Kopi Kendal Di Mata Tino

Tino Indra Wardono saat menikmati kopi Kendal/dok.

 

KEKAYAAN alam Kabupaten Kendal yang mampu menghasilkan berbagai jenis varian kopi, mulai dari Arabika, Robusta, dan Liberika seharusnya bisa menjadi potensi yang dapat dikembangkan untuk menopang perekonomian masyarakat.

Hal ini yang mendasari pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Kendal, Tino Indra Wardono dan Mustamsikin (TIM) berkomitmen untuk mendukung potensi generasi milenial yang berjiwa kreatif dan inovatif, dengan mengadakan pelatihan barista (peracuk kopi) di Kendal.

“Indonesia menduduki peringkat ketiga penghasil kopi di dunia. Kopi Indonesia juga populer dan digemari di berbagai penjuru dunia,” jelas Tino dalam ngobrol santai, saat dirinya menunggu acara debat Pilkada Kendal putaran kedua, Rabu (2/12/2020).

Menurutnya, kekayaan alam pegunungan di Kendal menyimpan potensi terpendam, yaitu berbagai jenis biji kopi berkualitas, baik Arabika, Liberika, maupun Robusta. Dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia, Kendal merupakan salah satu yang sedang dilirik penikmat dan pegiat kopi. Hal ini dikarenakan kopi Kendal memiliki karakteristik dan cita rasa berbeda dari kopi daerah lain.

“Di kalangan masyarakat pecinta kopi, tidak sedikit yang masih berkeyakinan bahwa nikmatnya rasa kopi tidak semata-mata ditentukan oleh jenis kopi. Akan tetapi dipengaruhi juga oleh kemampuan barista dalam menyedu kopi atau dikenal juga dengan istilah brewing method,” ungkapnya.

Dijelaskan, Indonesia sendiri memiliki brewing method yang unik, yaitu tubruk. Sehingga perpaduan antara biji kopi yang enak dan berkualitas dengan brewing method yang tepat, akan menghasilkan cita rasa kopi yang luar biasa.

Dalam beberapa kesempatan kegiatan pelatihan barista kopi yang diselenggarakan oleh Mochammad Herviano Foundation (MHF) yang dia ikuti, peserta diajarkan bagaimana cara menyedu (brewing) kopi dengan berbagai teknik. Sehingga menghasilkan kopi dengan beragam cita rasa berbeda.

Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu mengembangkan potensi, misalnya dengan membuka warung kopi dan berkolaborasi dengan petani-petani kopi di Kendal.

“Alhamdulillah pasca-pelatihan, sudah ada beberapa warung kopi dan angkringan yang dibuka walaupun kecil-kecilan. Insha-Allah ini bisa menjadi solusi khususnya dalam memulihkan ekonomi pasca pandemi,” tambahnya.

Menurut Tino, Kabupaten Kendal memiliki banyak sekali kebun kopi, dengan produk yang tidak kalah bersaing. Namun sayangnya kopi Kendal masih kalah terkenal dari kopi-kopi daerah lain.

Saat ini, lanjut Tino, pertumbuhan bisnis kedai kopi yang tinggi, akan berdampak positif pada pengembangan potensi kopi asli kendal.

“Dengan banyaknya pelatihan, saya berharap muncul barista-barista milenial yang bisa mengangkat kopi Kendal,” imbuh Tino.

Tino juga menambahkan, tidak semua industri harus dimulai dengan skala besar. Hal yang terpenting adalah meningkatkan kualitas pasca panen kopi serta meningkatkan kemampuan barista milenial Kendal.

“Jika masyarakat mau bergotong-royong menjadikan kopi Kendal sebagai salah satu komoditas unggulan, maka saya yakin hal tersebut dapat mendorong pemulihan perekonomian setelah pandemi Covid-19 ini,” pungkas Tino.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.