in

Klater Tarawih Kembali Muncul, DMI Jateng Minta Patuhi Prokes Ketat

Presiden Joko Widodo melaksanakan ibadah Salat Tarawih di Masjid Jenderal Besar Soedirman, komplek Museum Peta, Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarahad), Bogor Tengah, Kota Bogor, Minggu (05/05/2019). (dok/kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Munculnya klaster-klaster Salat Tarawih baru-baru ini, menuntut masyarakat lebih memperhatikan penerapan protokol kesehatan. Klaster Salat Tarawih di Jawa Tengah, ditemukan di Kabupaten Sragen, Banyumas, Purbalingga, dan Pati.

Menanggapi itu, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah akan terus memantau ihwal protokol kesehatan Covid-19 di masjid-masjid. Upaya itu dilakukan, untuk menekan penyebaran Covid-19.

Demikian diungkapkan oleh Sekretaris Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah, Dr KH Multazam, Selasa (11/5/2021).

“Setelah ada klaster, kita tetap waspada ke depan,” ungkap Multazam kepada halosemarang.id.

Multazam klaim, sosialisasi untuk protokol kesehatan di masjid-masjid dan musala telah dilakukan. Bahkan tidak henti-hentinya juga disampaikan melalui ceramah dan khotbah.

“Untuk klaster-klaster yang ada di Jawa Tengah, kita sudah mengimbau tetap mempergunakan protokol kesehatan yang ketat,” imbuhnya.

Menurutnya, pada daerah yang ditemukan adanya klaster Salat Tarawih, untuk sementara ini pelaksanaan ibadah salat berjamaah di masjid dilarang terlebih dulu. Masyarakat diminta untuk melakukan ibadah salat di rumah saja.

“Mungkin Banyumas, Pati, dan yang lainnya itu ada yang distop untuk tidak salat di masjid, barangkali untuk memotong rantai pengembangan Covid-19 ini,” ujar Multazam.

Dikatakan Multazam, sesuai aturan Kementerian Agama RI yang tertuang dalam Surat Edaran No SE 07 tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Salat Idul Fitri Tahun 1442 H/2021 M di saat Pandemi Covid, pelaksanaan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 M pada daerah yang mengalami tingkat risiko penyebaran Covid-19 tergolong tinggi (zona merah dan zona oranye) supaya dilakukan di rumah masing-masing.

Akan tetapi, meskipun surat edaran tersebut sudah disampaikan kepada masyarakat, dirinya tidak mengelak jika ditemukan adanya temuan-temuan yang tidak mengindahkan edaran tersebut.

“Kemarin sudah sesuai dengan surat yang disampaikan sama Menteri Agama, pada daerah zona merah dilarang. Tapi kadang untuk saat ini, orang sudah tidak perduli, zona merah, kuning, hijau,” katanya.

Pelaksanaan Salat Idul Fitri, lanjutnya, dapat diselenggarakan pada daerah yang memiliki tingkat risiko penyebaran Covid-19 tergolong rendah (zona kuning dan hijau) berdasarkan yang telah ditetapkan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Salat dilakukan di masjid dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Salat Id di masjid, karena untuk mempermudah memantau kemudian mengontrol dari kesehatan dari pada di lapangan,” tambah Multazam.

Multazam menegaskan kepada semua pihak agar patuh terhadap seluruh kebijakan dari pemerintah demi memberantas pandemi Covid-19.

“Marilah kita bersama-sama untuk salat yang baik, khusyuk. Saya mengimbau kepada takmir-takmir untuk tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat,” tandasnya.(HS)

Share This

Garuda Select Akan Menghadapi Manchester City Youth Di Laga Uji Coba

Drainase Jalan Depok Mulai Ditutup Beton