Kopi Luwak Liar, Potensi yang Sedang Dikembangkan Pegiat Kopi Desa Kramat, Purbalingga

Foto ilustrasi biji kopi luwak.

 

SEGELAS kopi yang tersaji dengan aroma khas, harus disadari merupakan hasil proses yang tidak singkat. Bukan hanya proses penyajiannya, melainkan juga proses perolehan biji kopi terbaik, pengeringan, proses memasak, hingga penggilingan.

Apalagi bila yang disajikan adalah minuman kopi luwak liar, yakni hasil olahan biji kopi dari sisa kotoran binatang luwak liar di hutan.

- Advertisement -

Meski tak mudah dibuat, nyatanya olahan kopi luwak liar punya banyak peminat, karena rasanya yang berbeda dari olahan kopi pada umumnya. Kopi inilah yang saat ini tengah dikembangkan oleh para pegiat kopi di Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga.

Muhammad Faiz, salah satu pegiat kopi Desa Kramat mengatakan, kopi luwak liar mulai dikembangkan karena harganya yang fantastis dibanding dengan harga biji kopi biasa.

Biji kopinya pun harus dicari hingga ke dalam kawasan hutan, yang banyak ditumbuhi tanaman kopi, di wilayah desanya. Lokasi hutan di Desa Kramat menurutnya cukup asri dan masih banyak dijumpai luwak yang hidup liar, dan mencari makan di area perkebunan kopi milik Perhutani.

“Jadi luwaknya ini bukan luwak peliharaan, tetapi luwak yang masih berkeliaran di dalam hutan. Jadi mencari biji kopi dari kotoran luwaknya pun perlu kesabaran. Kotoran yang diambil dan masih segar, serta tidak bau. Justru wangi seperti aroma pandan,” ujar Faiz seperti ditulis web resmi Pemprov Jateng, jatengprov.go.id, Kamis (13/8/2020).

Ditambahkan, pencarian kotoran luwak liar tidaklah mudah. Faiz harus menelusuri hutan yang masih dipenuhi semak belukar, dan terletak cukup jauh dari permukiman warga. Dia juga harus memetakan lokasi luwak membuang kotorannya, dan pohon-pohon kopi yang sudah berbuah matang.

“Kemampuan luwak ini akan mencari buah kopi yang sudah matang. Tapi memang tidak setiap hari bisa langsung mendapatkan kotoran luwaknya. Harus betul-betul sabar untuk mencarinya,” terang Faiz.

Jumlah kotoran luwak yang bisa dikumpulkan dalam satu hari tak menentu, dan bahkan bisa dikatakan sedikit. Jika sedang beruntung saja, lanjut Faiz, dalam satu bulan jumlah perolehan kotoran luwak hanya berkisar 1-2 kilogram.

Setelah terkumpul, kotoran luwak tersebut lantas dibersihkan, lalu biji kopi yang terkumpul dijemur selama kurang lebih 10 hari sampai bijinya siap dipanggang.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Kabupaten Purbalingga, Budi Susetyono mengatakan, kopi luwak liar olahan pegiat kopi Desa Kramat diharapkan nantinya bisa terus dikembangkan dengan baik.

Apalagi saat ini sudah banyak bermunculan para pecinta kopi bahkan kedai-kedai kopi di wilayah Purbalingga.

“Tentunya ini menjadi peluang yang cukup baik bagi pegiat kopi Desa Kramat, untuk bisa memasarkan dan mengembangkan produk kopi luwak liar agar bisa tembus pasar nasional,” kata Budi.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.