kepada jajaran kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian dugaan penganiayaan yang dialami oleh salah satu warganya hingga meninggal dunia.

Dirinya mengaku geram atas kejadian yang menimpa almarhum Bagus Prasetyo (20) yang ditemukan tergeletak bersimbah darah akibat luka sabetan senjata tajam di kepala dan punggung.

“Saya selaku pengampu di sini gak terima warga saya diperlakukan secara tidak manusiawi. Saya meminta kepada pihak berwajib ini diusut tuntas. Siapa pelaku yang telah tega menganiaya warga kami,” tandas Santoso.

Kades Plantaran juga mengungkapkan, korban sehari-hari dikenal sebagai pemuda yang baik, ramah, dan sopan.

“Korban, anaknya itu baik dan sopan. Biasanya dia nongkrong di posko depan rumah bersama teman-temannya. Kalau ada orang lewat pasti disapa,” ungkap Santoso.

Dirinya mengaku mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat laporan dari salah satu warganya yang akan menunaikan salat subuh. Diduga korban meninggal akibat penganiayaan.

“Katanya ada rombongan motor ramai bawa parang. Saat itu warga akan menunaikan jamaah salat Subuh. Kebetulan masjid dengan lokasi kejadian itu jaraknya dekat. Kemudian ada jemaah yang dengar ada yang teriak minta ampun gitu,” terang Santoso.(HS)

Belajar Kelola Pemerintahan dari Hulu hingga Hilir

Resmikan Puslatkab KONI 2022, Bupati Minta Kendal Masuk 10 Besar di Porprov 2023