in

Kisah Semarang Sebagai Kota Perdagangan yang Pernah Berjaya di Era Kolonial Belanda

Foto ilustrasi: Sketsa Kota Tua peninggalan masa kolonial Hindia Belanda.

KOTA SEMARANG dikenal sebagai pusat perdagangan dan kota jasa. Kota yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa ini memiliki sejarah yang panjang dan kaya sebagai kota perdagangan yang berjaya. Sejak abad ke-15, Kota Semarang telah menjadi pusat perdagangan yang penting di wilayah Nusantara.

Salah satu bukti bahwa kawan ini pernah menjadi pusat ekonomi pulau Jawa di era kolonial Belanda, adanya kota tua yang kini disebut sebagai Kota Lama Semarang.

Kawasan Kota Lama Semarang yang mencakup perkampungan Belanda, Pecinan, Arab, dan Kauman ini merupakan sebuah kawasan di pusat Kota Semarang yang menjadi tempat perdagangan pada abad 15-20, karena letaknya di sekitar pelabuhan laut dan sungai di pusat Kota Semarang. Kawasan ini adalah pusat perdagangan dan bisnis yang strategis.

Kota Semarang, yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa, juga memiliki sejarah yang panjang dan kaya sebagai kota perdagangan yang berjaya. Sejak abad ke-15, Kota Semarang telah menjadi pusat perdagangan yang penting di wilayah Nusantara.

Sejarah perdagangan Kota Semarang dimulai pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram pada abad ke-15. Pada masa itu, Semarang telah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang meliputi cengkeh, pala, dan lada. Para pedagang dari Tiongkok, India, Arab, dan Belanda datang ke Semarang untuk melakukan perdagangan dengan kerajaan tersebut.

Semarang, yang merupakan kota pelabuhan berbasis ekonomi perdagangan, membuat VOC tertarik untuk menguasainya, bersama dengan pelabuhan-pelabuhan lain di sepanjang pesisir utara Jawa.

Pada abad ke-17, Semarang menjadi tujuan utama para pedagang Belanda. Mereka membangun pelabuhan dan gudang-gudang di daerah tersebut. Selama masa penjajahan Belanda, Semarang menjadi pusat kegiatan perdagangan dan administrasi kolonial. Perusahaan dagang Belanda membuka kantor dan membangun bangunan bersejarah di Semarang, seperti Lawang Sewu dan Gedung Gereja Blenduk, yang menjadi simbol kejayaan perdagangan pada masa itu.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kota Semarang tetap mempertahankan posisinya sebagai pusat perdagangan yang penting di Indonesia. Pemerintah Indonesia terus mengembangkan infrastruktur dan fasilitas perdagangan di kota ini. Semarang juga menjadi salah satu kota yang termasuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia, yang memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan dan investasi.

Pasar tradisional juga menjadi daya tarik unik Kota Semarang sebagai kota perdagangan. Pasar-pasar tradisional yang tersebar di berbagai kawasan menjual berbagai barang, mulai dari hasil pertanian, kerajinan tangan, tekstil, hingga barang elektronik. Pasar-pasar tradisional ini menciptakan atmosfer yang hidup dan menjadi tempat pertemuan pedagang lokal dan wisatawan, memperkuat citra Semarang sebagai kota perdagangan yang ramai.

Hingga abad ke-19 dan ke-20, Kota Lama masih menjadi pusat perdagangan di mana banyak pedagang China dan Arab yang berdatangan. Pusat keramaian sedikit bergeser dari kawasan Kota Lama Semarang ke sekitar Pasar Johar dan alun-alun Masjid Kauman, Kecamatan Semarang Tengah.

Dalam perkembangan modernnya, Semarang juga telah menjadi tujuan wisata bisnis dan belanja yang populer. Mal-mal modern dan pusat perbelanjaan modern telah tumbuh pesat di kota ini, menawarkan berbagai barang dan merek terkenal. Semarang juga menjadi tujuan wisata budaya dengan adanya bangunan bersejarah, seperti Lawang Sewu dan Kota Lama, yang menarik banyak wisatawan.

Secara keseluruhan, sejarah panjang Kota Semarang sebagai kota perdagangan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi dan budaya kota ini. Dengan lokasinya yang strategis, infrastruktur perdagangan yang baik, dan peran pentingnya dalam sejarah perdagangan di Indonesia, Semarang terus menjadi salah satu kota perdagangan yang penting dan berjaya di Indonesia.

Genjot Investasi

Saat ini, di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, berusaha untuk menggenjot target investasi. Sejumlah upaya pun terus dilakukan, seperti mempermudah dan mempercepat proses perizinan. Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu menegaskan, jika banyak investasi yang masuk, tentunya akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Kota Semarang. Selain itu, juga dapat menekan angka pengangguran, karena peluang kerja semakin banyak. Hal ini sejalan dengan visi-misi Kota Semarang, yang ingin menekan angka kemiskinan dan pengangguran. Meski begitu, dirinya tetap menekankan pentingnya patuh pada regulasi meski memberikan banyak kemudahan untuk ivestor masuk.

Ia mengungkapkan, jika Kota Semarang adalah wilayah strategis yang terintergrasi dengan bandara, pelabuhan, stasiun kereta api, dan tol. Dirinya menyebut jika ini adalah salah satu kunci banyaknya investor yang masuk ke Kota Semarang.

Kesempatan inilah, kata Mbak Ita, yang akan dimanfaatkan di samping terus melakukan pembangunan serta pelayanan yang mudah dan cepat untuk para investor.

“Kita tangkap peluang ini, kita permudah investasi, permudah pelayanannya,” paparnya.(HS)

Prakiraan Cuaca Semarang dan Sekitarnya, Sabtu (22/6/2024)

Profesi Service Payung: Sebuah Kisah yang Mulai Langka di Kota Semarang