in

KN 3 Bengkel Pandai Besi Melegenda di Kota Semarang yang Nyaris Terlupakan

Juyono saat melakukan rutinitasnya mengolah besi untuk dijadikan golok.

 

KEBERADAAN pandai besi di beberapa daerah nyaris tenggelam oleh ekspansi hasil buatan pabrik. Di Kota Semarang, profesi penempaan besi maupun baja tersebut masih digeluti oleh Juyono, warga Kaligetas, Kelurahan Jatibarang, RT V RW I, Kecamatan Mijen.

Di bengkel pandai besinya, Juyono akrab dengan suara logam berdentang dan bara api untuk memanaskan serba-serbi piranti dapur, pertanian, dan perkebunan.

Sehari-hari, ia tetap merampungkan pekerjaan yang diterima secara turun-temurun itu. Besi maupun baja selalu ada untuk dipanaskan, ditempa dengan godam, begitu terus ia lakukan hingga menjadi alat yang tajam untuk digunakan.

“Ini aktivitas saya sehari-hari, menajamkan kembali alat-alat pertanian yang sudah tumpul dan berkarat,” katanya, Senin (23/8/2021).

Juyono menasbihkan dirinya menjadi pandai besi saat masih berusia 17 tahun, sekitar tahun 1970. Keahlian yang ia dapat merupakan bekal penting untuk dapat bekerja dan mencukupi kebutuhan keluarga, serta dapat terus turun-temurun diwariskan. Kini ia telah menyalurkan warisan ilmu pandai besinya kepada dua anaknya.

“Sekitar tahun 1970 sudah mulai jadi pemandai besi, diajari bapak saya. Saya juga sedang mewariskan keahlian pandai besi kepada kedua anak saya,” ujar anak sulung dari sembilan bersaudara itu.

Ia menuturkan, tidak hanya membuka jasa sevis penajam saja, namun ia juga membentuk peralatan seperti cangkul, sabit, golok, kapak, pisau dan menerima pesanan khusus. Barang yang Juyono buat diberi nama KN 3.

“Sebagai penanda, bahwa alat ini buatan saya. Biar tidak diakui oleh orang lain,” tutur sembari menunjukkan penanda KN3 di sabit buatannya.

Merek KN 3, ia menjelaskan, merupakan kependekan dari Karimen tiga. Karimen adalah nama almarhum sang ayah, sedangkan tiga bermakna dirinya sebagai generasi ketiga.

“Karimen itu nama almarhum bapak saya generasi pertama yang berprofesi Pemande Besi di sini. Sedangkan angka tiga merupakan tanda generasi penerus. Jadi saya merupakan generasi ke tiga dari Pak Karimen, yang jadi pemande besi,” terang ayah empat anak ini.

Ia menyebut, para pelanggannya bervariasi. Tidak hanya dari dalam kota, dari luar kota seperti Temanggung, Kendal, dan Kabupaten Semarang.

“Dari sekitar sini juga dari Limbangan Kendal, Temanggung, Ungaran, Karangjati. Biasanya mereka servis, khususnya pada saat menjelang hari raya kurban, pasti ramai, servis pisau, golok, kapak kecil,” paparnya.

Untuk jasa penajaman alat yang sudah tumpul atau berkarat, ia menentukan tarif yang bervariasi, tergantung kondisi alatnya.

“Kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Kalau dirombak dari awal sekitar Rp 50 ribu,” beber pria kelahiran 1962 itu.

Dalam sehari, ia dapat memproduksi 10 alat. Perkakas buatannya seperti sabit, ia menjualnya berkisar Rp 75 ribu hingga Rp 125 ribu. Cangkul Rp 400 ribu, dan kapak Rp 150 ribu. Ia menyebut, harga tersebut terbilang terjangkau untuk alat buatan dari pandai besi tradisional.

“Mulai dari pagi hingga sore, sebanyak sepuluh alat baru jenis berbeda-beda bisa saya buat sendirian,” tandanya.(HS)

Share This

Perpisahan KKN, Mahasiswa dan Warga Botorejo Demak Tanam Pohon Bersama

Hebat, Alarm Kebakaran Hutan Buatan Mahasiswa USM Sabet Perunggu di Ajang Internasional