in

“Komunikasi” dengan Keris ala Mbah Mulyono

Mulyono, penjual jasa cuci keris atau jamasan pusaka, asal Desa Todanan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, mempertunjukkan atraksi dalam menayuh keris. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Penjual jasa mencuci keris atau benda pusaka, kembali muncul pada bulan Suro di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Salah satunya adalah Mulyono (64), penjual jasa cuci keris atau jamasan pusaka, asal Desa Todanan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Seperti tahun sebelumnya, Mulyono mangkal di trotoar eks stasiun kereta api Blora. Duduk di atas tikar plastik dengan sejumlah piranti untuk mencuci keris.

“Saya mulai mangkal di sini, Selasa (10/8) lalu. Tetap patuh protokol kesehatan. Kalau jasa cuci keris atau jamas pusaka, masih sama seperti tahun lalu,” kata dia, Rabu (11/8), seperti dirilis Blorakab.go.id.

Sejumlah keris pusaka miliknya juga dibawa. Dalam melakukan pekerjaannya itu, Mulyono juga menunjukkan atraksi “berkomunikasi” dengan keris pusaka miliknya.

“Ini saya akan menayuh keris. Tayuh itu tanya atau komunikasi,” ucapnya.

Keris pusaka yang dibawanya kemudian dikeluarkan dari warangka (sarung keris). Mulyono lalu mengambil setutas benang dan mengikatnya di bagian atas (pegangan keris).

Selanjutnya, ujung keris itu ditaruh atau ditempelkan pada sebuah alas (batu), tangannya menarik benang seakan menggantung keris, namun tidak sampai terangkat. Ujung keris masih menempel di alas.

Sebelumnya, Mulyono terlebih dahulu mengucapkan mantra agar kekuatan gaib yang dipercaya ada di dalam keris dapat diajak berkomunikasi.

“Saya akan ajukan beberapa pertanyan, kalau keris memutar ke kanan berarti iya, kalau memutar ke kiri berarti tidak,” kata dia.

Atraksi Mulyono itu pun memikat para warga yang akan menggunakan jasanya mencuci pusaka.

“Saya tanya, apakah keris saya itu dibuat pada masa Sam Po Kong. Kalau iya akan berputar ke kanan, kalau tidak beputar ke kiri,” kata dia.

Ketika kemudian keris miliknya berputar ke kanan, Mulyono meyakini bahwa dia sudah mendapat jawaban “ya”.

Lepas dari menayuh keris, Mulyono mengatakan jasa cuci keris, tombak dan benda pusaka lainnya berkisar antara Rp.15.000,00 hingga Rp20.000,00 per bilah.

Dirinya menyadari, di tengah wabah Covid-19, banyak warga yang terdampak, termasuk para pemilik benda peninggalan nenek moyang atau koleksi pribadi.

“Jadi saya tidak naikkan jasa, tetap seperti tahun lalu,” kata dia.

Meski demikian, katanya, jasa cuci yang dibuka di lantai eks stasiun kereta api Blora tiap bulan Suro masih didatangi warga yang memiliki aneka jenis keris atau tombak peninggalan.

“Masih ada yang datang, mungkin karena sudah langganan setiap tahun, ini saja sudah enam keris,” ujarnya.

Mulyono juga menyadari, jasa yang dibuka tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab, kali ini harus patuh menerapkan protokol kesehatan sebagaimana ketentuan pemerintah.

“Saya tidak keliling. Cukup mangkal di sini saja, pakai masker dan menyediakan hand sanitizer. Bagi para pelanggan biasanya menghubungi saya lewat handphone. Mereka menanyakan buka atau tidak, setelah saya jawab buka, mereka datang membawa keris,”imbuhnya.

Proses cuci keris bisa ditunggu lebih kurang dua jam, tergantung jenis dan kotoran yang menempel pada keris atau benda pusaka lainnya.

Dengan penampilan mengenakan baju lurik, blangkon dan memakai masker, Mulyono menjadi perhatian warga yang melintas. Sesekali, ia juga menunjukkan kebolehannya mendirikan keris setelah atau sebelum dibersihkan.

“Ya, alhamdulillah, bulan Suro mendatangkan rejeki untuk saya meskipun dalam situasi pandemi Covid-19,” lanjutnya.

Ia mengaku, sudah mulai belajar mencuci keris sejak umur 10 tahun dari almarhum Reso Saji, ayahnya.

“Sejak umur 10 tahun saya ikut  Bapak keliling, memikul kentongan dan membantu kerja seperti yang diperitahkan oleh almarhum bapak saya. Akhirnya saya tahu dan meneruskan profesinya,” tambahnya.

Untuk mencuci sebilah keris, tampaknya cukup mudah. Bilah keris disikat menggunakan cairan jeruk nipis, sabun colek dan lerak. Setelah dibilas dengan air bersih, selanjutnya bilah keris dijemur hingga kering. Pada tahap akhir, bilah keris direndam dengan larutan khusus untuk memunculkan pamor keris.

Ia juga berharap, agar wabah Covid-19 ini segera sirna sehingga kehidupan berjalan seperti sebelumnya.

“Kalau semua warga bersama-sama patuh protokol kesehatan. InsyaAllah Corona bisa dikendalikan dan kita semua aman,” ujarnya.

Sementara itu Angga, warga Desa Sumberagung Kecamatan Banjarejo, mengatakan, setiap bulan Suro dirinya selalu mencuci benda pusaka peninggalan oang tuanya.

“Setiap bulan Suro, benda peninggalan dari orang tua selalu saya bersihkan. Ini ada beberapa benda, ada sejumlah keris. Benda ini sudah turun temurun, dari Simbah dan Bapak, satu lagi keris milik saya,” kata dia.

Dikatakannya, sejumlah benda peninggalan yang dimiliki beberapa kali ditawar akan dibeli oleh kolektor benda pusaka.

“Hanya saja tidak kami jual, sebab ini peninggalan. Benda ini kami percaya memiliki aura kedamaian dan menolak energi jahat,” ujarnya.

Apabila tidak dirawat, kata dia, isi yang ada di dalam benda pusaka tersebut akan pudar  atau hilang sama sekali, dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa.

“Terlepas dari itu, kami percaya pada kuasa Tuhan. Saya menilai benda peninggalan ini sebagai salah satu karya seni leluhur yang harus dirawat dan dilestarikan,” jelasnya. (HS-08).

Share This

Kwarcab Banyumas Berpeluang Raih Enam Anugerah Kehumasan Pandu Citraloka

5 Keluarga Korban Kebakaran Rumah Terima Bantuan dari Baznas Blora