Kolaborasi dengan Solo, Yogyakarta, dan Rembang, Pekalongan Siapkan Paket Wisata Batik

Beberapa turis melihat motif batik Pekalongan.

 

HALO PEKALONGAN – Wisata Budaya Batik Kota Pekalongan bakal dikembangkan untuk diangkat ke level nasional, melalui paket pola perjalanan wisata batik yang dirancang oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI).

Paket wisata ini nantinya akan dikoneksikan dengan tiga daerah penghasil batik lainnya, yakni Yogyakarta, Solo, dan Rembang.

Hal ini disambut positif oleh Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan dan Penggiat batik yang ada di Kota Pekalongan.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan, Sutarno mengatakan, belum lama ini Kemenparekraf RI melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Pola Perjalanan Wisata Batik bersama Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan.

Digelarnya FGD, dimaksudkan untuk menyusun pola perjalanan wisata dalam memunculkan beberapa daya tarik wisata yang baru, namun berfokus pada tema. Salah satunya memasukan wisata batik Kota Pekalongan ke dalam pola perjalanan wisata batik.

“Kemarin saat FGD, dari Direktorat Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf RI, sangat mengapresi batik asli Pekalongan yang kian maju,” terangnya, Kamis (8/10/2020).

Sehingga, lanjut Sutarno, hal ini mampu dan berpotensi untuk dikembangkan ke level nasional, bahkan mancanegara. Program ini tentunya akan dilaksanakan bersama oleh tiga daerah penghasil batik lainnya, Yogyakarta, Solo, dan Rembang untuk dijadikan satu paket wisata perjalanan batik.

“Kota Pekalongan sendiri memang sudah tidak diragukan lagi dalam hal wisata budaya. Sebab, selain tersohor akan budaya batiknya, Pekalongan juga sudah diakui sebagai Kota Kreatif Dunia, sehingga sangat berpotensi diangkat ke level nasional,” ungkapnya.

Dikatakan, batik sendiri sudah menjadi sumber penghidupan masyarakat Kota Pekalongan sejak zaman dulu. Bahkan Pemerintah Kota Pekalongan juga terus melakukan upaya-upaya untuk mendukung eksistensi batik asli Pekalongan ini agar tetap ada.

“Masyarakat Kota Pekalongan memang hidup dari batik. Hampir seluruh masyarakatnya hidup dari usaha ini. Maka dari itu, langkah dari Kemenparekraf ini sangat bagus dan kami dukung agar batik Pekalongan ini bisa semakin maju dan dikenal banyak orang,” jelasnya.

Terpisah, pelaku industri batik, Romi Okta Birawa mengatakan, Kota Pekalongan telah dikenal sebagai World’s City of Batik atau Kota Batik Dunia. Dirinya berharap, di samping membangun branding city tersebut, ke depan juga harus membangun mitos dari batik itu sendiri.

“Kami berharap ke depan masyarakat Indonesia lebih peka dan cinta batik. Sebab batik tak sekadar pakaian atau kain, tetapi juga memiliki nilai-nilai filosofi hidup. Kita tidak cukup akan kebanggan terhadap batik ini yang sudah diakui dunia, tetapi ada potensi yang terpendam di dalam batik,” ungkapnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.