in

Komunitas Green Community, Menangkar Kupu-Kupu untuk Selamatkan Jenis Langka

Sejumlah anggota komunitas Green Community melepaskan kupu-kupu jenis Pachleopta aristolochiae di dalam rumah penangkaran setelah keluar dari kepompongnya.

SELAIN keindahannya, dalam ekosistem alam kupu-kupu berperan penting terhadap lingkungan. Sayang, kerusakan lingkungan telah mengancam kelangsungan hidupnya. Sebuah penangkaran kupu-kupu dibuat di lingkungan Kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) di dwilayah Gunungpati Semarang, untuk mengedukasi masyarakat dalam menjaga ekosistem dan habitatnya.

Puluhan kepompong terlihat tertata rapi pada puluhan toples. Satu toples berisi satu kepompong. Di sudut rak meja lain, ulat-ulat sedang makan daun tanaman jenis sirih hutan dalam sebuah toples.

Ulat itu calon kupu-kupu raja (Troides Helena). Kupu-kupu bercorak hitam dan kuning ini termasuk dilindungi di Indonesia. Sebab keberadaanya disebut sering diburu untuk diperjualbelikan untuk diawetkan dan jadi koleksi para kolektor.

Hal tersebut dikatakan Direktur Green Community, Reno Yuriansyah (21) di rumah konservasi kupu-kupu, di kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) di wilayah Gunungpati Semarang, belum lama ini.

“Rumah penangkaran ini tidak menampakkan banyak kupu-kupu. Setiap kita tangkarkan, lantas kita lepas. Jadi kami mencoba mengedukasi masyarakat yang memiliki minat tentang kupu-kupu, seperti ini lho jenis kupu-kupu. Mana yang langka dan yang tidak. Mana yang dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan dengan mengambil di alamnya,” katanya.

Kebetulan terdapat satu kupu-kupu raja dalam rumah berukuran sekitar 10×4 meter dengan tinggi sekitar 8 meter tersebut. Kupu tersebut sedang terbang dan hinggap dari bunga satu ke bunga lainnya.

Biasanya kupu-kupu dilepas di kawasan kampus konservasi tersebut. Lingkungan di kampus Unnes masih cukup terjaga dengan banyaknya pohon-pohon besar.

Selain menangkarkan kupu-kupu, komunitas yang didirikan oleh para mahasiswa jurusan biologi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) sejak 2018 itu, juga menanam tanaman inang sebagai makanan ulat dan kupu-kupu.

“Untuk makan ulat ini ada jenis sirih hutan. Lalu untuk tanaman bebungaan ada bunga pagoda, dan calotropis. Kupu-kupu banyak ambil madu dari bunga pagoda, dan calotropis. Sementara ulatnya makan daun sirih hutan,” katanya.

Wahyu Nilam Cahyati (21), anggota komunitas menambahkan, banyak hal yang harus dipelajari dalam menangkarkan kupu-kupu. Apalagi proses dari telur, menjadi ulat, dan kupu-kupu butuh waktu sampai 28 hari.

“Harus sangat hati-hati. Misalnya ini kepompong banyak yang gagal dan mati,” katanya.

Dia pun menunjukkan jenis kupu-kupu Pachliopta Aristolochiae yang bercorak hitam dan merah. Ada satu yang baru berubah menjadi kupu-kupu. Sehingga tubuhnya masih lunak dan belum bisa terbang baik. Lantas masih akan menempel pada kandang atau daun.

Sementara itu, pengajar di jurusan Biologi, FMIPA Unnes, Margareta menjelaskan, beberapa kegiatan dari komunitas tersebut salah satunya menghitung jenis kupu-kupu di habitatnya sekitar Unnes.

“Sekarang ada sekitar 60 spesies. Tapi setiap tahun kami memantau lagi jumlahnya. Sampai Maret 2019 ini ada 35 spesies yang sudah tercatat. Setiap tahun memang dilakukan monitoring,” jelasnya.

Dia berharap penangkaran kupu-kupu bisa menjadi edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak sejak usia dini.(HS)

PSIS Pastikan, Gelandang Asal Korea dan Brasil akan Datang Pekan Depan

Disinyalir Ada Kebocoran, Realisasi Pendapatan Parkir Jauh dari Harapan